Siaran RPK FM

Dari Jejak Cerita Manggarai Hingga Siaran Radio

Spesial Hari Kunjung Perpustakaan

Sanggar Zhaffa Membuka Kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan

Duta Baca DKI Jakarta

Duta Baca Datang Untuk Menginspirasi Anak-anak

18 Tahun Rumah Baca Zhaffa

Orang Tua Sudah Menjadi Bagian dari Rumah Baca Zhaffa

Kunjungan dari Tiongkok

Dua orang dari Tiongkok berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa untuk menjalin kerjasama kegiatan

Minggu, 25 Oktober 2026

Mewarnai Tawa: Menghidupkan Kegiatan Kerelawanan Lewat Kreativitas dan Persiapan Matang


Menjadi seorang sukarelawan atau volunteer bukan sekadar tentang hadir dan mendampingi, melainkan bagaimana kita bisa menciptakan momen belajar yang menyenangkan dan berkesan bagi anak-anak. Salah satu cara terbaik untuk mencapainya adalah melalui aktivitas keterampilan yang menuntut kreativitas mereka.

Tentu saja, aktivitas kreatif ini perlu disesuaikan dengan tema yang dibawakan. Pada kegiatan bersama Amgala Foundation pada Minggu, 25 Oktober 2026, kami mengangkat tema yang sangat dekat dengan dunia anak-anak: Pengenalan Warna.

Belajar Teori dengan Praktik Langsung

Kegiatan diawali dengan sesi edukasi sederhana. Anak-anak diberikan penjelasan mendasar mengenai apa itu warna primer dan warna sekunder. Namun, belajar teori saja tentu kurang seru bagi mereka.

Di sinilah pentingnya persiapan logistik dan alat kegiatan. Kami menyediakan bahan dan cat warna primer untuk setiap anak, lalu menantang mereka untuk bereksperimen:

Apa yang terjadi jika warna merah dicampur dengan warna kuning?

Warna baru apa yang terpancar saat biru bertemu merah?

Mata mereka berbinar saat melihat perubahan warna di depan mereka sendiri. Proses eksplorasi ini menjadi pengalaman belajar yang aktif dan interaktif.

Puncak Acara: Melukis Topi Kanvas Kesukaan

Setelah memahami konsep pencampuran warna, saatnya menuangkan imajinasi mereka ke dalam media nyata! Acara puncak kreativitas hari itu adalah melukis topi menggunakan cat air.

Untuk mendukung sesi ini, kami telah menyiapkan paket peralatan lengkap untuk masing-masing anak, yang terdiri dari:
  • Paket cat air (dengan warna-warna dasar yang siap dieksplorasi)
  • Kuas lukis berbagai ukuran
  • Topi polosan sebagai media lukis
Anak-anak dibebaskan berkreasi sesuai imajinasi dan keinginan mereka. Ada yang melukis pemandangan, karakter favorit, hingga kombinasi abstrak penuh warna. Senyum bangga terpancar saat mereka melihat topi buatan sendiri siap untuk dipakai.

Mengapa Kebutuhan Alat Sangat Vital dalam Kegiatan Volunteer?

Melalui pengalaman bersama Amgala Foundation ini, kami makin menyadari bahwa kebutuhan alat dan bahan kreativitas adalah hal wajib yang harus dipersiapkan secara matang.

Alat-alat seperti cat, kuas, dan media lukis bukan sekadar barang fisik, melainkan jembatan bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri. Tanpa persiapan alat yang memadai, pesan edukasi yang ingin disampaikan tidak akan tersampaikan secara maksimal, dan kegembiraan anak-anak pun bisa terhambat.

Kegiatan kerelawanan yang sukses lahir dari niat yang tulus, ide kegiatan yang seru, dan persiapan alat yang lengkap. Mari terus berbagi kebahagiaan dan mengasah kreativitas generasi penerus kita melalui aksi-aksi kerelawanan berikutnya!

Apakah kamu punya pengalaman seru saat menyiapkan kegiatan kerelawanan untuk anak-anak? Bagikan cerita kamu di kolom komentar ya!
(wonk)

Rumah Baca Bukan Sekadar Tempat Membaca : Laboratorium Sosial (3)

Pengalaman menerima kunjungan dari berbagai kampus dan komunitas semakin menguatkan keyakinan kami bahwa rumah baca memiliki peran yang lebih luas daripada menyediakan buku dan mengajak anak-anak membaca.

Rumah baca dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas, membangun karakter, menumbuhkan toleransi, mengenalkan teknologi, serta membuka kesempatan bagi anak-anak untuk mengenali potensi dirinya.

