Siaran RPK FM

Dari Jejak Cerita Manggarai Hingga Siaran Radio

Spesial Hari Kunjung Perpustakaan

Sanggar Zhaffa Membuka Kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan

Duta Baca DKI Jakarta

Duta Baca Datang Untuk Menginspirasi Anak-anak

18 Tahun Rumah Baca Zhaffa

Orang Tua Sudah Menjadi Bagian dari Rumah Baca Zhaffa

Kunjungan dari Tiongkok

Dua orang dari Tiongkok berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa untuk menjalin kerjasama kegiatan

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 September 2013

RB Zhaffa Juara ke-2

Alhamdulilah, dengan puji syukur  kepada Allah SWT, kami Rumah Baca Zhaffa mendapatkan  juara ke-2 lomba pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pada acara Jambore/Apresiasi PTK-PAUDNI berprestasi 2013 tingkat Provinsi DKI Jakarta.  Ajang ini dilakukan di gedung P3PNFI, Kebon Jeruk-Jakarta Barat dari tanggal 2-6 September 2013.


Perolehan juara ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan bagi kami, walau belum menjadi yang pertama.

Apalagi, ini juara tingkat provinsi. Berarti Rumah Baca Zhaffa Kelurahan Manggarai-Jakarta Selatan, bisa mengalahkan ratusan TBM yang ada di Provinsi DKI Jakarta. Sebuah prestasi yang harus bisa dipertahankan dan ditingkatkan. Kemenangan ini sebagai spirit, untuk meraih prestasi lainnya.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu Rumah Baca Zhaffa yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Dukungan kalian sangat berarti buat kami.

Sabtu, 17 November 2012

MIMPI DARI TERAS RUMAH

Jumat, 10 Agustus 2012

Tips Jitu Agar Naskah Bukumu Diterima Oleh Penerbit Besar

Dari redaksi RBZ
"Kami membaca postingan ini di Kompasiana, dan karena kami rasa sangat menarik untuk disebarkan maka postingan ini kami posting kembali di blog Rumah Baca Zhaffa."
silahkan dibaca, semoga bermanfaat.
Pagi ini saya mendapatkan pesan dari salah seorang kompasianer dalam inbox saya di kompasiana. Beliau meminta saran dan beberapa tips agar naskah bukunya diterima oleh penerbit. Berikut ini isi pesannya:
=======================================================================
Bagi Tips and Nasehatnya mas
Assalamualaikum Mas Wijaya, semoga selalu dalam limpahan rahmat dan keberkahan Yang Kuasa Bunda.
Mas Wijaya, to the point aja nech, gak pake basa-basi,hehehe (maafkan adek ingusan keterlaluan mas..  ).
Mas, Aku mau nanya nech soal nerbitin buku. Aku sekarang lagi menyempurnain dua naskah bukuku dengan tema: sejarah+wisata dan agama. Semoga ntar lagi kelar, dan ini pertama kalinya buat aku. Aku menganggap mas wijaya orang cukup senior dan berpengalaman dalam bidang yang satu ini, maka dari itu aku minta masukan mas atau kiat-kiat (atau tips) biar naskah diterbitkan.
Bagaimana mengajukan naskah ke penerbit? Yang kita serahin sipnosis or print out naskah? Kalau bunda punya penerbit yang sinkron dengan tema buku, mohon di-sharing-Mas…terimakasih. ditunggu masukan dan nasehat penerbitannya mas wijaya.
=========================================================================

Saya tertegun sejenak membaca pesan di inbox itu. Saya pun langsung membuat postingan ini agar dapat dibaca oleh semua kompasianer yang barangkali mengalami hal yang sama ketika ingin menerbitkan bukunya. Oleh karena itu, saya ingin menceritakan pengalaman saya dalam menerbitkan buku, dan beberapa tips jitu agar naskah buku yang kita susun diterima oleh penerbit buku yang berskala nasional.
Beberapa tips agar naskah bukumu diterima penerbit adalah:

  1. Untuk siapa buku itu diterbitkan

  2. Ungkapkan keunikan dalam buku yang anda tulis

  3. Yakinkan penerbit kalau bukumu memiliki nilai jual yang tinggi

  4. Original, dan kredibel

  5. Ajak orang lain membaca karya tulismu
Kelima tips di atas itulah yang saya lakukan dalam menerbitkan buku-buku saya yang alhamdulillah diterima oleh pasar atau pembaca. Sampai saat ini, buku-buku saya terus beredar luas ke seluruh nusantara. Padahal kalau mau jujur, saya pun pernah mengalami penolakan. Buku yang saya susun ditolak oleh penerbit besar.
Ditolak oleh penerbit itu biasa, karena mereka belum tahu nilai jual buku yang kita tuliskan. Sementara penulis, tidak pernah memikirkan nilai jual, tetapi lebih menekankan manfaat untuk apa saya menulis. Sehingga seringkali antara penerbit dan penulis tidak nyambung. Itulah mengapa buku yang kita susun seringkali ditolak penerbit.
Saya akan menjelaskan satu persatu tips jitu yang saya tuliskan di atas sebagai berikut:
Pertama, Untuk siapa buku itu diterbitkan
Ketika kita menuliskan dan menyusun sebuah buku, pertanyaan yang paling mendasar adalah untuk siapa buku itu diterbitkan? Itulah yang paling awal dirasakan oleh seorang penulis. Ketika kita sudah memantapkan diri bahwa buku yang kita tuliskan untuk siapa saja, maka buku itu lebih cocok dalam bahasa yang populer. Tetapi bila buku itu diperuntukkan untuk dunia pendidikan misalnya, maka bahasa yang digunakan haruslah banyak menyinggung soal-soal pendidikan. Untuk siapa buku itu diterbitkan adalah langkah awal kita melangkah menuju ke tahapan berikutnya.
Kedua, Ungkapkan keunikan dalam buku yang anda tulis
Ungkapkan kepada penerbit keunikan dari naskah buku anda. Tentu kita harus mengirimkan naskah print out dan sinopsisnya. Ketika penerbit melihat ada keunikan khusus yang dimiliki oleh anda, dan anda mampu menuliskan dengan baik keunikan itu, maka akan ada respon positif dari penerbit. Namun demikian, tidak semua hal yang unik itu langsung diterima oleh penerbit. Tergantung dari kaca mata mana pengelola penerbitan melihatnya. Seringkali kita beranggapan, bahwa naskah buku kita memiliki keunikan dan berbeda dari buku kebanyakan, tetapi di mata penerbit justru dianggap sama dan tidak memiliki keunikan. Di situlah kesabaran kita sebagai seorang penulis diuji.

