Launching Kampung Literasi Manggarai

Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Meresmikan Kampung Literasi Manggarai Jakarta

Mural Kampung Literasi

Sejumlah Remaja Membuat Mural Literasi di Menara Air, Manggarai-Jakarta Selatan

Pojok Baca Manggarai

Pojok Baca RW 01 Manggarai di Di Datangi Gubernur DKI Jakarta

Pembukaan Pojok Baca RW. 06 Manggarai

Gubernur DKI Jakarta Meresmikan Pojok Baca RW.06 Manggarai

Anggota DPR Kunjungi Kampung Literasi Manggarai

Anggota DPR RI dari Partai Golkar Melakukan Foto Bersama Anak-Anak Binaan Kampung LIterasi Manggarai

Selasa, 17 Maret 2026

Agenda Kolaborasi


MENEMUKAN BRUNEI MELALUI SANG PROFESOR

MENEMUKAN BRUNEI MELALUI SANG PROFESOR

Oleh: Yudy Hartanto


 

Perjalanan saya bersama Forum TBM Jakarta ke Brunei Darussalam menyisakan satu kenangan yang sangat membekas tentang sosok yang selalu menemani kami selama di sana. Sebelum berangkat ke Brunei, saya pernah mendengar dari beberapa sumber bahwa negara ini tidak memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Katanya kotanya sepi, tidak terlalu hidup, dan tidak banyak aktivitas yang bisa dilihat wisatawan.

Namun sebuah perjalanan ternyata tidak hanya tentang tempat-tempat yang bisa diabadikan untuk mengisi unggahan media sosial. Dalam perjalanan itu, saya justru menemukan Brunei melalui pertemuan dengan seseorang yang sebelumnya tidak pernah saya kenal. Melalui dirinya, saya melihat sisi lain dari Brunei: kesederhanaan dan keramahan masyarakatnya.

Pertemuan itu terjadi ketika kami pertama kali menginjakkan kaki di kampus Universiti Brunei Darussalam (UBD), tempat berlangsungnya Festival Sastera yang kami ikuti. Sejak turun dari kendaraan hingga menaiki anak tangga menuju area pameran festival, kami disambut dengan hangat oleh para mahasiswa UBD. Mereka membantu mengarahkan kami menuju tempat pameran dan memastikan kami merasa nyaman.

Di sela-sela menjaga meja pameran dan menyapa para pengunjung yang datang, kami didampingi oleh seorang mahasiswa bernama Awang. Dialah yang kemudian memperkenalkan kami kepada seorang dosen yang menjadi pengampu kegiatan Festival Sastera tersebut. Perawakannya sangat sederhana namun bersahaja. Ia mengenakan peci hitam khas Melayu dan memiliki kumis tipis. Dari cara mahasiswa-mahasiswanya menyapa, terlihat jelas bahwa ia adalah dosen yang sangat disukai oleh para mahasiswanya.

Namanya Profesor Zefri Arif.

Seorang dosen sastra di Universiti Brunei Darussalam yang kemudian menjadi sosok penting yang membantu kami mengenal Brunei lebih dekat. Kesan pertama saya terhadap Profesor Zefri adalah sosok dosen yang sangat mudah akrab dengan siapa pun. Ketika saya bercerita bahwa kami datang dari Jakarta, ia langsung menanggapi dengan antusias. Ia bahkan mengatakan bahwa dua minggu sebelumnya ia baru saja berada di Jakarta dan bertemu dengan Kepala Dinas Perpustakaan Jakarta, Bapak Nasrudin Djoko.

Percakapan itu langsung membawa kami pada diskusi yang lebih luas tentang gerakan literasi di masing-masing negara, khususnya mengenai misi literasi yang kami bawa dari Jakarta.

Di kesempatan lain, Profesor Zefri juga memperkenalkan kami kepada berbagai tokoh penting yang hadir dalam festival tersebut. Salah satunya adalah Pemangku Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, Yang Mulia Awang Suip bin Haji Abdul Wahab.