Di saat yang sama, rumah baca juga dapat menjadi ruang praktik bagi mahasiswa yang ingin memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Teori yang mereka pelajari di ruang kelas dapat dipertemukan dengan realitas di lapangan. Mereka belajar bahwa setiap komunitas memiliki kebutuhan, setiap anak memiliki karakter yang berbeda, dan setiap program membutuhkan pendekatan yang sesuai.

Dalam proses ini, mahasiswa tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan. Mereka belajar menjadi pendengar, pengamat, perancang program, fasilitator, sekaligus pembelajar yang terbuka terhadap evaluasi.

Bagi Rumah Baca Zhaffa, inilah makna menjadi **laboratorium sosial dan literasi**. Sebuah ruang tempat ide bertemu kenyataan, pengetahuan dipraktikkan, dan pengalaman menjadi bahan pembelajaran bersama.

Kami percaya bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari program besar. Terkadang, perubahan tumbuh dari kegiatan sederhana: anak yang berani menceritakan pengalamannya, anak yang mulai belajar menulis menggunakan laptop, atau anak yang memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek temannya.

Begitu pula dengan mahasiswa dan relawan. Pengalaman mendampingi anak-anak, berdiskusi dengan pengelola rumah baca, dan mengevaluasi kegiatan dapat menjadi bekal untuk membangun kepekaan sosial di masa depan.

Karena itu, kolaborasi dengan kampus dan komunitas bukan sekadar tentang seberapa sering sebuah kegiatan dilaksanakan. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap pertemuan menghasilkan proses belajar, memperkuat hubungan, dan membuka peluang bagi perubahan yang berkelanjutan.

Rumah Baca Zhaffa ingin terus menjadi ruang tempat siapa pun dapat belajar bersama masyarakat, bukan hanya belajar tentang masyarakat.** Sebab, ketika gagasan dipertemukan dengan kebutuhan nyata dan dijalankan melalui kolaborasi, rumah baca dapat menjadi tempat tumbuhnya pengetahuan, kepedulian, dan perubahan sosial. (wonk)

Sehari Menjadi Laboratorium Praktik Sosial (2)

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Rumah Baca Zhaffa kembali menjadi ruang belajar bersama. Kali ini, kami menerima kunjungan Komunitas Hijau Foundation, Ikatan Pemuda Perempuan Nahdatul Ulama (IPPNU), mahasiswa Universitas Tarumanagara (Untar), mahasiswa Sastra Universitas Indonesia (UI), mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPN Veteran Jakarta) serta mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang datang belakangan.

Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana Rumah Baca Zhaffa dapat menjadi laboratorium praktik sosial bagi mahasiswa dan komunitas dari latar belakang yang berbeda.

Mereka tidak hanya datang untuk melihat aktivitas yang berlangsung di rumah baca. Para peserta terlibat dalam proses yang lebih utuh, mulai dari mendiskusikan kebutuhan anak-anak, merancang program, menentukan metode penyampaian materi, membagi tugas, hingga mempraktikkan langsung kegiatan bersama anak-anak.

Sebelum kegiatan dimulai, para relawan mendiskusikan tema yang akan disampaikan. Tema yang dipilih adalah “Kenapa Kita Berbeda?”.

Tema ini berangkat dari kehidupan anak-anak sehari-hari. Di antara mereka, ada perbedaan kesukaan, pilihan warna, model baju, celana, permainan, dan berbagai hal lainnya. Perbedaan tersebut terkadang menjadi bahan ejekan ketika anak-anak belum memahami bahwa setiap orang memiliki pilihan dan karakteristik yang tidak selalu sama.

Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak memahami bahwa berbeda bukan berarti salah. Seseorang boleh menyukai warna yang berbeda, memilih pakaian yang berbeda, atau memiliki permainan favorit yang tidak sama dengan temannya. Perbedaan pilihan bukan alasan untuk mengejek atau merendahkan orang lain.

Pembahasan juga diperluas pada perbedaan laki-laki dan perempuan, serta pentingnya menghargai keberagaman suku, agama, pilihan, dan latar belakang lainnya. Anak-anak diajak memahami bahwa hidup bersama membutuhkan sikap saling menghormati, kesediaan mendengarkan, dan kemampuan menerima bahwa orang lain tidak harus selalu sama dengan diri kita.


Materi tersebut disampaikan melalui aktivitas yang melibatkan anak-anak secara langsung. Dengan demikian, mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengamati, menyampaikan pendapat, dan belajar melalui interaksi bersama teman-temannya.

