Siaran RPK FM

Dari Jejak Cerita Manggarai Hingga Siaran Radio

Spesial Hari Kunjung Perpustakaan

Sanggar Zhaffa Membuka Kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan

Duta Baca DKI Jakarta

Duta Baca Datang Untuk Menginspirasi Anak-anak

18 Tahun Rumah Baca Zhaffa

Orang Tua Sudah Menjadi Bagian dari Rumah Baca Zhaffa

Kunjungan dari Tiongkok

Dua orang dari Tiongkok berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa untuk menjalin kerjasama kegiatan

Selasa, 22 September 2026

Menjadi Detektif Literasi Bersama Anak-anak di Pondok Pinang



Masjid Darussalam, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Minggu (20/09/2026)

Selepas Ashar, suasana Masjid Darussalam, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, tampak ramai. Anak-anak mulai berdatangan, begitu pula para relawan yang sudah bersiap untuk mengikuti kegiatan edukasi literasi.

Hari itu, Indonesia Aksi Relawan (IAR) mengadakan kegiatan edukasi bersama anak-anak. Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik adalah hadirnya tim Rumah Baca Zhaffa (RBZ) untuk berbagi materi tentang literasi.



Yudy Hartanto dan Neli Siswanti, pendiri Rumah Baca Zhaffa, hadir bersama Kayla, salah satu relawan yang aktif berkegiatan di Rumah Baca Zhaffa.

Suasana kegiatan terasa akrab sejak awal. Para relawan IAR membuka kegiatan dengan ice breaking yang membuat anak-anak lebih bersemangat. Setelah itu, anak-anak diajak berkenalan satu sama lain sebelum memasuki sesi materi.

Laptop kemudian disambungkan ke layar proyektor. Saat semua sudah siap, sesi Rumah Baca Zhaffa pun dimulai.

Mengenal Rumah Baca Zhaffa

Bunda Neli membuka sesi dengan memperkenalkan Rumah Baca Zhaffa kepada anak-anak.

Bukan hanya tentang nama, anak-anak juga diajak mengenal apa yang dilakukan Rumah Baca Zhaffa, di mana lokasinya, serta berbagai kegiatan yang selama ini dilakukan bersama anak-anak dan masyarakat.

Setelah perkenalan singkat, tibalah saatnya membahas satu kata yang mungkin sering mereka dengar, tetapi belum tentu mereka pahami secara utuh:

Literasi.

Literasi Itu Apa, Sih?

Karena peserta yang hadir berusia sekitar 6 hingga 13 tahun, materi sengaja dibuat sederhana, ringan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.  Apalagi waktu yang tersedia cukup terbatas. Karena itu, kami tidak ingin anak-anak hanya duduk mendengarkan penjelasan. Kami ingin mereka berpikir, bermain, bertanya, menemukan jawaban, dan berani menyampaikan pendapat.

Yudy kemudian mencoba menjelaskan literasi dengan kalimat sederhana:

“Literasi adalah memahami, berpikir, dan melakukan tindakan untuk digunakan dalam kehidupan.

Literasi ternyata ada di mana-mana. Tidak selalu harus berhubungan dengan buku. Anak-anak kemudian diajak melihat contoh sederhana yang ada di sekitar mereka.

Misalnya terdapat tulisan:

“Dilarang membuang sampah di lingkungan!”

Apa yang dilakukan ketika melihat tulisan tersebut?
Pertama, kita membaca dan memahami apa yang tertulis.
Kemudian kita berpikir. Mengapa kita dilarang membuang sampah sembarangan? Karena jika sampah dibuang sembarangan, lingkungan menjadi kotor dan dapat menimbulkan berbagai masalah.

Lalu kita bertindak. Setelah memahami pesan tersebut, kita memilih untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Sesederhana itu.


Itulah salah satu contoh literasi dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi adalah kemampuan untuk memahami informasi, berpikir terhadap informasi tersebut, kemudian mengambil tindakan yang tepat.

Saatnya Menjadi Detektif Literasi!

Agar semakin menarik, anak-anak kemudian diajak bermain sebuah permainan. Hari itu mereka bukan sekadar peserta kegiatan. Mereka menjadi detektif. Anak-anak diberikan sebuah cerita tentang hilangnya sebuah buku. Tugas mereka adalah mencari tahu:

Siapa saja yang diduga terlibat?
Apa saja petunjuk yang ditemukan?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Siapa yang kemungkinan menghilangkan buku tersebut?
Dan yang paling penting, apa buktinya?

Anak-anak membaca cerita yang diberikan, kemudian mulai berdiskusi. Dari permainan tersebut, mereka diajak memahami bahwa menjadi seorang detektif tidak cukup hanya dengan menebak. Seorang detektif harus membaca dengan teliti, mencari informasi, mengajukan pertanyaan, memperhatikan petunjuk, kemudian membuat kesimpulan berdasarkan fakta.

Begitu pula dengan literasi. Ketika kita membaca sesuatu, kita tidak boleh langsung percaya atau asal menyimpulkan. Kita perlu memahami informasi yang kita baca, melihat fakta atau referensi yang tersedia, kemudian mengambil kesimpulan.

Bukan sekadar dugaan. Bukan asal menebak.

Seperti seorang detektif yang mencari kebenaran berdasarkan petunjuk, orang yang literat juga belajar mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dipahaminya.

Berani Membaca, Berani Menjawab

Setelah permainan selesai, anak-anak diajak menjelaskan kembali apa yang mereka pahami tentang literasi. Beberapa anak dengan berani maju ke depan untuk menjawab. Menariknya, keberanian mereka untuk tampil juga mendapatkan apresiasi. Rumah Baca Zhaffa memberikan buku cerita kepada anak-anak yang berani maju dan berbagi jawaban.  Bukan semata-mata karena jawabannya benar. Tetapi karena keberanian untuk berbicara, mencoba, dan menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya adalah bagian penting dari proses belajar.

Tiga Kata, Satu Cerita

Permainan berikutnya tidak kalah menarik. Anak-anak diminta membuat cerita singkat berdasarkan tiga kata: 

Hujan – Kucing – Kotak Misteri.