Tidak lama kemudian, stan kami juga dikunjungi oleh Dekan UBD, Dr. Hajah Asiah Azzahrah binti Abdullah Kumproh. Pada sesi penutup acara, beliau bahkan mengundang kami untuk makan bersama di ruang makan khusus dan secara langsung menyampaikan terima kasih atas kehadiran kami dalam Festival Sastera tersebut.

Pertemuan-pertemuan ini terasa sangat berarti karena semakin mempererat hubungan budaya antara dua negara yang sama-sama memiliki akar Melayu.

Perjalanan literasi ke Brunei bagi kami akhirnya bukan sekadar memenuhi undangan Festival Sastera. Perjalanan ini berubah menjadi perjalanan budaya yang membuka banyak pengalaman baru. Dan di negeri yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi ini, justru seorang profesor menjadi teman perjalanan yang paling bersahaja.

Sebagai seorang dosen, Profesor Zefri tidak pernah menampilkan dirinya sebagai sosok yang merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalam perjalanan kami bersama, saya bahkan baru mengetahui bahwa ia juga merupakan Duta Bahasa Brunei. Mengetahui hal itu membuat saya semakin kagum terhadap upayanya dalam mengangkat dan menjaga bahasa Melayu agar tetap digunakan dengan baik dan benar serta tetap lestari.

Dalam dunia sastra Melayu, perannya tidak hanya terbatas pada bagaimana membuat mahasiswa mencintai sastra. Ia juga aktif membawa sastra Melayu keluar dari lingkungan kampus. Dosen yang juga menjabat sebagai Ketua Program Kesusastraan Melayu di Fakultas Sastera dan Sains Sosial UBD ini bahkan pernah melakukan aktivitas sastra di salah satu kampus terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia.

Ia adalah sosok akademisi yang tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga aktif di ruang budaya dan komunitas. Hal itu terlihat dari keterlibatannya sebagai ketua sekaligus salah satu pendiri komunitas budaya Kumpulan Putra Seni. Komunitas ini aktif mengajak berbagai kalangan masyarakat untuk melestarikan budaya Melayu melalui seni teater. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum seperti tukang dan mekanik ikut bergabung di dalamnya.

Dalam pendampingannya kepada kami setelah kegiatan Festival Sastera, ternyata Profesor Zefri juga telah menyusun berbagai agenda kunjungan. Salah satunya adalah kunjungan ke kantor Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei. Di sana kami diterima oleh Puan Hajah Hareini Haji Awang Damit selaku Pemangku Timbalan Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, bersama beberapa staf lainnya.

Dalam pertemuan tersebut kami berbagi cerita tentang berbagai kegiatan literasi yang kami lakukan di Jakarta. Mulai dari kegiatan membaca di gang kecil, festival literasi, hingga perpustakaan bergerak yang dijalankan oleh para pegiat literasi. Pihak Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei juga menceritakan salah satu program mereka, yaitu kegiatan pustaka di atas air di kawasan Kampung Ayer yang dijalankan oleh para pustakawan mereka. Saya menyadari bahwa bahasa telah menjadi jembatan persaudaraan Melayu, meskipun kami berasal dari negara yang berbeda.

Perhatian Profesor Zefri selama kami berada di Brunei terasa seperti perhatian seorang saudara jauh yang baru saja kami temui. Bahkan ia sering bertindak seperti seorang tour guide bagi kami. Dengan mengendarai kendaraan elf putih berkapasitas sepuluh orang, ia menjemput kami di hotel sejak pagi hari.

Suatu hari dalam perjalanan menuju komunitas Putra Seni, Profesor Zefri berkata bahwa ia harus menjemput anaknya terlebih dahulu yang baru pulang sekolah. Kami pun ikut menyaksikan momen kecil itu. Ia memperkenalkan anaknya kepada kami dengan penuh kasih sayang. Nama anaknya Wani.

Gadis kecil yang masih duduk di bangku prasekolah itu terlihat sangat ramah. Tidak butuh waktu lama baginya untuk akrab dengan kami. Ia bahkan langsung bermain tebak-tebakan dan bercerita tentang kegiatan sekolahnya.

Dari situ kami melihat sisi lain dari Profesor Zefri: sebagai seorang ayah yang penuh perhatian kepada keluarganya meskipun memiliki banyak kesibukan.

