Siaran RPK FM

Dari Jejak Cerita Manggarai Hingga Siaran Radio

Spesial Hari Kunjung Perpustakaan

Sanggar Zhaffa Membuka Kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan

Duta Baca DKI Jakarta

Duta Baca Datang Untuk Menginspirasi Anak-anak

18 Tahun Rumah Baca Zhaffa

Orang Tua Sudah Menjadi Bagian dari Rumah Baca Zhaffa

Kunjungan dari Tiongkok

Dua orang dari Tiongkok berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa untuk menjalin kerjasama kegiatan

Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Januari 2012

Film “Kita Versus Korupsi”.







Ruang keluarga sangat penting untuk menanamkan moralitas. Maka jangan heran, jika banyak pihak yang tidak suka Indonesia maju dengan menghajar ruang-ruang keluarga. Bisa lewat hiburan budaya pop seperti musik, film, dan televisi serta teknologi internet atau hanphone.

Memecah keutuhan keluarga dengan mengikis rasa hormat anak pada orang tua. Berbohong kepada keluarga. Atau memecah kesetiaan suami isteri dengan menganggap enteng perselingkuhan, bahkan menganggap sepele soal perceraian. Ruang keluarga dibikin hancur tak terkendali.

“Keluarga merupakan basis moral utama, lewat film ini kami ingin membangun semangat memerangi korupsi. Berawal dari keluarga,”, ujar pejabat KPK.

Kamis, 26 Januari 2012, KOMPAK (Komunitas Perpustakaan Anti Korupsi) ikut menyaksikan pemutaran perdana film Kita Versus Korupsi di Djakarta Theater, Jakarta Pusat. Sejak sore hari, suasana sudah ramai oleh jurnalis dan para artis pendukung film, pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), produser film. TI, MSI dan USAID. Film Kita Versus Korupsi merupakan rangkaian 4 film pendek yang melibatkan masyarakat dalam ide ceritanya.

Film Kita Versus Korupsi (KVK) membidik ruang-ruang keluarga. Membangun mentalitas sehat anti korupsi. Memangkas kebiasaan mencari keuntungan pribadi dengan menyalahgunakan wewenang. Film ini merupakan gerakan dalam memerangi mentalitas cari jalan pintas. Mentalitas adalah akar rumput korupsi. Korupsi menyengsarakan rakyat, kemiskinan, bahkan kedangkalan moral.

Film "Kita Versus KPK" merupakan gabungan empat film pendek berjudul "Rumah Perkara", "Aku Padamu", "Selamat Siang, Risa!" dan "Psstt... Jangan Bilang Siapa-Siapa" yang masing-masing bercerita mengenai korupsi 'kecil' di masyarakat.

Film pertama berkisah tentang seorang Lurah yang telah menjabat atas dukungan masyarakat. Sebelum menjabat dia berjanji untuk mensejahterakan rakyatnya. Tapi ektika sudah menjabat, justru dia menyengsarakan rakyat pendukungnya dengan mengusir mereka dengan menjual lahan-lahannya kepada pengembang untuk dijadikan komplek perumahan dan sport center. Bahkan, diapun berselingkuh dengan janda. Sang lurah pun tak kuasa menepati janji untuk melindunginya dari keserakahan pengembang.

Film kedua berjudul “Aku Padamu”, bercerita tentang sepasang kekasih yang ingin melakukan kawin lari dengan mendatangi KUA. Tapi terhambat karena tidak memiliki kartu keluarga. Sang pemudapun mencoba menyogok pejabat KUA yang menawarkan jasa jalan pintas. Tapi pasangannya menolak dengan mengatakan bahwa “sama saja menyogok dengan Tuhan”. Dan dia teringat kisah tentang guru sekolahnya waktu kecil. Seorang guru yang harus berhenti menjadi guru honorer karena menolak untuk membayar guna menjadi guru tetap. Hingga akhirnya dia meninggal.

Film lainnya adalah “Selamat siang Risa!” . Film ini mengambil setting tahun 1970an. Berkisah tentang seorang penjaga gudang yang menolak untuk menyewakan gudangnya untuk penimbunan beras milik cukong beras. Meskipun dia ditawari bergepok-gepok uang dihadapannya. Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga yang coba membantu biaya pengobatan anaknya dengan menjadi penjahit.