Mereka kemudian berdiskusi dalam kelompok. Tiga kata sederhana tersebut ternyata bisa melahirkan begitu banyak cerita. Ada yang membuat cerita penuh misteri. Ada yang lucu. Ada pula yang membuat kisah tentang seekor kucing yang menemukan sesuatu di dalam sebuah kotak saat hujan turun. Anak-anak bebas menggunakan imajinasi mereka.

Satu per satu tangan mulai terangkat.

Mereka ingin maju dan menceritakan hasil cerita kelompoknya.

Di sinilah kami melihat bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca tulisan, tetapi juga bagaimana anak mampu mengolah informasi, berpikir, berimajinasi, menyusun gagasan, dan menyampaikannya kepada orang lain.

Literasi Ada di Sekitar Kita

Kegiatan sore itu mungkin hanya berlangsung singkat. Namun dari sebuah permainan sederhana, anak-anak belajar banyak hal. Mereka belajar bahwa untuk menjadi seseorang yang literat, kita perlu:

Membaca.
Memahami.
Bertanya.
Berpikir.
Mencari fakta.
Menyimpulkan.
Dan berani menyampaikan apa yang kita pahami.

Seperti seorang detektif.

Seorang detektif tidak asal menunjuk siapa yang bersalah. Ia mencari petunjuk, membaca informasi, menghubungkan fakta, kemudian mengambil kesimpulan. Begitu pula dengan kehidupan sehari-hari. Ketika mendapatkan sebuah informasi, jangan langsung percaya.

Baca. Pahami. Pikirkan. Periksa. Kemudian bertindak.

Itulah literasi.

Dan ternyata, belajar literasi bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Bisa melalui cerita.
Bisa melalui permainan.
Bisa melalui diskusi.
Bisa melalui imajinasi.
Bahkan bisa dengan bermain menjadi detektif.

Menanamkan Literasi Sejak Dini

Melihat antusiasme anak-anak sore itu, kami kembali diingatkan bahwa menanamkan budaya literasi tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang serius dan kaku. Anak-anak membutuhkan ruang untuk bermain sekaligus belajar. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bertanya. Mereka membutuhkan kesempatan untuk salah dan mencoba kembali.  Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan orang-orang dewasa yang mau mendengarkan gagasan mereka.

Semoga kegiatan sederhana bersama Indonesia Aksi Relawan ini dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan meninggalkan satu pesan kecil bagi anak-anak:

Bahwa membaca bukan sekadar mengeja kata.
Literasi bukan sekadar membaca buku.
Literasi adalah bagaimana kita memahami dunia, berpikir dengan kritis, dan mengambil tindakan dalam kehidupan.

Terima kasih Indonesia Aksi Relawan atas kesempatan bagi Rumah Baca Zhaffa untuk berbagi.

Semoga semakin banyak ruang belajar yang tumbuh, semakin banyak anak yang berani bertanya, berani membaca, berani berpikir, dan berani menyampaikan gagasannya.

Karena dari ruang-ruang kecil seperti inilah, mimpi-mimpi besar bisa tumbuh.

Rumah Baca Zhaffa
Ruang kecil, mimpi besar.
(wonkzhaffa)

Senin, 21 September 2026

Kalau Suatu Hari Anak Kita Mengalami Sesuatu, Apakah Ia Tahu Harus Bercerita?


Belajar Waspada dan Melindungi Diri Bersama Anak-Anak Rumah Baca Zhaffa


Sabtu pagi, 19 September 2026, Rumah Baca Zhaffa kembali dipenuhi suara anak-anak.



Ada yang tertawa, ada yang bernyanyi, ada yang sibuk menjawab pertanyaan, dan ada pula yang sesekali masih malu-malu mengangkat tangan. Sekilas, pagi itu seperti kegiatan belajar biasa di Rumah Baca Zhaffa. Namun kali ini ada satu hal penting yang ingin kami titipkan kepada mereka:

Bagaimana cara menjaga diri ketika berada dalam situasi yang tidak aman?
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi bagi kami, jawabannya sangat penting.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu kapan seorang anak akan berhadapan dengan situasi yang membuatnya takut, bingung, atau tidak nyaman.

Dan ketika saat itu datang, kita berharap mereka tidak hanya diam.

Kita berharap mereka tahu bahwa mereka boleh berkata "tidak", boleh menjauh, boleh berteriak meminta pertolongan, dan yang paling penting, boleh bercerita kepada orang yang mereka percaya.

Belajar Melindungi Diri Bersama Hijau Foundation

Kegiatan edukasi kali ini merupakan kolaborasi Rumah Baca Zhaffa bersama Hijau Foundation.

Materi diawali oleh Kak Alexa dari Hijau Foundation, yang mengajak anak-anak mengenal pentingnya menjaga diri dan memahami bahwa tubuh mereka adalah sesuatu yang berharga.

Pembahasan disampaikan dengan bahasa sederhana dan dekat dengan keseharian anak.

Anak-anak diajak memahami bahwa mereka memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Ada bagian tubuh yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain.

Pesan tersebut kemudian dikembangkan menjadi pembicaraan mengenai bagaimana anak mengenali situasi yang membuat mereka tidak nyaman, bagaimana menolak, serta bagaimana mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.

Bagi kami, materi ini penting karena perlindungan anak tidak cukup hanya dibicarakan kepada orang dewasa. Anak juga perlu dibekali pengetahuan agar mengenali, memahami, dan berani melindungi dirinya.

Bukan untuk Membuat Anak Takut

Berbicara kepada anak tentang kekerasan seksual dan perlindungan diri tentu bukan perkara mudah. Ada kekhawatiran bahwa materi seperti ini justru membuat anak takut terhadap lingkungan sekitarnya. Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini bukan menakut-nakuti. Anak-anak diajak memahami bahwa dunia di sekitar mereka memang perlu dikenali, tetapi mereka juga memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya.

Sebelum kegiatan dilaksanakan, Tim Rumah Baca Zhaffa bersama Hijau Foundation terlebih dahulu melakukan diskusi secara daring. Kami membicarakan bagaimana materi ini bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana, sesuai usia anak, tetapi tetap memiliki pesan yang kuat. Kami sepakat bahwa anak tidak cukup hanya diberi tahu. Mereka harus diajak berbicara, bermain, berpikir, dan mencoba mengambil keputusan.