Di kesempatan lain, Profesor Zefri juga mengajak kami mengunjungi sekretariat komunitas Putra Seni yang berada di sebuah kompleks perumahan. Sekretariat tersebut memiliki halaman luas dengan gerbang putih yang sederhana. Di beberapa sudut halaman terdapat kedai kecil yang menjual makanan ringan. Bangunan sekretariatnya sendiri berdinding kayu dengan cat hijau muda yang sedikit memudar di beberapa bagian.

Ketika pintu kaca dibuka, kami disambut hangat oleh para anggota Putra Seni yang sudah menunggu di dalam.

Di dalam ruangan, berbagai properti pertunjukan teater tersusun rapi: replika perahu, properti pohon, berbagai kostum teater, serta alat-alat musik. Profesor Zefri menjelaskan bahwa komunitas ini sering bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka dalam berbagai pertunjukan seni dan teater.

Kami kemudian berdiskusi di sebuah meja panjang yang telah disiapkan. Percakapan berlangsung hangat tentang perkembangan sastra Melayu dan aktivitas seni teater yang mereka jalankan. Kami juga disuguhi berbagai makanan ringan dan minuman.

Yang paling menarik adalah ketika mereka menampilkan sebuah pembacaan puisi dengan konsep teater kecil. Seorang anggota duduk di kursi kayu sebagai seorang lelaki tua yang memegang tongkat sambil melamun. Puisi itu bercerita tentang perjuangan seorang ayah yang telah renta dalam merenungi perjalanan hidupnya.

Karena sambutan itu disiapkan secara spontan, kami pun secara spontan membalasnya dengan membacakan puisi dan berbagi cerita rakyat dari Indonesia.

Di ruangan sastra itu saya merasa bahwa jarak antara dua negara seakan menghilang. Kami sudah menyatu dalam aktivitas yang kami pahami bersama. Dipenghujung pertemuan hari itu tersingkap secara bersama adanya keinginan untuk kita dapat saling terhubung antar penggiat literasi sesame Negara ASEAN. Semoga saja hal ini dapat terwujud kelak

Pada suatu malam, telepon seluler saya menerima pesan dari Profesor Zefri. Sebuah agenda perjalanan telah ia susun dengan rapi lengkap dengan waktu dan lokasi kunjungan. Ia ingin menjamu kami untuk menikmati Brunei Darussalam. Sekali lagi, ia seperti menjadi tour guide bagi kami. Agenda itu mencakup kunjungan ke tempat makan di atas air, museum negara, Kampung Ayer, serta berbagai masjid indah di Brunei. Melalui cara itulah ia memperkenalkan Brunei dengan penuh kebanggaan.

Saya melihat bagaimana kehidupan masyarakat Brunei benar-benar diperhatikan oleh negaranya sehingg membuat nyaman dalam beraktivitas.

Profesor Zefri bukan sekadar pemandu jalan, tetapi pemandu yang benar-benar memahami negerinya. Perjalanan ke Brunei bagi saya akhirnya bukan hanya perjalanan menghadiri Festival Sastera. Perjalanan ini adalah perjalanan yang mempertemukan kami dengan orang-orang baru yang membuat pengalaman tersebut layak untuk dikenang.

Profesor Zefri, meskipun seorang profesor, tidak pernah menunjukkan jarak ketika berbicara dengan siapa pun. Ia tidak melihat jabatan atau status seseorang. Di Brunei saya belajar bahwa seorang profesor ternyata bisa menjadi teman seperjalanan, pemandu kota, bahkan sahabat dalam perjalanan. Dan dari Profesor Zefri, kami menepis cerita yang sebelumnya kami dengar tentang Brunei. Melalui dirinya, kami menemukan Brunei yang lain. (@wonkyudy)

 

 

 

 

 

Kamis, 07 Agustus 2025

Saat Sekolah Menyerah, Rumah Baca Zhaffa Menyapa



Namanya Dika (nama samaran), siswa kelas 2 SD. Di usianya, ia seharusnya sudah lancar membaca buku cerita. Tapi kenyataannya, untuk mengenali huruf pun Dika masih terbata. Tahun ajaran pun berganti, namun Dika tetap di kelas yang sama. Ia tidak naik kelas. Bukan karena ia malas—tapi karena ia tertinggal terlalu jauh.