Bagi para relawan, kegiatan ini menjadi pengalaman untuk memahami bahwa menyampaikan materi kepada anak-anak membutuhkan persiapan dan metode yang sesuai. Sebuah gagasan yang baik perlu diterjemahkan menjadi aktivitas yang mudah dipahami, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak-anak.

Belajar Merancang, Melaksanakan, dan Mengevaluasi

Salah satu hal penting dari kegiatan kolaborasi di Rumah Baca Zhaffa adalah proses evaluasi setelah aktivitas selesai.

Setelah kegiatan bersama anak-anak berakhir, para relawan dan mahasiswa diajak melakukan refleksi. Kami mendiskusikan bagaimana kegiatan berlangsung, bagaimana respons anak-anak terhadap materi dan metode yang digunakan, serta apa saja hal yang dapat diperbaiki pada kegiatan berikutnya.

Evaluasi ini menjadi bagian penting dari proses belajar. Para relawan dapat melihat bahwa sebuah program tidak cukup hanya dirancang dengan ide yang menarik. Pelaksanaannya perlu memperhatikan kebutuhan peserta, cara berkomunikasi, pembagian peran, dinamika kelompok, serta respons anak-anak selama kegiatan berlangsung.


Dari proses tersebut, mahasiswa dan relawan belajar bahwa kegiatan sosial bukan sekadar datang, mengadakan acara, lalu pulang. Ada proses memahami masyarakat, membangun hubungan, merancang kegiatan yang relevan, melaksanakan program, dan menilai kembali apakah kegiatan tersebut benar-benar memberikan pengalaman yang bermakna.

Rumah Baca Zhaffa pun belajar dari setiap proses yang berlangsung. Interaksi dengan mahasiswa dan komunitas menghadirkan perspektif baru, ide-ide segar, serta kemungkinan pengembangan program yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak dampingan.

Kolaborasi ini menjadi ruang belajar dua arah. Mahasiswa dan relawan mendapatkan pengalaman praktik di tengah masyarakat, sementara Rumah Baca Zhaffa memperoleh dukungan gagasan, tenaga, dan kreativitas untuk mengembangkan kegiatan literasi dan pembelajaran. (wonk)


Rumah Baca Zhaffa: Laboratorium Nyata untuk Belajar dan Mempraktikkan Kolaborasi Sosial (1)

Tidak hanya menjadi tempat membaca buku, Rumah Baca Zhaffa juga menjadi ruang belajar bersama, tempat gagasan diuji, metode kegiatan dirancang, dan kolaborasi sosial dipraktikkan secara langsung.


Berulang kali, Rumah Baca Zhaffa menerima kunjungan mahasiswa dari berbagai kampus dan komunitas yang ingin belajar sekaligus melakukan praktik kegiatan sosial bersama anak-anak dampingan. Bagi kami, kunjungan ini bukan sekadar agenda silaturahmi atau kegiatan berbagi kebahagiaan dengan adik-adik. Lebih dari itu, Rumah Baca Zhaffa menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa dan relawan untuk memahami persoalan masyarakat, merancang program, mencoba metode pembelajaran, dan mengevaluasi dampak dari kegiatan yang mereka lakukan.

Dua kegiatan pada Jumat, 23 Oktober 2026, dan Sabtu, 24 Oktober 2026, menjadi contoh bagaimana kolaborasi tersebut tumbuh menjadi proses belajar bersama yang bermakna.

Dari Ide Menjadi Program: Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UNJ dan Jejak Cerita

Pada Jumat, 23 Oktober 2026, Rumah Baca Zhaffa kedatangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester 3. Kedatangan mereka merupakan bagian dari proses praktik untuk menggali ide dan gagasan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak dampingan.

Sebelum kegiatan dilaksanakan, kami berdiskusi mengenai kebutuhan dan program yang dapat dikembangkan bersama. Rumah Baca Zhaffa memiliki gagasan program bernama **Jejak Cerita**, yaitu sebuah program literasi yang mengajak anak-anak mendokumentasikan cerita dan pengalaman tentang perjalanan, kehidupan, serta lingkungan tempat mereka tumbuh.

Dari diskusi tersebut, mahasiswa akhirnya sepakat untuk mengembangkan program Jejak Cerita sebagai kegiatan praktik mereka.

Anak menuliskan cerita
Konsep yang dirancang tidak berhenti pada aktivitas membaca dan menulis biasa. Anak-anak juga akan diperkenalkan dengan literasi digital melalui penggunaan Microsoft Word. Mereka diajak memahami bahwa teknologi bukan hanya untuk bermain atau mencari hiburan, tetapi juga dapat digunakan untuk menuliskan pengalaman, menyimpan pengetahuan, dan menghasilkan karya.

