Launching Kampung Literasi Manggarai

Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Meresmikan Kampung Literasi Manggarai Jakarta

Mural Kampung Literasi

Sejumlah Remaja Membuat Mural Literasi di Menara Air, Manggarai-Jakarta Selatan

Pojok Baca Manggarai

Pojok Baca RW 01 Manggarai di Di Datangi Gubernur DKI Jakarta

Pembukaan Pojok Baca RW. 06 Manggarai

Gubernur DKI Jakarta Meresmikan Pojok Baca RW.06 Manggarai

Anggota DPR Kunjungi Kampung Literasi Manggarai

Anggota DPR RI dari Partai Golkar Melakukan Foto Bersama Anak-Anak Binaan Kampung LIterasi Manggarai

Jumat, 11 September 2026

Ketika Duta Baca Turun ke Taman Baca


Sabtu pagi, 5 September 2026, menjadi salah satu hari yang akan kami ingat di Rumah Baca Zhaffa.

Hari itu, sekitar 30 anak berkumpul. Mereka datang dengan rasa ingin tahu, seperti biasanya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Hari itu, mereka kedatangan seorang tamu yang mungkin sebelumnya hanya mereka kenal dari cerita: Duta Baca Provinsi DKI Jakarta 2026.

Namanya Aisha Putri Safrianty, Mahasiswi Jurusan Ilmu Kesejahteraan  Sosial Universitas Indonesia yang baru saja terpilih. Hari itu, ia tidak datang sekadar untuk berkunjung. Ia datang untuk menjalankan perannya.

Rumah Baca Zhaffa menjadi salah satu titik dalam program pemberdayaan Duta Baca yang didukung oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi DKI Jakarta. 

Bagi kami, program ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah agenda kegiatan. Sebab, ketika seorang Duta Baca mau datang ke taman bacaan, duduk bersama anak-anak, membaca cerita, bermain, dan bercengkerama dengan mereka, sesungguhnya sedang terjadi sesuatu yang sangat penting. Literasi sedang didekatkan kepada anak-anak.

Selama ini, taman bacaan adalah ruang yang tumbuh dari masyarakat. Kami hadir, membuka pintu, menyediakan buku, membuat kegiatan, dan menemani anak-anak belajar. Namun ada kalanya kami bertanya dalam hati, apakah keberadaan taman bacaan ini benar-benar terlihat? Apakah ada yang tahu bahwa ada begitu banyak orang yang bekerja untuk membuat anak-anak dekat dengan buku dan pengetahuan? Kehadiran seorang Duta Baca di taman bacaan seperti menjawab pertanyaan itu. 

Hari itu, Aisha, yang pernah juga menjadi terbaik II Putri Duta Bahasa Provinsi DKI Jakarta tahun 2024 dan Juara 1 Mahasiswi  Berprestasi Utama FISIP UI 2025 ini membacakan cerita di hadapan anak-anak. Bukan dengan suasana yang kaku, bukan pula seperti sedang memberikan ceramah. Ia membacakan cerita dengan ceria, mengajak anak-anak berinteraksi, menyelipkan pertanyaan-pertanyaan ringan, dan membuat mereka merasa menjadi bagian dari cerita. Anak-anak tertawa. Mereka menjawab. Mereka berebut ingin ikut berbicara. Dan untuk sesaat, buku bukan lagi sesuatu yang hanya tersimpan di rak. Buku menjadi sebuah pengalaman.

Di kesempatan lain, Aisha juga membawa permainan tradisional tapak gunung melalui sebuah banner permainan. Anak-anak langsung antusias. Mereka mencoba, bermain, tertawa, dan saling menyemangati.

Tidak ada jarak antara seorang Duta Baca dan anak-anak. Yang ada hanyalah sebuah ruang kecil, anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, buku, permainan, dan seseorang yang datang membawa pesan bahwa membaca itu menyenangkan. Bagi kami sebagai pengelola Rumah Baca Zhaffa, justru di situlah makna kunjungan ini terasa begitu dalam.