Sang guru, dengan segala upaya dan kepeduliannya, telah mencoba menolong. Ia memberi waktu tambahan belajar, mengajak Dika membaca lebih sering. Namun di tengah puluhan murid lainnya yang juga butuh perhatian, akhirnya ia mengaku lirih,

“Saya sudah tidak mampu... Saya butuh bantuan. Dika perlu tempat khusus. Tempat yang lebih sabar, lebih fokus, dan bisa mendampinginya belajar membaca.”

Siang itu, seorang guru negeri berpakaian seragam datang ke Rumah Baca Zhaffa. Ia membawa Dika, bersama seorang siswa perempuan lainnya yang juga mengalami kesulitan membaca. Mereka ditemani dua orang tua, yang berharap anak-anak mereka masih punya kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

Sang guru bercerita, bahwa jika kedua anak ini tidak menunjukkan kemajuan dalam tahun ajaran ini, maka mereka harus pindah sekolah atas persetujuan orang tua. Tapi di tengah cerita yang berat itu, terselip harapan: beberapa siswa yang sebelumnya juga tertinggal kini sudah mulai lancar membaca.
Ketika ditanya di mana mereka belajar, jawabannya pun menggugah hati:
“Kami belajar di Rumah Baca Zhaffa.”

Dan di situlah segalanya dimulai.

Rumah Baca Zhaffa hadir, bukan untuk menggantikan sekolah. Tapi untuk menjadi ruang harapan.
Tempat di mana anak-anak seperti Dika disambut bukan dengan tuntutan nilai, tapi dengan pelukan, kesabaran, dan keyakinan bahwa semua anak bisa berkembang—asal diberi kesempatan.

Di ruang sederhana itu, Dika mengeja perlahan. Menyusun huruf demi huruf tanpa takut ditertawakan. Dibimbing oleh para relawan yang percaya bahwa tak ada anak yang bodoh—hanya anak yang belum menemukan cara belajar yang tepat.

Hari demi hari berlalu. Kemajuan kecil menjadi cahaya besar.
Mulai dari mengenali huruf dengan percaya diri, menyusun suku kata sederhana, hingga akhirnya membaca satu kalimat utuh yang membuat wajahnya bersinar bahagia.

Dan ketika hari itu tiba—hari di mana Dika bisa membaca lantang tanpa ragu—bukan hanya ia yang akan bangga. Tapi guru yang dulu hampir menyerah pun akan kembali bersemangat, menyaksikan muridnya tumbuh dengan bantuan tangan-tangan yang tulus.

Karena Rumah Baca Zhaffa bukan sekadar tempat membaca.

Ia adalah tempat di mana anak-anak yang tertinggal diberikan ruang untuk menyusul.
Tempat di mana tangan-tangan sukarela hadir, bukan untuk menghakimi, tapi untuk membimbing.
Tempat di mana pendidikan tidak sekadar soal rapor dan nilai—tapi soal keberanian untuk tidak menyerah pada satu anak pun.


#Cerita berdasarkan kisah nyata di Rumah Baca Zhaffa.

Kamis, 30 Januari 2025

Kelas Gratis Kena Pajak



Di sebuah hutan yang lebat dan hijau, hiduplah seekor singa yang bijaksana, Raja Hutan, yang sangat dihormati oleh semua penghuni hutan. Raja Singa dikenal sebagai penguasa yang adil dan cerdas, selalu mencari solusi yang bijak untuk setiap masalah yang muncul. Namun, meskipun Raja Singa dihormati, tidak semua penguasaannya berjalan mulus.


Di bawah Raja Singa, ada seorang Menteri Pajak bernama Kancil, seekor hewan kecil yang sangat cerdik, namun sifatnya sangat licik dan tidak disukai banyak orang. Kancil dikenal sangat tegas dan seringkali memungut pajak yang sangat tinggi dari hewan-hewan yang kesulitan. Salah satunya adalah seekor burung hantu yang baik hati, bernama Hantu, yang mengajar kelas-kelas gratis di hutan.