Dimulai dengan Tertawa dan Bernyanyi

Maka pagi itu kami tidak langsung berbicara mengenai hal-hal yang berat. Kami memulainya dengan icebreaking. Bernyanyi bersama. Bermain. Bertanya jawab. Anak-anak dibuat senyaman mungkin. Sebab kami percaya, sebelum anak menerima sebuah pesan penting, mereka harus merasa bahwa ruang tempat mereka belajar adalah ruang yang aman. Dari suasana yang menyenangkan itu, perlahan pembahasan mengenai perlindungan diri mulai diperkenalkan.

"Tubuhku adalah Milikku"

Setelah materi awal disampaikan oleh Kak Alexa, anak-anak kemudian diajak memahami kembali pesan tersebut melalui sebuah dongeng. Kali ini, Ka Winda dan Kayla, relawan Rumah Baca Zhaffa, membawakan cerita tentang seorang anak bernama Rara. Rara sedang mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas.

Hari itu, Bu Guru mengajarkan sebuah materi penting:
"Tubuhku adalah Milikku."
Dalam dongeng tersebut, Rara belajar bahwa tubuhnya sangat berharga dan harus dijaga. Ia mulai memahami bahwa tidak semua orang boleh menyentuh tubuhnya sembarangan.  Kemudian Rara mengajukan sebuah pertanyaan kepada Bu Guru.

"Kalau ada orang yang kita tidak kenal, bagaimana, Bu Guru?"

Pertanyaan Rara menjadi pintu masuk untuk membahas situasi yang mungkin ditemui anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Bu Guru kemudian menjelaskan kepada Rara bahwa ia harus selalu berhati-hati dan memahami batasan tubuhnya.

Tubuh kita berharga.

Tidak boleh sembarang orang menyentuhnya. Dan ketika ada tindakan yang membuat kita tidak nyaman, kita memiliki hak untuk menolak dan mencari pertolongan. Pesan dalam dongeng tersebut juga mengajak anak memahami bahwa kewaspadaan tidak hanya diperlukan ketika berada di luar rumah. Bahkan orang dewasa yang berada di lingkungan dekat anak pun tetap harus menghormati batasan tubuh anak. Karena itu, anak perlu memahami bahwa kedekatan seseorang bukan berarti ia otomatis boleh melakukan apa saja terhadap tubuh anak.

Ketika Dongeng Menjadi Ruang Belajar

Cara penyampaian melalui dongeng membuat suasana belajar menjadi berbeda. Anak-anak tidak merasa sedang mendengarkan ceramah. Mereka sedang mengikuti cerita. Ada Rara. Ada Bu Guru. Ada pertanyaan. Ada situasi yang harus dijawab. Dan tanpa disadari, mereka sedang belajar mengenai perlindungan diri. Inilah salah satu kekuatan mendongeng.

Pesan yang terkadang sulit disampaikan secara langsung dapat masuk melalui sebuah cerita yang sederhana dan mudah dipahami anak. Ka Winda dan Kayla tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga mengajak anak-anak merespons situasi yang dialami Rara.

"Kalau kamu menjadi Rara, apa yang akan kamu lakukan?"

Pertanyaan seperti itu membuat anak-anak mulai berpikir.

Mereka belajar bahwa dalam situasi tertentu, mereka dapat berkata tidak, menjauh, berteriak meminta bantuan, dan menceritakan kejadian tersebut kepada orang yang dipercaya.

"Kalau Tidak Bisa Cerita kepada Ayah dan Ibu, Cerita kepada Siapa?"

Setelah cerita selesai, anak-anak kemudian diajak berdiskusi.

Kami bertanya:

"Kalau kalian punya masalah, biasanya cerita kepada siapa?"

Jawaban anak-anak beragam.
Ada yang menjawab ayah.
Ada yang menjawab ibu.
Ada yang menyebut kakak.
Ada yang mengatakan paman atau tante.
Ada pula yang menyebut guru.
Salah satu jawaban anak membuat kami berhenti sejenak.

Ketika ditanya siapa orang yang paling dipercaya, ada anak yang menyebut kakek.
Bukan ayah.
Bukan ibu.
Kakek.
Kami tentu tidak ingin buru-buru menyimpulkan apa pun. Sebab kita tidak pernah tahu cerita lengkap di balik sebuah jawaban anak. Mungkin ia memang tinggal bersama kakek.  Mungkin kakek adalah orang yang paling dekat dengannya.  Atau mungkin ada cerita lain yang belum pernah ia sampaikan. Dan di situlah kami kembali diingatkan:

Setiap anak memiliki cerita yang berbeda.
Tidak semua anak tumbuh dalam kondisi keluarga yang sama.
Karena itu, ketika kita berbicara mengenai perlindungan anak, kita tidak cukup hanya mengatakan:

"Kalau ada apa-apa, cerita kepada orang tua."

Kita perlu memperluasnya.

"Carilah orang dewasa yang kamu percaya."

Bisa ayah.
Bisa ibu.
Bisa kakek atau nenek.
Bisa guru.
Bisa orang dewasa lain yang memang dapat memberikan perlindungan.
Yang terpenting, anak tahu bahwa ketika sesuatu terjadi, ia tidak sendirian.

Tubuh Kita, Batas Kita

Materi kemudian masuk pada pembahasan mengenai tubuh dan batas pribadi.  Anak-anak dikenalkan bahwa ada bagian tubuh yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain.  Tetapi kami tidak ingin materi berhenti sebagai hafalan. Maka anak-anak diajak bermain. Kami menggunakan kartu berwarna dan kartu situasi.  Salah satu pertanyaannya kurang lebih seperti ini:

"Kalau ada seseorang menyentuh bagian pribadi tubuhmu, apakah boleh?"

Anak-anak harus memilih.
Merah berarti tidak boleh.
Hijau berarti boleh.
Namun permainan tidak berhenti pada pilihan warna.
Ketika ada jawaban yang berbeda, anak tidak langsung disalahkan.