Hari itu bukan hanya tentang bagaimana membuat 30 anak senang. Hari itu juga tentang bagaimana anak-anak mulai mengenal bahwa ada seorang Duta Baca yang peduli kepada mereka, peduli kepada buku, dan mau datang ke ruang-ruang kecil tempat anak-anak belajar. Karena menjadi Duta Baca, menurut kami, bukan hanya tentang gelar, selempang, atau panggung-panggung besar. Ada makna yang lebih sederhana, tetapi jauh lebih penting:  

turun.

Turun ke taman bacaan.

Turun menemui anak-anak.

Duduk bersama mereka.

Membacakan cerita.

Bermain bersama.

Mendengarkan suara mereka.

Dan melihat langsung bagaimana literasi tumbuh dari ruang-ruang kecil di tengah masyarakat.

Kami percaya, keberadaan Duta Baca akan sangat berarti ketika ia menjadi bagian dari ekosistem literasi yang sudah tumbuh di masyarakat. Taman bacaan bukan hanya tempat yang membutuhkan buku. Taman bacaan juga membutuhkan kehadiran, perhatian, jejaring, dan teladan. 

Dan ketika seorang Duta Baca memilih untuk mendekat kepada taman bacaan, bagi kami itu adalah sebuah pencapaian tersendiri.

Sebab, keberhasilan seorang Duta Baca mungkin bukan hanya diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dari seberapa banyak anak yang akhirnya merasa bahwa membaca adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.

Hari itu, mungkin Aisha hanya menghabiskan beberapa jam bersama kami.

Tetapi bagi anak-anak, bisa jadi pertemuan itu akan tinggal lebih lama.

Mereka akan pulang dengan cerita tentang seorang kakak bernama Aisha.

Tentang seseorang yang datang membawa buku.

Tentang permainan tapak gunung.

Tentang cerita yang dibacakan dengan ceria.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika mereka melihat buku atau mendengar kata Duta Baca, mereka akan teringat:

“Pernah ada seorang Duta Baca yang datang ke Rumah Baca Zhaffa dan membaca cerita bersama kami.”

Dan bagi kami, itulah inspirasi yang sesungguhnya.

Bukan sekadar membuat anak-anak bahagia hari itu, tetapi menanamkan sebuah kesan bahwa membaca adalah sesuatu yang layak dirayakan, dan mereka adalah bagian penting dari gerakan literasi.

Terima kasih, Aisha Putri, telah memilih untuk datang dan mendekat kepada taman bacaan.

Terima kasih telah hadir bukan hanya sebagai Duta Baca, tetapi sebagai seorang kakak yang mau duduk bersama anak-anak. Semoga langkah kecil di Rumah Baca Zhaffa ini menjadi awal dari semakin banyak langkah. Dari taman bacaan ke taman bacaan. Dari anak ke anak. Dari satu cerita ke cerita berikutnya.

Karena literasi tidak selalu tumbuh dari gedung yang besar.

Kadang ia tumbuh dari sebuah ruang sederhana, dari sebuah buku yang dibacakan, dari permainan yang dimainkan bersama, dan dari seseorang yang bersedia datang mengetuk pintu.

Ruang kecil, mimpi besar. (wonkyudy)

Kamis, 10 September 2026

18 Tahun Rumah Baca Zhaffa: Ketika Orang Tua Mulai Merasa Memiliki


Selasa, 25 Agustus 2026, menjadi salah satu hari yang penuh kebahagiaan bagi keluarga besar Rumah Baca Zhaffa (RBZ).

Sehari sebelumnya, tepat pada 24 Agustus 2026, Rumah Baca Zhaffa genap berusia 18 tahun.

Delapan belas tahun bukanlah waktu yang singkat.

Ada begitu banyak cerita, perjuangan, keterbatasan, pertemuan, perpisahan, serta orang-orang baik yang datang dan ikut mewarnai perjalanan Rumah Baca Zhaffa. Dari sebuah ruang kecil, RBZ terus berusaha hadir menemani anak-anak untuk belajar, membaca, bertanya, bermain, dan tumbuh bersama.
Namun, perayaan ulang tahun ke-18 kali ini terasa berbeda.
Bukan karena acaranya besar atau mewah. Justru karena sesuatu yang sederhana terjadi dan memiliki makna yang jauh lebih besar.
Para orang tua anak-anak binaan berinisiatif merayakan ulang tahun Rumah Baca Zhaffa.