Ketiga, Yakinkan penerbit kalau bukumu memiliki nilai jual yang tinggi

Bila anda sanggup meyakinkan penerbit bahwa naskah buku anda memiliki nilai jual yang tinggi, maka mereka tentu akan menerima naskah buku anda. Segala sesuatu itu dimulai dari sebuah keyakinan. Sebagai seorang penulis, kita harus yakin bahwa buku kita akan mencerahkan orang lain. Oleh karena itu seorang penulis harus memiliki percaya diri yang prima. Artinya, bila naskah bukunya ditolak, jangan mudah putus asa. Ditolak penerbit segera perbaiki, dan cari penerbit lainnya. Itulah yang saya lakukan dalam menerbitkan buku-buku saya ke khalayak ramai. Semua itu tanpa biaya, dan penulis buku tak perlu keluar biaya untuk itu. Selama ini saya tak pernah keluar uang dari buku-buku yang saya terbitkan.
Keempat, Original, dan kredibel
Bila bukumu original, dan kredibel, maka penerbit akan memberikan apresiasi yang tinggi. Bukan hanya penerbit, kita pun juga pasti akan melakukan hal yang sama. Keaslian naskah, dan tingkat kepercayaan penulis buku akan teruji dari hasil karyanya.
Jangan pernah copy paste! Bila itu terjadi, langsung hancur reputasimu sebagai seorang penulis. Biar bagaimanapun, keaslian naskah, dan kepercayaan pembaca kepada penulisnya harus kita pegang agar buku kita diterima oleh khalayak ramai.
Kelima, Ajak orang lain membaca karya tulismu
Kebanyakan dari kita para penulis adalah rasa ketakutan kalau karya tulis kita diambil oleh orang lain. Padahal nyantai aja lagi! Kita bisa share tulisan-tulisan kita melalui blog, dan biarkan orang lain mengomentari tulisan kita. Bila bukumu sesuatu yang sangat spesial, maka ajak orang spesial juga yang pertama kali membaca naskah bukumu. Minta mereka memberikan pendapatnya, dan dari mereka akan didapatkan masukan tentang plus minus karya tulismu itu. Ajak orang lain membaca karya tulismu sebelum kamu ajukan ke penerbit.
Demikianlah sedikit tips jitu menerbitkan buku yang semoga bermanfaat untuk pembaca yang ingin menerbitkan buku ke penerbit besar. Saya yakin tak semua tips di atas dialami oleh para penulis buku. Tapi saya sangat yakin, ada salah satunya yang dialami para penulis buku dalam menerbitkan buku-bukunya. Intinya adalah teruslah “menulis setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi”.Promosi buku ni yeeeeee………hehehehehe.

Tentang Penulis: 

Wijaya Kusumah

Teacher, Motivator, Trainer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Dosen STMIK Muhammdiyah Jakarta, dan Guru TIK SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan ...

Kamis, 26 Februari 2009

Tukang Sapu Kereta Ekonomi

Tulisan saya yang dimuat di MATADUNIA.COM



Tukang Sapu Kereta Ekonomi
KAMIS, 26 FEBRUARI 2009 13:00

Kami berencana naik KRL Ekonomi AC yang nyaman untuk anakku. Sambil menunggu kereta datang, aku melihat ada sekelompok anak-anak kereta (anak-anak yang suka mengamen atau menyapu kereta) sedang bercanda sesama mereka. Baju mereka tampak kotor, mungkin memang hanya baju yang melekat itu yang mereka miliki.
Akupun mencoba mendekati salah satu di antara mereka. Sambil menggendong anakku, aku bertanya;
“Nama kamu siapa?”
“Sholeh Mas..”
“Ohhh…” gumamku. Lalu akupun bertanya lagi,
“Kerja kamu apa?”
“Menyapu di kereta, tetapi hari ini saya tidak kerja dulu”
“Kenapa?”, tanyaku.
“Dari pagi hingga jam 11 siang gini ada razia. Kemarin aja teman saya ada yang ditangkap. Dari pagi saya juga belum makan, Mas...”
Sholeh berbicara denganku sambil bercanda dengan anakku dan juga dengan rokok di tangannya. Oleh karenanya, aku lepaskan Zhaffa ke bundanya biar tidak kena asap rokok.
Memang saat ini di kereta ekonomi Jakarta-Bogor semua pedagang, pengemis dan pengamen dilarang ada di dalam gerbong kereta. Makanya sekarang banyak razia di kereta.
Lalu akupun bertanya kembali kepada Sholeh,
“Kamu gak sekolah Leh?”
“Gak Mas, saya kabur dari rumah. Saya gak betah di rumah..”
“Kenapa?” tanyaku.
“Di rumah saya gak dikasih makan sama ibu. Masa anaknya sendiri gak dikasih makan Mas. Ibu saya kejam. Udah gitu saya suka disabetin pakai sapu lidi. Nih ada bekasnya di punggung saya. Makanya saya kabur, dari rumah daripada gak makan mending saya di jalanan bisa bebas. Saya cari makan dengan menyapu di kereta, trus dapat uangnya dari penumpang yang ngasih seikhlasnya.”
“Emang sekolah kamu sampai kelas berapa?”, tanyaku kembali.
“Kelas 2 SMP, trus saya keluar sampai sekarang"
“Kamu masih mau sekolah gak?", tanyaku.
“Gak ah, bukunya mahal, trus biaya sekolahnya gak ada. Udah gitu transportasinya 'kan pake duit, saya gak punya Mas”.
“Raport kamu ada gak?”, tanyaku. Dia jadi sedikit bingung kutanya begitu.
“Ada Mas, di rumah Ibu di Depok, tapi gak tau naruhnya di mana!?”
“Ya udah, besok kamu cek dulu di rumah, masih ada apa gak. Kalau ada kasih tau saya yah. Kamu biasa mangkal di sini kan? Rumah saya dekat sini, jadi besok Insya Allah bisa ketemu lagi”, ungkapku.
Saat asyik mengobrol dengan Sholeh, ternyata kereta sudah datang. Aku, istriku dan anakku serta mertuaku sudah naik ke dalam kereta. Buru-buru aku bangun dari dudukku dan pamit pada Sholeh.
“Leh, besok ketemu di sini yah sore. Jangan lupa rapornya”.
“Okeh Mas besok”, jawab Sholeh.
Sebelum kereta jalan, Sholeh memanggilku dari bawah.
“Mas, kalau gak ada raportnya gimana?”
“Ya udah besok kita ngobrol lagi”, jawab aku.
Akhirnya kereta perlahan berjalan meninggalkan stasiun kereta Manggarai. Padahal aku masih ingin banyak mengobrol dengan Sholeh dan temannya.
Sebenarnya aku ingin membantu anak-anak seperti Sholeh supaya bisa belajar dan sekolah lagi. Sering kulihat di stasiun Manggarai ini banyak sekali anak-anak seperti Sholeh yang putus sekolah dan mencari uang di atas kereta.
Sayang sekali obrolan kami harus terputus karena memang kami harus pergi. Mudah-mudahan aku bisa bertemu lagi dengan Sholeh dan teman-temanya. Dan bisa kubantu mereka sesuai kemampuanku.