Kami bertanya:
"Kenapa kamu memilih jawaban itu?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi pintu untuk berdiskusi. Anak memiliki kesempatan untuk menjelaskan pemikirannya, sementara fasilitator membantu meluruskan pemahaman dengan bahasa yang mudah mereka mengerti. 

Bagaimana Kalau Ada yang Mengajak Pergi?

Kartu berikutnya memberikan situasi lain. Misalnya, ada seseorang yang mengajak anak pergi ke tempat sepi hanya berdua.

Apakah boleh ikut?

Jika tidak, lalu apa yang harus dilakukan?
Anak-anak diajak mencari jawabannya.
Menolak.
Menjauh.
Berteriak meminta bantuan.
Mencari orang dewasa yang dipercaya.
Dan menceritakan apa yang terjadi.
Di sini kami ingin menanamkan satu hal sederhana:  Anak tidak harus selalu menurut ketika sesuatu membuat mereka merasa tidak aman. 
Anak boleh mengatakan tidak.
Anak boleh pergi.
Anak boleh meminta bantuan.
Anak boleh bercerita.
Kadang Anak Tidak Tahu Bahwa Ia Sedang Berada dalam Bahaya 

Ancaman terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk seseorang yang terlihat menakutkan.

Kadang justru datang dalam bentuk bujukan.

"Ikut saya, nanti saya kasih sesuatu."
"Jangan bilang siapa-siapa."
"Kita cuma sebentar."

Atau bahkan ancaman:

"Kalau kamu cerita, nanti kamu akan dimarahi."
Karena itu, kemampuan anak untuk mengenali situasi menjadi penting.  Bukan supaya mereka menjadi takut kepada semua orang. Tetapi supaya mereka memiliki alarm kewaspadaan di dalam dirinya. Ketika sesuatu terasa tidak nyaman, anak perlu tahu bahwa perasaan tersebut boleh disampaikan.

Literasi Tidak Hanya tentang Membaca Buku

Bagi Rumah Baca Zhaffa, kegiatan seperti ini juga mengingatkan kami bahwa makna literasi jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis.  Literasi adalah kemampuan untuk memahami informasi. Mengenali lingkungan. Membaca situasi. Mengambil keputusan. Dan mengetahui kapan harus meminta bantuan. Anak yang mampu membaca buku tentu penting. Tetapi anak yang mampu "membaca keadaan" juga tidak kalah penting.

Ketika seorang anak mampu mengatakan:

"Saya tidak nyaman."
"Saya tidak mau."
"Saya akan pergi."
"Saya akan mencari bantuan."

dan

"Saya akan menceritakan apa yang terjadi."
maka sesungguhnya ia sedang belajar sebuah bentuk literasi yang sangat penting: literasi perlindungan diri.

Sebuah Pesan untuk Orang Dewasa

Ada satu hal yang juga perlu kita renungkan sebagai orang dewasa.  Sering kali kita meminta anak untuk bercerita. Tetapi apakah kita benar-benar siap mendengarkan?  Ketika anak mengatakan sesuatu yang membuat kita terkejut, apakah kita akan langsung menyalahkan?

Apakah kita akan mengatakan:
"Kok kamu tidak melawan?"
"Kenapa kamu mau ikut?"
"Kenapa baru cerita sekarang?"

Atau kita akan mengatakan:

"Terima kasih sudah mau cerita kepada saya."
Mungkin kalimat kedua jauh lebih dibutuhkan oleh seorang anak. Sebab keberanian seorang anak untuk bercerita adalah sesuatu yang harus dijaga. Jangan sampai ketika akhirnya ia berani membuka cerita, respons orang dewasa justru membuatnya memilih diam.

Dari Manggarai, Sebuah Pesan Kecil untuk Kita Semua

Kegiatan pada Sabtu pagi, 19 September 2026, mungkin hanya berlangsung selama dua jam.  Anak-anak bermain. Bernyanyi.  Mendengarkan materi dari Kak Alexa dari Hijau Foundation. Mengikuti dongeng Rara yang dibawakan oleh Ka Winda dan Kayla.  Menjawab pertanyaan. Mengangkat kartu merah dan hijau.  Tertawa bersama. Namun kami berharap ada satu pesan yang tetap mereka bawa pulang:

Tubuh mereka berharga.
Tubuh mereka adalah milik mereka.
Mereka memiliki batas.
Mereka boleh berkata tidak.
Mereka boleh menjauh dari situasi yang membuat mereka tidak nyaman.
Dan ketika sesuatu terjadi, mereka harus mencari orang yang dipercaya dan berani bercerita. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan mereka hadapi di luar sana. Tetapi kita bisa mempersiapkan mereka.

Bukan dengan ketakutan.
Melainkan dengan pengetahuan, keberanian, dan rasa percaya bahwa selalu ada orang yang akan mendengarkan dan membantu.  Dari Rumah Baca Zhaffa, kami percaya bahwa menjaga anak bukan hanya tugas satu orang. Ia adalah tanggung jawab kita bersama. Dan mungkin, pendidikan perlindungan diri bisa dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana:

"Kalau suatu hari kamu mengalami sesuatu yang membuatmu takut atau tidak nyaman, kepada siapa kamu akan bercerita?"

Semoga setiap anak memiliki jawabannya.
Dan semoga, ketika hari itu benar-benar datang, mereka cukup berani untuk mengatakannya.

Terima kasih kepada Hijau Foundation, Kak Alexa, Ka Winda, Kayla, para relawan, dan seluruh anak-anak Rumah Baca Zhaffa yang telah menjadikan pagi itu sebagai ruang belajar bersama.

Karena di balik sebuah cerita, permainan, dan tawa anak-anak, selalu ada harapan: semoga mereka tumbuh menjadi anak yang tahu cara menjaga dirinya, berani bersuara, dan tahu bahwa mereka tidak pernah sendirian.

Rumah Baca Zhaffa
Ruang kecil, mimpi besar. 
(wonkzhaffa)

Kamis, 17 September 2026

Dari Jejak Cerita Manggarai hingga Siaran Radio: Sebuah Pertemuan Berlanjut Menjadi Cerita Literasi



“Hallo Kak, saya Vera yang kemarin sempat ikut kegiatan jalan-jalan di Manggarai. Saya juga gabung di komunitas Goodreads Indonesia. Saya mau mengajak Kakak untuk siaran di Radio Pelita Kasih. Temanya Hari Kunjung Perpustakaan. Apakah Kakak bersedia?”