Hantu adalah seorang guru yang mengajar anak-anak hutan membaca dan menulis. Setiap hari, ia mengajarkan mereka ilmu pengetahuan secara cuma-cuma, karena ia percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap makhluk hidup di hutan. Namun, Kancil merasa bahwa kegiatan Hantu yang mengajar tanpa biaya itu merugikan pendapatan hutan. Karena itu, Kancil memutuskan untuk mengenakan pajak tinggi terhadap Hantu.

“Ini adalah pajak pendidikan yang harus dibayar! Anda mengajarkan ilmu tanpa izin,” kata Kancil dengan suara tegas.

Hantu merasa sangat terkejut dan sedih. Ia tidak pernah membayangkan bahwa untuk memberikan ilmu pada anak-anak hutan, ia harus membayar pajak yang begitu tinggi. Banyak hewan lain yang juga merasa tidak adil dengan keputusan Kancil, namun mereka takut untuk berbicara karena posisi Kancil yang sangat berpengaruh di bawah Raja Singa.

Mendengar keluhan dari banyak hewan yang datang kepada Raja Singa, sang raja pun merasa cemas. Ia memanggil Kancil untuk mendiskusikan masalah ini.

"Kancil, aku mendengar banyak keluhan tentang pajak yang kamu kenakan pada Hantu. Apa alasanmu?" tanya Raja Singa dengan tenang.

Kancil, yang sudah terbiasa dengan cara berbicara yang tajam, menjawab, "Raja, saya hanya menjalankan tugas saya. Pajak ini penting untuk mendukung pengelolaan hutan. Hantu harus membayar karena kegiatan mengajarnya menguntungkan banyak pihak."

Namun, Raja Singa yang bijaksana itu memandang dengan serius dan berkata, "Kancil, apakah kamu tidak menyadari bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk hutan kita? Jika anak-anak hutan belajar, mereka akan menjadi lebih bijaksana dan mampu membantu menjaga hutan ini. Tidak seharusnya kita membebani mereka yang berusaha memberikan manfaat tanpa pamrih."

Kancil terdiam, namun ia masih merasa enggan untuk menerima keputusan Raja Singa. Raja Singa kemudian mengusulkan suatu solusi yang bijak.

"Hantu tidak akan dikenakan pajak untuk kegiatannya mengajar. Sebaliknya, kita akan mengenakan pajak yang adil kepada mereka yang memiliki banyak kekayaan dan tidak berkontribusi pada kesejahteraan hutan ini," kata Raja Singa dengan suara yang tegas.

Kancil akhirnya menyadari kesalahannya dan setuju untuk merevisi kebijakan pajak yang ia terapkan. Semua hewan di hutan merasa lega dan berterima kasih kepada Raja Singa atas kebijaksanaannya. Hantu pun melanjutkan kegiatan mengajarnya tanpa hambatan, dan semakin banyak hewan yang datang untuk belajar. Hutan pun menjadi tempat yang lebih harmonis, dengan setiap makhluknya saling menghormati dan membantu.

Dan sejak saat itu, Kancil belajar untuk lebih bijaksana dalam menjalankan tugasnya, serta menyadari bahwa keberhasilan sebuah hutan tidak hanya bergantung pada kekayaan, tetapi juga pada ilmu pengetahuan dan kebaikan yang diberikan kepada sesama.


#cerita diangkat dari kisah nyata rumah baca zhaffa

Rabu, 09 Agustus 2023

Donasi Buku Astha

Rumah Baca Zhaffa menerima donasi buku dari Astha Distric 8 sebanyak 6 dus buku. Donasi buku ini didapat dari pengunjung Astha yang dilaksanakan selama bulan Juli 2023.




Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah serta sarana lebih lengkap, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, mainan edukatif, laptop, infocus, speaker atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.

Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 30A RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank BSI, No Rek:79-9999-4045, A/N RUMAH BACA ZHAFFA, Cabang Sudirman, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonkyudyzhaffa@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)