Ketika Dua Tamu dari Tiongkok Menyapa Rumah Baca Zhaffa
Siang itu, Senin, 27 Juli 2026, jam sudah menunjukkan pukul dua. Seperti biasa, waktu tersebut menjadi salah satu momen belajar bagi anak-anak kelas 3 hingga 6 SD di Rumah Baca Zhaffa (RBZ).
Sekitar 20 anak mengikuti kelas bimbingan belajar gratis yang rutin dilaksanakan di RBZ. Hawa panas Jakarta yang masuk ke dalam ruangan tidak sedikit pun menyurutkan semangat mereka untuk belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh para relawan.
Enam meja kecil berwarna-warni menjadi tempat mereka menulis dan menyelesaikan tugas. Kursi-kursi yang juga berwarna-warni terkadang terasa sempit karena harus digunakan bersama. Namun, tidak terdengar keluhan dari mereka.
Barangkali, dalam benak anak-anak itu ada sebuah keyakinan sederhana: yang terpenting hari ini kami mendapatkan pengetahuan baru untuk masa depan.
Di tengah suasana belajar yang serius, tiba-tiba kedatangan dua orang tamu membuat suasana sedikit berubah. Mereka adalah tamu dari Tiongkok yang datang ke Rumah Baca Zhaffa, didampingi oleh Sony Tan, Direktur PT Nusantara Pelabuhan Handal (NPH), sosok yang selama ini juga aktif mendukung dan membantu gerakan literasi di Jakarta.
Kedatangan tamu dari negeri yang jauh tentu menarik perhatian anak-anak. Rasa penasaran pun mulai muncul. Siapa mereka? Dari mana mereka datang? Mengapa mereka berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa?
Yudy dan Neli, Suami Istri, pendiri sekaligus pengelola Rumah Baca Zhaffa, menyambut kedatangan mereka dan mengajak masuk untuk melihat lebih dekat aktivitas serta perjalanan RBZ.
Dari Teras Rumah Berukuran 2 x 3 Meter
Ketika mendengar perjalanan Rumah Baca Zhaffa yang pada tahun ini memasuki usia 18 tahun, kedua tamu tersebut tampak terkesan.
Apalagi ketika mengetahui bahwa perjalanan panjang RBZ tidak dimulai dari sebuah gedung besar, bukan pula dari sebuah lembaga dengan dukungan dana yang kuat.
Semuanya bermula dari sebuah teras rumah orang tua berukuran hanya 2 x 3 meter.
Dari ruang kecil itulah mimpi besar tentang pendidikan dan literasi bagi anak-anak di Manggarai mulai tumbuh.
Kedua tamu tersebut kemudian tertarik mengetahui bagaimana Rumah Baca Zhaffa menjalankan kegiatan sehari-hari, termasuk bagaimana biaya operasionalnya dipenuhi.
Yudy menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun operasional RBZ banyak berjalan dari inisiatif pribadi dan dukungan berbagai pihak yang datang silih berganti. Rumah Baca Zhaffa juga belum memiliki donatur tetap dalam jangka panjang.
Baru beberapa bulan terakhir, seorang dosen secara rutin memberikan dukungan dengan mentransfer sejumlah dana untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik Rumah Baca Zhaffa.
Cerita sederhana tersebut justru menjadi bagian yang menarik bagi para tamu. Sebuah rumah baca yang mampu bertahan dan terus bergerak selama hampir 18 tahun, meskipun dibangun dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Dari Manggarai hingga Dunia Internasional
Perjalanan Rumah Baca Zhaffa ternyata tidak berhenti di lingkungan sekitar Manggarai.
Ketika Yudy memperlihatkan berbagai dokumentasi kegiatan RBZ, kedua tamu tersebut semakin kagum. Selama ini Rumah Baca Zhaffa telah membangun kolaborasi dengan berbagai perusahaan, komunitas, perguruan tinggi, dan lembaga lainnya.
Bahkan, jaringan kolaborasi tersebut telah menjangkau hingga ke luar Indonesia, antara lain dengan berbagai pihak dari Australia dan Korea.
Pengalaman Yudy dalam membangun jejaring literasi juga tidak hanya dilakukan melalui Rumah Baca Zhaffa. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jakarta periode 2021–2026.
Dalam kapasitas tersebut, Yudy bersama Forum TBM Jakarta pernah membawa delegasi dalam kegiatan literasi ke Qatar dan Brunei Darussalam.
Bagi Rumah Baca Zhaffa, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa gerakan literasi yang tumbuh dari ruang kecil di Manggarai ternyata dapat membuka pintu kolaborasi hingga ke berbagai penjuru dunia.
Mimpi yang Lebih Besar
Dalam pertemuan tersebut, Yudy juga menyampaikan harapannya agar hubungan dan komunikasi dengan para tamu dari Tiongkok dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi sebuah kolaborasi nyata.
Bukan sekadar kunjungan.
Lebih jauh, Rumah Baca Zhaffa ingin membangun kerja sama yang dapat mendukung gerakan literasi dan pendidikan bagi anak-anak.
Mimpinya sederhana, tetapi besar: memperluas sarana ruang baca dan mengembangkan Rumah Baca Zhaffa agar semakin banyak anak mendapatkan kesempatan belajar dan pendidikan secara lebih merata.
Sebab, bagi RBZ, literasi bukan hanya tentang buku.
Literasi adalah tentang membuka kesempatan.
Tentang memberikan ruang kepada anak-anak untuk belajar.
Tentang menghadirkan harapan bahwa keterbatasan tempat dan keadaan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
“Annyeonghaseyo!”
Waktu kunjungan pun akhirnya selesai.
Ketika kedua tamu tersebut berpamitan, anak-anak yang sejak tadi memperhatikan mereka tiba-tiba dengan penuh semangat mengucapkan salam perpisahan.
“Annyeonghaseyo!” teriak beberapa anak.
Kedua tamu tersebut tertawa.
“Ah, salah. Kami dari Tiongkok, beda negara,” ujar mereka dalam bahasa Inggris.
Seketika suasana menjadi lebih cair. Anak-anak pun tertawa, sementara para tamu berjanji akan kembali berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa.
Ada satu pesan yang kemudian mereka sampaikan kepada anak-anak:
Kelak, kalian harus belajar bahasa Mandarin.
Siang itu, mungkin hanya berlangsung sebuah kunjungan sederhana.
Namun bagi anak-anak di Rumah Baca Zhaffa, kedatangan dua tamu dari negeri yang jauh telah membuka sebuah jendela baru tentang dunia.
Bahwa belajar tidak hanya membawa mereka mengenal buku dan pelajaran di dalam kelas.
Belajar juga dapat membawa mereka bertemu dengan orang-orang baru, mengenal budaya lain, membangun persahabatan, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan.
Dari sebuah ruang kecil di Manggarai, mimpi itu terus tumbuh.
Rumah Baca Zhaffa — Ruang kecil, mimpi besar. (wonyudy)


.jpg)




0 comments:
Posting Komentar