Pesan itu tiba beberapa waktu setelah kegiatan Jejak Cerita Manggarai yang diselenggarakan Rumah Baca Zhaffa bersama Komunitas TripTis.

Sederhana. Hanya sebuah pesan singkat. Tetapi dari pesan itulah sebuah cerita baru dimulai. Saya kemudian baru menyadari bahwa salah satu peserta Jejak Cerita Manggarai merupakan bagian dari komunitas Goodreads Indonesia. Sebuah pertemuan yang awalnya terjadi ketika menyusuri gang-gang Manggarai ternyata berlanjut ke ruang yang sama sekali berbeda: ruang siaran radio.

Ketika Jalan-Jalan Menjadi Awal Sebuah Pertemuan

Jejak Cerita Manggarai memang sejak awal bukan sekadar kegiatan jalan-jalan. Kami mengajak orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal untuk bersama-sama menyusuri gang-gang kecil di Manggarai, melihat sudut-sudut rumah warga, mengenal bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda, sekaligus menyelami kehidupan masyarakat melalui interaksi secara langsung.

Setiap peserta kemudian membawa pulang cerita yang berbeda. Ada yang tertarik mengabadikan kehidupan masyarakat melalui kamera. Ada yang lebih tertarik memotret bangunan-bangunan tua. Ada pula yang membuat vlog tentang gang-gang sempit yang ternyata masih menyimpan banyak kehidupan.

Di ruang yang terbatas, warga masih bisa merawat tanaman. Masih ada kucing yang berkeliaran, ayam yang dipelihara, bahkan burung-burung merpati yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat.  Tempat yang sama ternyata bisa menghadirkan cerita yang berbeda, tergantung dari mata siapa yang melihatnya. Dan salah satu mata yang melihat Manggarai hari itu adalah mata Vera. Kami mungkin hanya bertemu dalam satu kegiatan. Tetapi ternyata pertemuan itu belum benar-benar selesai.

Dari Gang Manggarai ke Studio Radio

Beberapa waktu kemudian, pesan dari Vera masuk. Ia memperkenalkan dirinya kembali dan mengingatkan bahwa kami pernah bertemu dalam kegiatan Jejak Cerita Manggarai. Ia juga bercerita bahwa dirinya bergabung dengan komunitas Goodreads Indonesia. Lalu datanglah ajakan itu. Mengisi siaran di Radio Pelita Kasih atau RPK FM, dengan tema Hari Kunjung Perpustakaan. Tentu saja saya bersedia. Ada sesuatu yang menarik dari undangan tersebut. Perbincangannya bukan hanya tentang Rumah Baca Zhaffa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang literasi kecil di tengah masyarakat dapat terus hidup dan memberikan manfaat.

Sabtu, 12 September 2026, pukul 10.00–11.00 WIB, akhirnya tiba waktunya saya untuk on air.  Seharusnya saya hadir langsung di studio. Namun pada waktu yang bersamaan, Rumah Baca Zhaffa juga sedang melaksanakan kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan bersama pegiat TBM Jakarta dan Deputi I Perpustakaan Nasional. Akhirnya, siaran dilakukan melalui Zoom. Tidak berada di studio bukan berarti mengurangi makna pertemuan. Justru dari layar kecil itu, cerita tentang Rumah Baca Zhaffa bisa kembali berjalan lebih jauh.

Pertanyaan yang Membawa Kembali ke Tahun 2008

Salah satu pertanyaan awal yang muncul adalah:
“Mengapa Rumah Baca Zhaffa didirikan?”

Pertanyaan sederhana yang selalu membawa saya kembali kepada awal perjalanan. Rumah Baca Zhaffa hadir karena kami ingin menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak dan masyarakat untuk belajar, membaca, bermain, berinteraksi, dan mendapatkan pengalaman baru.  Sejak awal, kami tidak ingin rumah baca hanya menjadi tempat buku dikumpulkan. Kami ingin ada kehidupan di dalamnya.
Ada anak-anak yang datang.
Ada kegiatan.
Ada percakapan.
Ada orang-orang yang berbagi pengetahuan.
Ada komunitas yang masuk dan ikut menghidupkan ruang.
Namun perjalanan mempertahankan Rumah Baca Zhaffa tentu tidak selalu mudah.

Ada masa jatuh bangun. Ada saat ketika kami harus kembali menguatkan niat, mencari cara agar kegiatan tetap berjalan, dan mengajak anak-anak untuk terus terlibat secara aktif.  Pelan-pelan, kami kemudian melihat perubahan. Kemampuan membaca dan menulis anak-anak mulai berkembang. Kepercayaan diri mereka tumbuh. Mereka semakin berani tampil, berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Yang tidak kalah penting, kami melihat tumbuhnya karakter baik dalam diri mereka. Semua itu tentu bukan semata-mata hasil kerja Rumah Baca Zhaffa.

Ada komunitas-komunitas yang hadir di akhir pekan. Ada mahasiswa yang datang melalui kegiatan KKN dan berbagi pengetahuan. Ada relawan. Ada pegiat literasi. Ada pula berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap gerakan literasi di masyarakat. Mereka semua menjadi bagian dari perjalanan Rumah Baca Zhaffa.

Hari Kunjung Perpustakaan dan Napas bagi Taman Bacaan

Dalam siaran tersebut, kami juga berbicara tentang makna Hari Kunjung Perpustakaan. Bagi saya, peringatan ini sangat penting, terutama bagi taman bacaan masyarakat yang tumbuh dan bertahan secara swadaya. Ketika anak-anak datang, ketika komunitas berkunjung, ketika para pegiat literasi hadir dan berinteraksi, ada semangat baru yang terasa. Kehadiran mereka seperti menambah napas bagi perjuangan kami. Dukungan terhadap taman bacaan tidak selalu harus berupa bantuan buku, dana, atau fasilitas.  Datang dan melihat langsung aktivitas kami juga merupakan sebuah dukungan. Berinteraksi dengan anak-anak juga merupakan dukungan. Membuat kegiatan bersama juga merupakan dukungan.