Film terakhir berjudul "Psssttt... Jangan Bilang Siapa-Siapa". Kisah tentang 3 pelajar putri SMA yang berpandangan beda tentang masalah mendapat uang. Seorang dari mereka dengan mudah mendapatkan uang dari bapaknya untuk membeli buku yang ternyata didukung oleh mamanya dengan meminta uang lebih dari harga buku. Seorang yang lain mendapatkan uang dengan membantu gurunya dan kepala sekolah menjual buku paket sekolah kepada teman-temannya dan dia mendapat komisi. Sedangkan yang satunya, dia menabung hingga setahun untuk membeli kamera yang dia idam-idamkan.

Film ini hanyalah sekelumit contoh kecil korupsi yang ada disekitar kita, dari yang paling kecil yaitu keluarga.

Kalau saja para koruptor datang menonton film ini. mungkin dia akan berujar, “Gila nih film…Gue Bangettt…!!!”

(wonk)

Rabu, 14 Desember 2011

GARUDA DIDADAKU 2


Bertempat di Gandaria City, Jakarta, Sabtu (11/12) kami berkesempatan menonton pemutaran perdana film Garuda Didadaku 2 Karya Rudi Sudjarwo.

Pada pemutaran perdana ini dihadiri juga oleh para pemainnya dan juga sang sudradara serta Mba MIra Lesmana tampak ikut hadir. Banyak yang ingin menyaksikan film ini, terlihat dari antrian didepan loket karcis.

FIlm Garuda Didadaku 2 ini menceritakan tentang sosok Bayu yang tetap semangat untuk menjadi pemain hebat Indonesia. Bayu merasa pantas untuk mengenakan kostum timnas junior Indonesia untuk mengikuti kejuaran Junior ASEAN CUP.

Sang pelatih kali ini diganti oleh pelatih baru yaitu Pak Wisnu. Pak Wisnu berkeinginan meningkatkan fisik para pemain dengan menu latihan yang dianggap berat oleh Bayu dan kawan-kawan. Pak Wisnu juga tidak ingin diintervensi oleh para pengurus sepakbola yang merasa menggajinya dalam hal mengolah tim.

Dikelas bayu mendapat teman baru, Anya, yang akan menjadi ketua kelompok grupnya. Anya adalah cewe idealis, dikarenakan bertemu dalam satu kelompok, lama-lama bayu mulai suka dengan Anya.

Dalam perjalanannya, Bayu mulai merasa tersaingi dengan hadirnya Yusuf bintang baru dalam tim nasional. Temannya mulai meninggalkannya dan lebih dekat dengan Yusuf. Ibunya juga mulai sibuk dengan urusan bisnisnya bersama teman kenalannya. Kondisi ini membuat bayu tidak bisa mengikuti latihan menjelang final melawan Thailand. Bayu malah pergi bersama Anya ke sebuah taman. Ban Kapten yang disandangnya harus rela diberikan kepada temannya.

Setelah kembali kerumah, bayu mendapatkan semangat baru untuk bangkit. Disekolah presentasi bayu memukau guru-gurunya.

Menjelang pertandingan Final, Bayu datang telat dan memohon kepad apelatih untuk kembali dimasukan dalam tim nasional demi Garuda didada.

Akhirnya pada partai final tim nasional junior mampu menjuarai ASEAN CUP.

Sebuah prestasi membanggakan. Smeoga saja tidak hanya disebuah film, semoga juga tim nas senior sebenarnya mampu membawa Garuda terbang lebih tinggi lagi.

Selesai menonton ada sesi foto bareng dnegan para bintang film tersebut.