Ketika Orang Tua Mulai Merasa Memiliki

Awalnya, beberapa orang tua berinisiatif untuk patungan membuat nasi liwet sebagai bentuk syukur atas ulang tahun RBZ.
Informasi mengenai rencana perayaan kemudian dibagikan melalui grup WhatsApp orang tua. Mereka yang ingin berpartisipasi dipersilakan untuk ikut bersama-sama merayakan ulang tahun Rumah Baca Zhaffa.

Ternyata, responsnya begitu hangat. Satu per satu makanan mulai berdatangan. Ada ayam goreng, lalapan, buah-buahan, puding, es buah, kue-kue, dan berbagai makanan lainnya. Semuanya dibawa dengan sukarela oleh para orang tua. Saat melihat semua itu, kami menyadari satu hal:

Rumah Baca Zhaffa ternyata sudah mulai menjadi milik bersama.

Selama ini, mungkin RBZ sering dipandang sebagai sebuah gerakan yang selalu digerakkan oleh pendirinya. Berbagai kegiatan diinisiasi, program dibuat, relawan diajak terlibat, dan berbagai kolaborasi dibangun. Tetapi sebuah gerakan literasi tidak akan pernah cukup jika hanya bergantung kepada satu atau dua orang. Gerakan akan menjadi lebih kuat ketika orang-orang yang merasakan manfaatnya mulai ikut bergerak.

Dan hari itu, para orang tua menunjukkan bahwa mereka bukan lagi sekadar orang tua yang mengantar anaknya belajar.

Mereka sudah menjadi bagian dari ekosistem literasi Rumah Baca Zhaffa.

Mereka mulai merasa memiliki. Mereka mulai menyadari bahwa keberadaan RBZ dibutuhkan untuk membantu perkembangan pengetahuan, kemampuan literasi dasar, dan karakter anak-anak mereka. Bagi kami, inilah salah satu hadiah ulang tahun ke-18 yang paling berharga.

Ruang yang Mendadak Terasa Sempit

Hari itu, sekitar 50 anak binaan hadir. Para relawan remaja juga ikut berkumpul dan berbaur bersama anak-anak serta orang tua. Ruangan Rumah Baca Zhaffa yang sehari-hari digunakan untuk belajar terasa semakin kecil ketika semuanya berkumpul. 

Hari itu, sekitar 50 anak binaan hadir. Para relawan remaja juga ikut berkumpul dan berbaur bersama anak-anak serta orang tua.Ruangan Rumah Baca Zhaffa yang sehari-hari digunakan untuk belajar terasa semakin kecil ketika semuanya berkumpul. Tetapi justru di situlah kehangatannya.

Tidak ada jarak antara anak-anak, orang tua, relawan, dan pengelola. Semua duduk bersama, tertawa bersama, dan menikmati suasana ulang tahun dengan sederhana. Perayaan pun tidak hanya diisi dengan makan-makan.  Anak-anak diajak mengikuti berbagai permainan dan lomba. Ada lomba ketangkasan memindahkan karet, lomba tebak kata, dan berbagai permainan lainnya.

Para orang tua pun tidak mau kalah.
Mereka ikut dalam lomba tebak lagu yang membuat suasana semakin ramai. Tawa terdengar dari berbagai sudut ruangan. Hari itu, Rumah Baca Zhaffa benar-benar terasa seperti sebuah rumah.



Rumah tempat semua orang bisa berkumpul. Rumah tempat anak-anak belajar. Rumah tempat orang tua berbagi cerita.  Dan rumah tempat banyak orang menemukan kebahagiaan melalui hal-hal sederhana.

Dari Belum Bisa Membaca hingga Berprestasi

Di tengah acara, beberapa perwakilan orang tua juga menyampaikan pengalaman mereka selama anak-anak mengikuti kegiatan di Rumah Baca Zhaffa. Salah seorang orang tua bercerita bahwa keberadaan RBZ sangat membantu proses belajar anaknya di sekolah. Bahkan, materi yang dipelajari di Rumah Baca Zhaffa terkadang sudah lebih dahulu dikenalkan kepada anak sebelum dipelajari di sekolah.

Ada pula cerita yang membuat kami semakin terharu.