Karena dari kehadiran itulah kami merasa bahwa perjuangan menghidupkan literasi tidak dilakukan sendirian. Dan ketika semakin banyak orang datang, semakin beragam pula kegiatan yang dapat dilakukan.

Buku Tidak Harus Diam di Rak

Ada satu hal yang terus kami percaya: Buku tidak seharusnya hanya diam di rak.  Buku bisa menjadi awal sebuah percakapan. Buku bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal orang lain. Buku bisa melahirkan diskusi. Buku bisa memunculkan kegiatan kreatif. Dan dari pengetahuan yang dibagikan melalui buku, bisa lahir berbagai gagasan dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Karena itulah taman bacaan masyarakat tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat untuk membaca. TBM adalah ruang yang hidup. Di dalamnya ada anak-anak yang belajar. Ada orang-orang yang bertemu.  Ada komunitas yang berkolaborasi. Ada mahasiswa yang berbagi pengetahuan. Ada relawan yang menyumbangkan waktu. Ada diskusi. Ada kreativitas.Ada tawa. Bahkan ada persoalan-persoalan masyarakat yang bisa dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama.

Sebuah Pesan yang Membawa Cerita Lebih Jauh

Jika dipikir kembali, menarik bagaimana sebuah pesan singkat dari Vera bisa membawa perjalanan cerita ini begitu jauh. Semuanya bermula dari sebuah kegiatan jalan-jalan di Manggarai. Dari orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Dari gang-gang kecil, rumah warga, bangunan tua, tanaman, kucing, ayam, dan burung merpati. Lalu pertemuan itu berlanjut menjadi sebuah pesan. Pesan itu membawa kami ke ruang siaran RPK FM.

Dan di sana, kami kembali berbicara tentang Rumah Baca Zhaffa, tentang anak-anak, tentang taman bacaan, tentang buku, dan tentang perjuangan menghidupkan literasi di tengah masyarakat. Mungkin  emang seperti itulah literasi bekerja. Ia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia dimulai dari sebuah buku. Dari sebuah percakapan. Dari sebuah pertemuan. Bahkan mungkin dari langkah kaki menyusuri sebuah gang. Lalu cerita itu berpindah dari satu orang kepada orang lainnya. Dan tanpa kita sadari, sebuah pertemuan kecil bisa membuka pintu menuju pertemuan-pertemuan berikutnya.

Terima kasih, Ka Vera.

Sebuah perjalanan di gang-gang Manggarai ternyata tidak berhenti ketika langkah kaki kita sampai di garis akhir. Ia terus berjalan. Kali ini melalui gelombang radio. Dan membawa satu pesan sederhana:  Mari terus menghidupkan ruang-ruang literasi. Karena ketika ruang itu hidup, anak-anak dan masyarakat memiliki tempat untuk tumbuh bersama.

Rumah Baca Zhaffa — Ruang kecil, mimpi besar.
(wonkyudy)

Minggu, 13 September 2026

Spesial Hari Kunjung Perpustakaan: Literasi Hadir di Sudut Gang

"Kegemaran membaca anak Indonesia dibilang rendah, apakah jargon itu benar dan nyata? Tak usah kita risau untuk menjawabnya."


Penggalan puisi itu terdengar dari suara Paman Har, sapaan yang baru saja kami sematkan kepada Suharyanto, Deputi I Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi

Sabtu pagi, 12 September 2026, tarian Sirih Kuning dari Sanggar Zhaffa menjadi pembuka hari yang istimewa bagi Rumah Baca Zhaffa. Bukan karena kami menggelar acara besar dengan panggung megah atau seremoni yang penuh protokoler. Justru sebaliknya.

Hari Kunjung Perpustakaan tahun ini kami rayakan di sebuah sudut gang, di tengah padatnya permukiman Manggarai. 

Rumah Baca Zhaffa berkesempatan bekerja sama dengan Deputi I Perpustakaan Nasional dan Forum TBM Jakarta untuk menghadirkan sebuah perayaan yang sederhana, tetapi bagi kami memiliki makna yang begitu besar. Sebab selama ini, ketika kita berbicara tentang perpustakaan dan literasi, bayangan kita sering kali tertuju pada gedung-gedung besar, rak buku yang tertata rapi, ruang yang luas, dan berbagai kegiatan resmi. Padahal, denyut nadi gerakan literasi juga hidup di tempat-tempat yang jauh lebih sederhana.


Ia hidup di sudut gang padat penduduk, di ujung desa, di teras rumah, di taman, di ruang kecil yang dibuka oleh warga, dan di taman-taman bacaan masyarakat yang terus bergerak meski dengan segala keterbatasannya. Tempat-tempat kecil itulah yang setiap hari berusaha mendekatkan buku kepada anak-anak. 

Bukan Sekadar Berkunjung, tetapi Hadir dan Terlibat. 

Kehadiran Paman Har di Rumah Baca Zhaffa bukan sekadar kunjungan. Beliau tidak datang hanya untuk menikmati sajian acara, memberikan sambutan, lalu kembali ke kantor. Beliau masuk ke dalam ruang kecil kami dan ikut menjadi bagian dari perayaan.

Ada sesuatu yang terasa hangat ketika seorang pejabat negara duduk bersama anak-anak di taman baca masyarakat, membaca puisi, bercanda, dan berinteraksi dalam suasana yang begitu cair. Hari itu, kami berbagi peran. Paman Har membacakan puisi. Edi Dimyati (Kampung Buku) menghibur anak-anak dengan permainan sulap. Kak Ning Nong (Bukit DUri Bercerita) mengajak anak-anak berkreativitas.  Sementara Kak Nila (Rumah Baca FWE) membacakan buku untuk mereka. Donasi dari Majalah CIA secara simbolis di terima oleh Virgina Veryastuti - (Ketua Forum TBM Jakarta) untuk dibagikan kepada teman-teman TBM di Jakarta.


Tidak ada sekat yang terasa. Tidak ada jarak antara pejabat, pegiat literasi, relawan, dan anak-anak.  Semuanya melebur dalam satu hal: kegembiraan membaca dan belajar. Kolaborasi itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kami, justru di situlah kekuatannya.