Rabu, 24 Juni 2009

BAJU SERAGAM UNTUK ANAK PEMULUNG



Film berjudul Baju Seragam Anak Pemulung menceritakan tentang perjuangan dua orang anak yang bekerja sebagai pemulung sampah namun tetap mempunyai niat untuk bersekolah meski uang yang mereka punya sangat minim. Pada awal cerita menceritakan tentang dua orang kakak beradik yang hidup sebagai pemulung bersama kakeknya. Sang kakak bernama Efi dan sang adik bernama Akil. Pada suatu ketika sang kakek dari kedua orang kakak beradik itu mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan sang kakek akhirnya meninggal dunia. Setelah sang kakek meninggal dunia, kedua kakak beradik itupun hidup sebatang kara tanpa wali maupun orang tua. Namun akhirnya mereka mendapatkan asuhan dari bibi mereka, tentunya dengan kondisi kehidupan yang tidak jauh beda dengan pada saat bersama sang kakek, yakni hidup dengan kemiskinan dan tetap memulung sampah.
Meski kesehariannya sebagai pemulung sampah, namun baik Efi dan Akil tetap bersemangat untuk bersekolah. Kedua anak tersebut sama-sama terduduk di bangku sekolah dasar. Yang membedakan adalah, Efi bersekolah di waktu pagi dan Akil bersekolah di waktu siang hari. Yang benar-benar membuatku merasa iba dan terenyuh, adalah ketika Efi sepulang sekolah harus secepatnya menemui adiknya, Akil. Setelah bertemu dengan Akil di sebuah tempat yang dijanjikan, Efi mesti segera mencopot seragam kemeja putihnya untuk secepatnya diberikan kepada Akil agar adiknya itu bisa masuk sekolah setiap hari. Karena uang yang sangat minim, mereka hanya mempunyai sebuah kemeja seragam sekolah, jadi setiap hari harus saling bergantian baju seragam agar baik Efi maupun Akil tetap bisa sekolah.
Pada suatu ketika Akil harus mengalami kecelakaan sehingga mesti dibawa ke dokter untuk mengobati lukanya. Di sisi lain karena merasa terbebani dengan keberadaan Efi dan Akil, akhirnya si bibi memutuskan mengusir kedua kakak beradik itu dari rumahnya. Setelah keluar dari dokter, Efi dan Akil harus hidup terlunta-lunta di jalanan tanpa mempunyai rumah untuk berteduh. Merekapun juga tidak lagi bisa bersekolah karena segala pakaian dan seragam telah dijual ke pasar untuk pengobatan Akil.
Ibu guru Efi di sekolah mendapat kabar gembira bahwa Efi memenangkan lomba mengarang tingkat kabupaten. Namun karena sudah beberapa hari Efi tidak masuk sekolah, malah membuat gurunya cemas mencari keberadaan Efi. Hingga akhirnya, si ibu guru malah menemukan Akil sedang sakit dan terbaring lemah di dalam pasar. Efi pada saat itu sedang ke apotek membeli obat. Mendapati Akil sedang sakit, ibu guru lalu membawanya ke rumah sakit. Efi pun juga kemudian menyusul ke rumah sakit dan bertemu dengan ibu guru. Singkat cerita, akhirnya Akil sembuh dari sakitnya dan ibu guru tersebut mengangkat Akil dan Efi sebagai anaknya. Merekapun akhirnya bisa bersekolah lagi, tentunya dengan seragam sekolah yang di punyai masing-masing.
Huh.. Sungguh aku baru saja menyaksikan film yang bermutu, mendidik dan mencerahkan hati penontonnya. Jika pembaca hanya membaca sinopsis cerita yang aku tulis di atas, maka itu belumlah cukup untuk tahu maksud/kandungan yang tersirat di dalam film. Satu pelajaran atau hikmah penting yang bisa aku ambil setelah menonton film tersebut adalah bahwa untuk bisa bersekolah dan pintar tidak harus dari golongan orang kaya saja, namun adanya niat, tekad dan usaha itulah yang malah bisa menjadi modal awal seseorang untuk meraih kesuksesan, termasuk sekolah dan pintar!

Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah serta sarana lebih lengkap, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, mainan edukatif, laptop, infocus, speaker atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.

Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 30A RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank BSI, No Rek:79-9999-4045, A/N RUMAH BACA ZHAFFA, Cabang Sudirman, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonkyudyzhaffa@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)