Jumat, 27 Januari 2012

Film “Kita Versus Korupsi”.







Ruang keluarga sangat penting untuk menanamkan moralitas. Maka jangan heran, jika banyak pihak yang tidak suka Indonesia maju dengan menghajar ruang-ruang keluarga. Bisa lewat hiburan budaya pop seperti musik, film, dan televisi serta teknologi internet atau hanphone.

Memecah keutuhan keluarga dengan mengikis rasa hormat anak pada orang tua. Berbohong kepada keluarga. Atau memecah kesetiaan suami isteri dengan menganggap enteng perselingkuhan, bahkan menganggap sepele soal perceraian. Ruang keluarga dibikin hancur tak terkendali.

“Keluarga merupakan basis moral utama, lewat film ini kami ingin membangun semangat memerangi korupsi. Berawal dari keluarga,”, ujar pejabat KPK.

Kamis, 26 Januari 2012, KOMPAK (Komunitas Perpustakaan Anti Korupsi) ikut menyaksikan pemutaran perdana film Kita Versus Korupsi di Djakarta Theater, Jakarta Pusat. Sejak sore hari, suasana sudah ramai oleh jurnalis dan para artis pendukung film, pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), produser film. TI, MSI dan USAID. Film Kita Versus Korupsi merupakan rangkaian 4 film pendek yang melibatkan masyarakat dalam ide ceritanya.

Film Kita Versus Korupsi (KVK) membidik ruang-ruang keluarga. Membangun mentalitas sehat anti korupsi. Memangkas kebiasaan mencari keuntungan pribadi dengan menyalahgunakan wewenang. Film ini merupakan gerakan dalam memerangi mentalitas cari jalan pintas. Mentalitas adalah akar rumput korupsi. Korupsi menyengsarakan rakyat, kemiskinan, bahkan kedangkalan moral.

Film "Kita Versus KPK" merupakan gabungan empat film pendek berjudul "Rumah Perkara", "Aku Padamu", "Selamat Siang, Risa!" dan "Psstt... Jangan Bilang Siapa-Siapa" yang masing-masing bercerita mengenai korupsi 'kecil' di masyarakat.

Film pertama berkisah tentang seorang Lurah yang telah menjabat atas dukungan masyarakat. Sebelum menjabat dia berjanji untuk mensejahterakan rakyatnya. Tapi ektika sudah menjabat, justru dia menyengsarakan rakyat pendukungnya dengan mengusir mereka dengan menjual lahan-lahannya kepada pengembang untuk dijadikan komplek perumahan dan sport center. Bahkan, diapun berselingkuh dengan janda. Sang lurah pun tak kuasa menepati janji untuk melindunginya dari keserakahan pengembang.

Film kedua berjudul “Aku Padamu”, bercerita tentang sepasang kekasih yang ingin melakukan kawin lari dengan mendatangi KUA. Tapi terhambat karena tidak memiliki kartu keluarga. Sang pemudapun mencoba menyogok pejabat KUA yang menawarkan jasa jalan pintas. Tapi pasangannya menolak dengan mengatakan bahwa “sama saja menyogok dengan Tuhan”. Dan dia teringat kisah tentang guru sekolahnya waktu kecil. Seorang guru yang harus berhenti menjadi guru honorer karena menolak untuk membayar guna menjadi guru tetap. Hingga akhirnya dia meninggal.

Film lainnya adalah “Selamat siang Risa!” . Film ini mengambil setting tahun 1970an. Berkisah tentang seorang penjaga gudang yang menolak untuk menyewakan gudangnya untuk penimbunan beras milik cukong beras. Meskipun dia ditawari bergepok-gepok uang dihadapannya. Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga yang coba membantu biaya pengobatan anaknya dengan menjadi penjahit.

Film terakhir berjudul "Psssttt... Jangan Bilang Siapa-Siapa". Kisah tentang 3 pelajar putri SMA yang berpandangan beda tentang masalah mendapat uang. Seorang dari mereka dengan mudah mendapatkan uang dari bapaknya untuk membeli buku yang ternyata didukung oleh mamanya dengan meminta uang lebih dari harga buku. Seorang yang lain mendapatkan uang dengan membantu gurunya dan kepala sekolah menjual buku paket sekolah kepada teman-temannya dan dia mendapat komisi. Sedangkan yang satunya, dia menabung hingga setahun untuk membeli kamera yang dia idam-idamkan.

Film ini hanyalah sekelumit contoh kecil korupsi yang ada disekitar kita, dari yang paling kecil yaitu keluarga.

Kalau saja para koruptor datang menonton film ini. mungkin dia akan berujar, “Gila nih film…Gue Bangettt…!!!”

(wonk)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Salah mas... kalau koruptor nonton film ini, justru kruptor itu bilang "ini film apaan sih?" karena mereka ngga ngerti.. hahaha.. kalau koruptor merasa tersindir atau tersentil liat film ini, mereka bakal diam dan sadar kalau yg mereka lakukan itu salah. :D

Anonim mengatakan...

mungkin aja emang ada yg nonton tuh para koruptor, makanya dia akan bilang sialan nih film kenapa artisnya bukan gw aja, kan pas banget ceritanya sama yg gw lakukan ...ha...haaa

Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, jurnal serta mainan-mainan edukatif atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.
Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 43 RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709 / 081281638423



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank Mandiri, No Rek:126-00-0601313-9, A/N Neli Siswanti, KCP Ampera Raya, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonk_yudy@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)