Gerakan literasi tidak selalu membutuhkan acara besar. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah satu buku, satu anak, satu orang yang mau membacakan cerita, dan satu ruang kecil yang bersedia membuka pintunya. 

Kami Juga Butuh Kehadiran

Selama bertahun-tahun mengelola Rumah Baca Zhaffa, kami belajar bahwa menjadi pegiat taman baca bukanlah pekerjaan yang selalu mudah.

Ada hari-hari ketika anak-anak datang dengan penuh semangat. Ada pula hari ketika kami harus memikirkan bagaimana kegiatan tetap berjalan, bagaimana buku bertambah, bagaimana kebutuhan operasional terpenuhi, dan bagaimana relawan tetap memiliki energi untuk terus bergerak.

Sebagian besar taman baca masyarakat tumbuh dari semangat swadaya. Bukan karena memiliki sumber daya yang berlimpah, tetapi karena ada orang-orang yang percaya bahwa anak-anak di lingkungan mereka berhak memiliki ruang untuk membaca, belajar, bermain, dan bermimpi.

Karena itu, kami tidak hanya membutuhkan bantuan.
Kami juga membutuhkan kehadiran.
Kami butuh dilihat.
Kami butuh didengar.
Kami butuh didukung.

Dan yang tidak kalah penting, kami membutuhkan teladan dari mereka yang memiliki kewenangan dan kesempatan lebih besar untuk ikut hadir di tengah gerakan literasi masyarakat.

Kehadiran Paman Har hari itu memberikan energi baru bagi kami. Rasanya seperti ada pesan yang mengatakan:

"Apa yang kalian lakukan di ruang kecil ini berarti."

Kalimat itu mungkin tidak terucapkan secara langsung. Tetapi kehadiran beliau sudah cukup untuk membuat kami kembali percaya bahwa perjuangan kecil di gang ini tidak berjalan sendirian.

Membuat Anak Percaya bahwa Buku Itu Menyenangkan

Pada akhirnya, yang ingin kami tanamkan bukan sekadar kemampuan membaca. Kami ingin anak-anak memiliki pengalaman bahwa datang ke taman baca itu menyenangkan. Bahwa perpustakaan bukan tempat yang membosankan. Bahwa buku bukan sesuatu yang harus dipaksakan.Bahwa membaca bisa membuat kita tertawa, berimajinasi, bertanya, mengenal dunia, bahkan menumbuhkan optimisme.

Ketika seorang anak melihat orang dewasa membaca buku dengan gembira, mendengarkan cerita, bermain, membuat karya, dan menikmati perpustakaan, maka perlahan akan tumbuh sebuah pengalaman positif.

Mungkin hari ini ia hanya datang karena ingin bermain.
Besok ia mengambil satu buku.
Lusa ia mulai membaca.
Dan suatu hari nanti, bisa jadi ia akan menjadi orang yang membuka ruang baca untuk anak-anak lainnya.

Begitulah literasi tumbuh. Pelan-pelan. Dari satu anak ke anak lainnya. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari satu taman baca ke taman baca lainnya.

Terima Kasih untuk Mereka yang Terus Mendukung

Perayaan Hari Kunjung Perpustakaan di Rumah Baca Zhaffa juga semakin lengkap dengan hadirnya dukungan dari para sahabat yang percaya pada gerakan kecil ini.

Terima kasih bingkisan dari Pak Deputi 1 Peprusnas, donasi buku dari Majalah CIA dan donasi mainan dari Sedekah Mainan.

Bagi sebagian orang, mungkin buku dan mainan hanyalah benda.
Namun bagi kami, setiap buku yang datang adalah jendela baru bagi anak-anak. Setiap mainan yang diberikan adalah kesempatan bagi mereka untuk belajar sambil bermain.

Dan setiap bentuk dukungan yang datang adalah pengingat bahwa masih banyak orang yang percaya bahwa pendidikan dan literasi layak diperjuangkan.

Dari Ruang Kecil, untuk Mimpi yang Besar

Hari Kunjung Perpustakaan tahun ini kembali mengingatkan kami pada satu hal. Gerakan literasi tidak harus selalu dimulai dari tempat yang besar. Ia bisa dimulai dari ruang kecil.

Dari rumah.
Dari teras.
Dari gang.
Dari taman baca yang mungkin bahkan tidak banyak dikenal orang.

Tetapi selama masih ada orang yang mau membuka pintu, menyalakan lampu, menyusun buku, menemani anak membaca, dan terus percaya pada masa depan mereka, maka gerakan itu akan tetap hidup.

Rumah Baca Zhaffa hanyalah salah satu dari begitu banyak ruang kecil yang sedang berjuang menjaga nyala itu.
Dan kami percaya, ruang kecil bisa melahirkan mimpi yang besar.
Karena itu, untuk seluruh pegiat taman baca masyarakat di mana pun berada:
Jangan merasa kecil.
Jangan merasa apa yang kita lakukan tidak berarti hanya karena kita tidak memiliki gedung besar, anggaran besar, atau fasilitas yang lengkap.

Sebab mungkin, di ruang kecil yang kita jaga hari ini, ada seorang anak yang sedang menemukan alasan untuk bermimpi.

Dan mungkin, sebuah buku yang kita berikan hari ini sedang mengubah arah hidup seseorang di masa depan.

Selamat Hari Kunjung Perpustakaan.
Mari terus hadir.
Mari terus membuka pintu.
Mari terus menyalakan cahaya.

Untuk anak-anak. Untuk buku. Untuk masa depan.

Rumah Baca Zhaffa
Ruang kecil, mimpi besar. (wonkyudy)


Dok. Istimewa

Jumat, 11 September 2026

Ketika Duta Baca Turun ke Taman Baca


Sabtu pagi, 5 September 2026, menjadi salah satu hari yang akan kami ingat di Rumah Baca Zhaffa.

Hari itu, sekitar 30 anak berkumpul. Mereka datang dengan rasa ingin tahu, seperti biasanya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Hari itu, mereka kedatangan seorang tamu yang mungkin sebelumnya hanya mereka kenal dari cerita: Duta Baca Provinsi DKI Jakarta 2026.