Seorang anak bergabung dengan RBZ ketika belum bisa membaca sama sekali. Perlahan, melalui proses belajar dan pendampingan, kemampuan membacanya berkembang. Kini, anak tersebut sudah duduk di kelas 2 SD, sudah mampu membaca, bahkan berhasil mendapatkan peringkat di kelasnya.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah sebuah pencapaian akademik. Namun bagi kami, itu adalah bukti bahwa proses kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menghasilkan perubahan yang besar.

Ada pula orang tua yang menceritakan perubahan lain pada anaknya, yaitu dalam hal kepercayaan diri.

Sebelumnya, anak tersebut sangat takut dan pemalu ketika diminta maju ke depan kelas. Berbicara di depan orang lain pun menjadi sesuatu yang sulit. Namun, kebiasaan mengikuti berbagai kegiatan di Rumah Baca Zhaffa perlahan mengubahnya. Di RBZ, anak-anak terbiasa bertemu dengan orang baru. Mereka diajak bertanya, menjawab pertanyaan, maju ke depan, mengikuti permainan, mengikuti kegiatan kreatif, dan berinteraksi dengan teman-teman lainnya.

Tanpa mereka sadari, kebiasaan itu kemudian terbawa ke lingkungan sekolah.

Anak menjadi lebih berani. Lebih percaya diri. Lebih terbiasa berkomunikasi. Dan perubahan seperti inilah yang terkadang tidak bisa diukur hanya dengan angka atau nilai rapor.

RBZ Tidak Bisa Berjalan Sendiri

Di usia ke-18 ini, kami semakin menyadari bahwa mendampingi anak-anak tidak bisa dilakukan oleh Rumah Baca Zhaffa sendirian.  RBZ dapat menyediakan ruang belajar. Relawan dapat membantu memberikan pendampingan. Berbagai kegiatan dapat dirancang untuk menambah pengetahuan dan pengalaman anak. Namun, rumah tetap menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Peran orang tua sangat penting dalam memastikan kebiasaan baik yang dibangun di RBZ terus berlanjut di rumah.

Karena itu, sinergi antara Rumah Baca Zhaffa, orang tua, sekolah, relawan, komunitas, dan berbagai pihak lainnya menjadi sangat penting.

Jangan sampai pendidikan anak sepenuhnya diserahkan kepada satu pihak. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang saling mendukung. Mereka membutuhkan orang dewasa yang percaya kepada mereka.

Dan mereka membutuhkan ruang yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan.

Memotong Kue dan Menyimpan Harapan

Seperti perayaan ulang tahun pada umumnya, tiba saatnya kue ulang tahun yang telah disiapkan dikeluarkan. Semua berkumpul. Kue dipotong. Doa dan harapan pun dipanjatkan.

Di usia yang ke-18 ini, kami berharap Rumah Baca Zhaffa dapat terus membersamai anak-anak di Manggarai dan sekitarnya. Semoga RBZ dapat terus menjadi ruang yang membantu anak-anak mengenal buku, belajar, membangun kepercayaan diri, dan yang tidak kalah penting, membentuk karakter baik mereka.

Kami juga berharap semakin banyak orang baik yang tergerak untuk mendukung perjalanan ini.

Semakin banyak relawan. Semakin banyak mitra. Dan tentu saja, semakin banyak donatur yang bersedia membantu agar kegiatan belajar gratis di Rumah Baca Zhaffa dapat terus berjalan dan berkembang.

Karena semakin banyak dukungan yang hadir, semakin besar pula kesempatan yang dapat diberikan kepada anak-anak.

Nasi Liwet, Kebersamaan, dan Sebuah Doa

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, nasi liwet yang sejak tadi dipersiapkan akhirnya dibagikan.
Kami makan bersama. Anak-anak, orang tua, relawan, dan pengelola duduk dalam satu suasana. Tidak ada yang istimewa dari sebuah nasi liwet jika hanya dilihat sebagai makanan.

Tetapi hari itu, nasi liwet menjadi simbol kebersamaan.

Ia hadir dari patungan kecil para orang tua, dari kepedulian, dari rasa memiliki, dan dari sebuah kesadaran bahwa perjalanan Rumah Baca Zhaffa adalah perjalanan kita bersama.

