Sabtu pagi, 5 September 2026, menjadi salah satu hari yang akan kami ingat di Rumah Baca Zhaffa.
Hari itu, sekitar 30 anak berkumpul. Mereka datang dengan rasa ingin tahu, seperti biasanya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Hari itu, mereka kedatangan seorang tamu yang mungkin sebelumnya hanya mereka kenal dari cerita: Duta Baca Provinsi DKI Jakarta 2026.
Namanya Aisha Putri Safrianty, Mahasiswi Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia yang baru saja terpilih. Hari itu, ia tidak datang sekadar untuk berkunjung. Ia datang untuk menjalankan perannya.
Rumah Baca Zhaffa menjadi salah satu titik dalam program pemberdayaan Duta Baca yang didukung oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi DKI Jakarta.Selama ini, taman bacaan adalah ruang yang tumbuh dari masyarakat. Kami hadir, membuka pintu, menyediakan buku, membuat kegiatan, dan menemani anak-anak belajar. Namun ada kalanya kami bertanya dalam hati, apakah keberadaan taman bacaan ini benar-benar terlihat? Apakah ada yang tahu bahwa ada begitu banyak orang yang bekerja untuk membuat anak-anak dekat dengan buku dan pengetahuan? Kehadiran seorang Duta Baca di taman bacaan seperti menjawab pertanyaan itu.
Hari itu, Aisha, yang pernah juga menjadi terbaik II Putri Duta Bahasa Provinsi DKI Jakarta tahun 2024 dan Juara 1 Mahasiswi Berprestasi Utama FISIP UI 2025 ini membacakan cerita di hadapan anak-anak. Bukan dengan suasana yang kaku, bukan pula seperti sedang memberikan ceramah. Ia membacakan cerita dengan ceria, mengajak anak-anak berinteraksi, menyelipkan pertanyaan-pertanyaan ringan, dan membuat mereka merasa menjadi bagian dari cerita. Anak-anak tertawa. Mereka menjawab. Mereka berebut ingin ikut berbicara. Dan untuk sesaat, buku bukan lagi sesuatu yang hanya tersimpan di rak. Buku menjadi sebuah pengalaman.
Di kesempatan lain, Aisha juga membawa permainan tradisional tapak gunung melalui sebuah banner permainan. Anak-anak langsung antusias. Mereka mencoba, bermain, tertawa, dan saling menyemangati.
Tidak ada jarak antara seorang Duta Baca dan anak-anak. Yang ada hanyalah sebuah ruang kecil, anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, buku, permainan, dan seseorang yang datang membawa pesan bahwa membaca itu menyenangkan. Bagi kami sebagai pengelola Rumah Baca Zhaffa, justru di situlah makna kunjungan ini terasa begitu dalam.
Hari itu bukan hanya tentang bagaimana membuat 30 anak senang. Hari itu juga tentang bagaimana anak-anak mulai mengenal bahwa ada seorang Duta Baca yang peduli kepada mereka, peduli kepada buku, dan mau datang ke ruang-ruang kecil tempat anak-anak belajar. Karena menjadi Duta Baca, menurut kami, bukan hanya tentang gelar, selempang, atau panggung-panggung besar. Ada makna yang lebih sederhana, tetapi jauh lebih penting:
turun.
Turun ke taman bacaan.
Turun
menemui anak-anak.
Duduk
bersama mereka.
Membacakan
cerita.
Bermain
bersama.
Mendengarkan
suara mereka.
Dan
melihat langsung bagaimana literasi tumbuh dari ruang-ruang kecil di tengah masyarakat.
Kami percaya, keberadaan Duta Baca akan sangat berarti ketika ia menjadi bagian dari ekosistem literasi yang sudah tumbuh di masyarakat. Taman bacaan bukan hanya tempat yang membutuhkan buku. Taman bacaan juga membutuhkan kehadiran, perhatian, jejaring, dan teladan.
Dan ketika seorang Duta Baca memilih untuk mendekat kepada taman bacaan, bagi kami itu adalah sebuah pencapaian tersendiri.
Sebab, keberhasilan seorang Duta Baca mungkin bukan hanya diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dari seberapa banyak anak yang akhirnya merasa bahwa membaca adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.
Hari itu, mungkin Aisha hanya menghabiskan beberapa jam bersama kami.
Tetapi bagi anak-anak, bisa jadi pertemuan itu akan tinggal lebih lama.
Mereka akan pulang dengan cerita tentang seorang kakak bernama Aisha.
Tentang seseorang yang datang membawa buku.
Tentang permainan tapak gunung.
Tentang cerita yang dibacakan dengan ceria.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika mereka melihat buku atau mendengar kata Duta Baca, mereka akan teringat:
“Pernah ada seorang Duta Baca yang datang ke Rumah Baca Zhaffa dan membaca cerita bersama kami.”
Dan bagi kami, itulah inspirasi yang sesungguhnya.
Bukan sekadar membuat anak-anak bahagia hari itu, tetapi menanamkan sebuah kesan bahwa membaca adalah sesuatu yang layak dirayakan, dan mereka adalah bagian penting dari gerakan literasi.
Terima kasih, Aisha Putri, telah memilih untuk datang dan mendekat kepada taman bacaan.
Terima kasih telah hadir bukan hanya sebagai Duta Baca, tetapi sebagai seorang kakak yang mau duduk bersama anak-anak. Semoga langkah kecil di Rumah Baca Zhaffa ini menjadi awal dari semakin banyak langkah. Dari taman bacaan ke taman bacaan. Dari anak ke anak. Dari satu cerita ke cerita berikutnya.
Karena literasi tidak selalu tumbuh dari gedung yang besar.
Kadang ia tumbuh dari sebuah ruang sederhana, dari sebuah buku yang dibacakan, dari permainan yang dimainkan bersama, dan dari seseorang yang bersedia datang mengetuk pintu.
Ruang kecil, mimpi besar. (wonkyudy)












.jpg)
.jpg)