Pada pertemuan pertama, anak-anak diajak mengingat pengalaman ketika bermain permainan tradisional bersama teman-temannya. Mereka diminta menceritakan kembali pengalaman tersebut, menggali hal-hal yang mereka rasakan dan pelajari, serta menemukan nilai-nilai yang muncul dari permainan bersama.


Setelah itu, anak-anak menuliskan cerita mereka di atas kertas. Cerita tersebut kemudian dipresentasikan di depan teman-temannya. Proses ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar menyusun gagasan, mengungkapkan pendapat, dan melatih keberanian berbicara di depan orang lain.

Tahap berikutnya adalah memindahkan cerita yang telah ditulis ke dalam laptop menggunakan Microsoft Word. Anak-anak tidak hanya belajar menggunakan perangkat digital, tetapi juga belajar mengolah pengalaman menjadi sebuah tulisan yang lebih terstruktur.

Pada pertemuan kedua, tulisan-tulisan tersebut direncanakan mulai dirancang menjadi sebuah buku. Dengan demikian, anak-anak dapat melihat bahwa pengalaman sederhana yang mereka miliki ternyata bisa menjadi cerita yang berharga dan layak dibagikan kepada orang lain.

Bagi Rumah Baca Zhaffa, proses ini penting. Anak-anak tidak selalu harus memulai literasi dari buku yang sudah tersedia. Mereka juga bisa belajar dari kehidupan sehari-hari, pengalaman bermain, interaksi dengan teman, dan lingkungan tempat mereka tinggal. Dari sanalah cerita tumbuh dan pengetahuan dibangun. (wonk)

Bersambung...


Kamis, 22 Oktober 2026

Literasi Bukan Hanya Tentang Membaca, Tetapi Juga Memberdayakan Keluarga



Literasi bukan semata-mata tentang bagaimana mendorong anak-anak agar lebih rajin membaca. Lebih dari itu, literasi juga perlu menyentuh kehidupan keluarga, termasuk bagaimana orang tua dapat berdaya, mengembangkan potensi, dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Melalui kolaborasi antara Rumah Baca Zhaffa dan Lembaga Manajemen Infak (LMI) Jakarta, upaya pemberdayaan keluarga diwujudkan melalui program bantuan dan pendampingan usaha bagi orang tua dari anak-anak yang mengikuti kelas atau aktif berkegiatan di Rumah Baca Zhaffa.

Saat ini, terdapat tiga unit usaha di Manggarai yang mendapatkan pendampingan secara rutin dari LMI Jakarta. Program ini diharapkan dapat membantu keluarga dampingan mengembangkan usahanya, meningkatkan penghasilan, serta membangun kemandirian ekonomi keluarga.

Pada Rabu, 21 Oktober 2026, dilaksanakan kegiatan pendampingan yang memasuki pertemuan keempat. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses untuk melihat perkembangan usaha, mengenali potensi yang dapat dikembangkan, serta mengidentifikasi berbagai kendala yang mungkin dihadapi oleh para pelaku usaha.
Bagi Rumah Baca Zhaffa dan LMI, pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan, kemudian selesai. Ada proses pendampingan dan pemantauan yang direncanakan selama enam bulan pada fase awal. Dengan demikian, perkembangan usaha dapat terus diperhatikan, keberhasilan dapat diperkuat, dan ketika muncul tantangan atau kegagalan, solusi dapat dicari bersama.

Kami percaya bahwa anak yang tumbuh dalam keluarga yang berdaya memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik. Karena itu, mendukung anak melalui literasi juga berarti memperhatikan lingkungan keluarga yang mendampingi tumbuh kembangnya.

Semoga ikhtiar kolaborasi Rumah Baca Zhaffa dan LMI Jakarta ini terus berkembang, sehingga semakin banyak keluarga yang memperoleh kesempatan untuk bertumbuh dan mandiri. Harapannya, dukungan ini tidak berhenti pada tiga unit usaha, tetapi dapat menjangkau lebih banyak keluarga dampingan di masa mendatang.

Karena literasi bukan hanya menumbuhkan minat baca, tetapi juga membuka jalan bagi keluarga untuk berdaya. (wonk)

Dok Foto:Iffa.


Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah serta sarana lebih lengkap, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, mainan edukatif, laptop, infocus, speaker atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.

Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 30A RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank BSI, No Rek:79-9999-4045, A/N RUMAH BACA ZHAFFA, Cabang Sudirman, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonkyudyzhaffa@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)