Delapan belas tahun telah berlalu.
Dari ruang kecil, mimpi besar itu masih terus dijaga.
Dan hari itu kami belajar satu hal lagi:

Rumah Baca Zhaffa akan semakin kuat bukan ketika pendirinya mampu melakukan semuanya sendiri, tetapi ketika semakin banyak orang merasa bahwa RBZ adalah bagian dari mereka.

Semoga Rumah Baca Zhaffa panjang umur.
Semoga langkah kecil ini terus memberikan manfaat.
Semoga semakin banyak tangan yang terulur untuk membantu.

Dan semoga anak-anak yang belajar di dalamnya tumbuh menjadi generasi yang cerdas, percaya diri, berkarakter, dan bermartabat.

Karena pada akhirnya, perjalanan Rumah Baca Zhaffa bukan hanya tentang mempertahankan sebuah rumah baca.
Ini adalah tentang menjaga harapan anak-anak agar tetap menyala.

Selamat ulang tahun ke-18, Rumah Baca Zhaffa.

Ruang kecil, mimpi besar.
(wonkyudy)

Rabu, 09 September 2026

Ketika Dua Tamu dari Tiongkok Menyapa Rumah Baca Zhaffa

Ketika Dua Tamu dari Tiongkok Menyapa Rumah Baca Zhaffa





Siang itu, Senin, 27 Juli 2026, jam sudah menunjukkan pukul dua. Seperti biasa, waktu tersebut menjadi salah satu momen belajar bagi anak-anak kelas 3 hingga 6 SD di Rumah Baca Zhaffa (RBZ).

Sekitar 20 anak mengikuti kelas bimbingan belajar gratis yang rutin dilaksanakan di RBZ. Hawa panas Jakarta yang masuk ke dalam ruangan tidak sedikit pun menyurutkan semangat mereka untuk belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh para relawan.

Enam meja kecil berwarna-warni menjadi tempat mereka menulis dan menyelesaikan tugas. Kursi-kursi yang juga berwarna-warni terkadang terasa sempit karena harus digunakan bersama. Namun, tidak terdengar keluhan dari mereka.

Barangkali, dalam benak anak-anak itu ada sebuah keyakinan sederhana: yang terpenting hari ini kami mendapatkan pengetahuan baru untuk masa depan.

Di tengah suasana belajar yang serius, tiba-tiba kedatangan dua orang tamu membuat suasana sedikit berubah. Mereka adalah tamu dari Tiongkok yang datang ke Rumah Baca Zhaffa, didampingi oleh Sony Tan, Direktur PT Nusantara Pelabuhan Handal (NPH), sosok yang selama ini juga aktif mendukung dan membantu gerakan literasi di Jakarta.

Kedatangan tamu dari negeri yang jauh tentu menarik perhatian anak-anak. Rasa penasaran pun mulai muncul. Siapa mereka? Dari mana mereka datang? Mengapa mereka berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa?

Yudy dan Neli, Suami Istri, pendiri sekaligus pengelola Rumah Baca Zhaffa, menyambut kedatangan mereka dan mengajak masuk untuk melihat lebih dekat aktivitas serta perjalanan RBZ.

Dari Teras Rumah Berukuran 2 x 3 Meter

Ketika mendengar perjalanan Rumah Baca Zhaffa yang pada tahun ini memasuki usia 18 tahun, kedua tamu tersebut tampak terkesan.

Apalagi ketika mengetahui bahwa perjalanan panjang RBZ tidak dimulai dari sebuah gedung besar, bukan pula dari sebuah lembaga dengan dukungan dana yang kuat.

Semuanya bermula dari sebuah teras rumah orang tua berukuran hanya 2 x 3 meter.

Dari ruang kecil itulah mimpi besar tentang pendidikan dan literasi bagi anak-anak di Manggarai mulai tumbuh.

Kedua tamu tersebut kemudian tertarik mengetahui bagaimana Rumah Baca Zhaffa menjalankan kegiatan sehari-hari, termasuk bagaimana biaya operasionalnya dipenuhi.

Yudy menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun operasional RBZ banyak berjalan dari inisiatif pribadi dan dukungan berbagai pihak yang datang silih berganti. Rumah Baca Zhaffa juga belum memiliki donatur tetap dalam jangka panjang.

Baru beberapa bulan terakhir, seorang dosen secara rutin memberikan dukungan dengan mentransfer sejumlah dana untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik Rumah Baca Zhaffa.