Namanya Aisha Putri Safrianty, Mahasiswi Jurusan Ilmu Kesejahteraan  Sosial Universitas Indonesia yang baru saja terpilih. Hari itu, ia tidak datang sekadar untuk berkunjung. Ia datang untuk menjalankan perannya.

Rumah Baca Zhaffa menjadi salah satu titik dalam program pemberdayaan Duta Baca yang didukung oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi DKI Jakarta. 

Bagi kami, program ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah agenda kegiatan. Sebab, ketika seorang Duta Baca mau datang ke taman bacaan, duduk bersama anak-anak, membaca cerita, bermain, dan bercengkerama dengan mereka, sesungguhnya sedang terjadi sesuatu yang sangat penting. Literasi sedang didekatkan kepada anak-anak.

Selama ini, taman bacaan adalah ruang yang tumbuh dari masyarakat. Kami hadir, membuka pintu, menyediakan buku, membuat kegiatan, dan menemani anak-anak belajar. Namun ada kalanya kami bertanya dalam hati, apakah keberadaan taman bacaan ini benar-benar terlihat? Apakah ada yang tahu bahwa ada begitu banyak orang yang bekerja untuk membuat anak-anak dekat dengan buku dan pengetahuan? Kehadiran seorang Duta Baca di taman bacaan seperti menjawab pertanyaan itu. 

Hari itu, Aisha, yang pernah juga menjadi terbaik II Putri Duta Bahasa Provinsi DKI Jakarta tahun 2024 dan Juara 1 Mahasiswi  Berprestasi Utama FISIP UI 2025 ini membacakan cerita di hadapan anak-anak. Bukan dengan suasana yang kaku, bukan pula seperti sedang memberikan ceramah. Ia membacakan cerita dengan ceria, mengajak anak-anak berinteraksi, menyelipkan pertanyaan-pertanyaan ringan, dan membuat mereka merasa menjadi bagian dari cerita. Anak-anak tertawa. Mereka menjawab. Mereka berebut ingin ikut berbicara. Dan untuk sesaat, buku bukan lagi sesuatu yang hanya tersimpan di rak. Buku menjadi sebuah pengalaman.

Di kesempatan lain, Aisha juga membawa permainan tradisional tapak gunung melalui sebuah banner permainan. Anak-anak langsung antusias. Mereka mencoba, bermain, tertawa, dan saling menyemangati.

Tidak ada jarak antara seorang Duta Baca dan anak-anak. Yang ada hanyalah sebuah ruang kecil, anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, buku, permainan, dan seseorang yang datang membawa pesan bahwa membaca itu menyenangkan. Bagi kami sebagai pengelola Rumah Baca Zhaffa, justru di situlah makna kunjungan ini terasa begitu dalam.

Hari itu bukan hanya tentang bagaimana membuat 30 anak senang. Hari itu juga tentang bagaimana anak-anak mulai mengenal bahwa ada seorang Duta Baca yang peduli kepada mereka, peduli kepada buku, dan mau datang ke ruang-ruang kecil tempat anak-anak belajar. Karena menjadi Duta Baca, menurut kami, bukan hanya tentang gelar, selempang, atau panggung-panggung besar. Ada makna yang lebih sederhana, tetapi jauh lebih penting:  

turun.

Turun ke taman bacaan.

Turun menemui anak-anak.

Duduk bersama mereka.

Membacakan cerita.

Bermain bersama.

Mendengarkan suara mereka.

Dan melihat langsung bagaimana literasi tumbuh dari ruang-ruang kecil di tengah masyarakat.

Kami percaya, keberadaan Duta Baca akan sangat berarti ketika ia menjadi bagian dari ekosistem literasi yang sudah tumbuh di masyarakat. Taman bacaan bukan hanya tempat yang membutuhkan buku. Taman bacaan juga membutuhkan kehadiran, perhatian, jejaring, dan teladan. 

Dan ketika seorang Duta Baca memilih untuk mendekat kepada taman bacaan, bagi kami itu adalah sebuah pencapaian tersendiri.

Sebab, keberhasilan seorang Duta Baca mungkin bukan hanya diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dari seberapa banyak anak yang akhirnya merasa bahwa membaca adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.

Hari itu, mungkin Aisha hanya menghabiskan beberapa jam bersama kami.

Tetapi bagi anak-anak, bisa jadi pertemuan itu akan tinggal lebih lama.

Mereka akan pulang dengan cerita tentang seorang kakak bernama Aisha.

Tentang seseorang yang datang membawa buku.

Tentang permainan tapak gunung.

Tentang cerita yang dibacakan dengan ceria.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika mereka melihat buku atau mendengar kata Duta Baca, mereka akan teringat:

“Pernah ada seorang Duta Baca yang datang ke Rumah Baca Zhaffa dan membaca cerita bersama kami.”

Dan bagi kami, itulah inspirasi yang sesungguhnya.

Bukan sekadar membuat anak-anak bahagia hari itu, tetapi menanamkan sebuah kesan bahwa membaca adalah sesuatu yang layak dirayakan, dan mereka adalah bagian penting dari gerakan literasi.

Terima kasih, Aisha Putri, telah memilih untuk datang dan mendekat kepada taman bacaan.

Terima kasih telah hadir bukan hanya sebagai Duta Baca, tetapi sebagai seorang kakak yang mau duduk bersama anak-anak. Semoga langkah kecil di Rumah Baca Zhaffa ini menjadi awal dari semakin banyak langkah. Dari taman bacaan ke taman bacaan. Dari anak ke anak. Dari satu cerita ke cerita berikutnya.

Karena literasi tidak selalu tumbuh dari gedung yang besar.

Kadang ia tumbuh dari sebuah ruang sederhana, dari sebuah buku yang dibacakan, dari permainan yang dimainkan bersama, dan dari seseorang yang bersedia datang mengetuk pintu.

Ruang kecil, mimpi besar. (wonkyudy)

Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah serta sarana lebih lengkap, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, mainan edukatif, laptop, infocus, speaker atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.

Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 30A RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank BSI, No Rek:79-9999-4045, A/N RUMAH BACA ZHAFFA, Cabang Sudirman, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonkyudyzhaffa@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)