Selasa, 25 November 2008

Semangat dari Oki Lukman


Selasa, 23 September 2008

Renungan - Telaga Hati



Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja...Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini...
Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan membaca ini. Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan. Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita??? berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal menunggu waktunya, semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul khotimah.... amien....
Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :'Alangkah sabarnya mereka...setiap hari begitu...benar- benar mengherankan!' Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah. Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggungbeban sebagai orang terasing. Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian .. banyak waktu luang ... pengetahuan kuterbatas. Aku mulai jenuh .. tak ada yang menuntunku di bidang agama.
Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah posjalan. Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah'Laailaaha Illallaah .. Laailaaha Illallaah ..' perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat ...Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Akutak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi sepertiini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi .... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.Tak ada gunanya .. Suara lagunya terdengar semakin melemah .... lemahdan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak ... keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan.
Hening...Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata 'Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia.'Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwakami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalatkhusyu' sekali. Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula .. Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota . Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika. Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ... dengan suara amat lemah.'Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian 'Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu ... apalagi aku sudah punya pengalaman.' aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang merdu itu. Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup kesetiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku takkuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. .
Sampai di rumah sakit .....Kepada orang-orang disana , kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikityang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. . Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya. Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikutmengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. .Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda,anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula,buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawapermen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.
Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya adasatu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, denga namal-amal yang nyata : 'memperbaiki diri dan mengajak orang lain 'Allah Swt berfirman: 'Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ' (QS. Al-Imran:185) Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabdanya, 'Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.'Saudaraku, siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap AllahSWT.
Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.
Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat. Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti iaakan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan. Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya. Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian.
Diambil dari Milis Parentsguide, Selasa 23 September 2008
From : riena rachma <>

Sabtu, 13 September 2008

Ijinkan Aku Menciummu Ibu...


Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu.
Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi. Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayangmengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya. Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi akuyang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu.
Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah serta sarana lebih lengkap, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, mainan edukatif, laptop, infocus, speaker atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.

Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 30A RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank BSI, No Rek:79-9999-4045, A/N RUMAH BACA ZHAFFA, Cabang Sudirman, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonkyudyzhaffa@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)