Cerita sederhana tersebut justru menjadi bagian yang menarik bagi para tamu. Sebuah rumah baca yang mampu bertahan dan terus bergerak selama hampir 18 tahun, meskipun dibangun dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Dari Manggarai hingga Dunia Internasional

Perjalanan Rumah Baca Zhaffa ternyata tidak berhenti di lingkungan sekitar Manggarai.

Ketika Yudy memperlihatkan berbagai dokumentasi kegiatan RBZ, kedua tamu tersebut semakin kagum. Selama ini Rumah Baca Zhaffa telah membangun kolaborasi dengan berbagai perusahaan, komunitas, perguruan tinggi, dan lembaga lainnya.

Bahkan, jaringan kolaborasi tersebut telah menjangkau hingga ke luar Indonesia, antara lain dengan berbagai pihak dari Australia dan Korea.

Pengalaman Yudy dalam membangun jejaring literasi juga tidak hanya dilakukan melalui Rumah Baca Zhaffa. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jakarta periode 2021–2026.

Dalam kapasitas tersebut, Yudy bersama Forum TBM Jakarta pernah membawa delegasi dalam kegiatan literasi ke Qatar dan Brunei Darussalam.

Bagi Rumah Baca Zhaffa, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa gerakan literasi yang tumbuh dari ruang kecil di Manggarai ternyata dapat membuka pintu kolaborasi hingga ke berbagai penjuru dunia.

Mimpi yang Lebih Besar

Dalam pertemuan tersebut, Yudy juga menyampaikan harapannya agar hubungan dan komunikasi dengan para tamu dari Tiongkok dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi sebuah kolaborasi nyata.

Bukan sekadar kunjungan.

Lebih jauh, Rumah Baca Zhaffa ingin membangun kerja sama yang dapat mendukung gerakan literasi dan pendidikan bagi anak-anak.

Mimpinya sederhana, tetapi besar: memperluas sarana ruang baca dan mengembangkan Rumah Baca Zhaffa agar semakin banyak anak mendapatkan kesempatan belajar dan pendidikan secara lebih merata.

Sebab, bagi RBZ, literasi bukan hanya tentang buku.

Literasi adalah tentang membuka kesempatan.

Tentang memberikan ruang kepada anak-anak untuk belajar.

Tentang menghadirkan harapan bahwa keterbatasan tempat dan keadaan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.

“Annyeonghaseyo!”

Waktu kunjungan pun akhirnya selesai.

Ketika kedua tamu tersebut berpamitan, anak-anak yang sejak tadi memperhatikan mereka tiba-tiba dengan penuh semangat mengucapkan salam perpisahan.

“Annyeonghaseyo!” teriak beberapa anak.

Kedua tamu tersebut tertawa.

“Ah, salah. Kami dari Tiongkok, beda negara,” ujar mereka dalam bahasa Inggris.

Seketika suasana menjadi lebih cair. Anak-anak pun tertawa, sementara para tamu berjanji akan kembali berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa.

Ada satu pesan yang kemudian mereka sampaikan kepada anak-anak:

Kelak, kalian harus belajar bahasa Mandarin.

Siang itu, mungkin hanya berlangsung sebuah kunjungan sederhana.

Namun bagi anak-anak di Rumah Baca Zhaffa, kedatangan dua tamu dari negeri yang jauh telah membuka sebuah jendela baru tentang dunia.

Bahwa belajar tidak hanya membawa mereka mengenal buku dan pelajaran di dalam kelas.

Belajar juga dapat membawa mereka bertemu dengan orang-orang baru, mengenal budaya lain, membangun persahabatan, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan.

Dari sebuah ruang kecil di Manggarai, mimpi itu terus tumbuh.

Rumah Baca Zhaffa — Ruang kecil, mimpi besar. (wonyudy)

Rabu, 22 April 2026

Mitra Kolaborasi






Selasa, 31 Maret 2026

Liputan beritajakarta.id


Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah serta sarana lebih lengkap, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, mainan edukatif, laptop, infocus, speaker atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.

Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 30A RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank BSI, No Rek:79-9999-4045, A/N RUMAH BACA ZHAFFA, Cabang Sudirman, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonkyudyzhaffa@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)