Siaran RPK FM

Dari Jejak Cerita Manggarai Hingga Siaran Radio

Spesial Hari Kunjung Perpustakaan

Sanggar Zhaffa Membuka Kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan

Duta Baca DKI Jakarta

Duta Baca Datang Untuk Menginspirasi Anak-anak

18 Tahun Rumah Baca Zhaffa

Orang Tua Sudah Menjadi Bagian dari Rumah Baca Zhaffa

Kunjungan dari Tiongkok

Dua orang dari Tiongkok berkunjung ke Rumah Baca Zhaffa untuk menjalin kerjasama kegiatan

Tampilkan postingan dengan label Berita di Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita di Media. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Oktober 2026

Tawuran Manggarai : RRI Pro1 jakarta


Tawuran di Manggarai-Jakarta Selatan selalu berulang, apakah peran Rumah Baca Zhaffa bisa menjadi salah satu solusi dalam memberikan tempat yang aman ?

Simak wawancara Founder Rumah Baca Zhaffa - Yudy Hartanto, dalam wawancara bersama RRI Pro 1 FM Jakarta yang dilakukan pada Selasa, 20 Oktober 2026. 


Kamis, 17 September 2026

Dari Jejak Cerita Manggarai hingga Siaran Radio: Sebuah Pertemuan Berlanjut Menjadi Cerita Literasi



“Hallo Kak, saya Vera yang kemarin sempat ikut kegiatan jalan-jalan di Manggarai. Saya juga gabung di komunitas Goodreads Indonesia. Saya mau mengajak Kakak untuk siaran di Radio Pelita Kasih. Temanya Hari Kunjung Perpustakaan. Apakah Kakak bersedia?”

Pesan itu tiba beberapa waktu setelah kegiatan Jejak Cerita Manggarai yang diselenggarakan Rumah Baca Zhaffa bersama Komunitas TripTis.

Sederhana. Hanya sebuah pesan singkat. Tetapi dari pesan itulah sebuah cerita baru dimulai. Saya kemudian baru menyadari bahwa salah satu peserta Jejak Cerita Manggarai merupakan bagian dari komunitas Goodreads Indonesia. Sebuah pertemuan yang awalnya terjadi ketika menyusuri gang-gang Manggarai ternyata berlanjut ke ruang yang sama sekali berbeda: ruang siaran radio.

Ketika Jalan-Jalan Menjadi Awal Sebuah Pertemuan

Jejak Cerita Manggarai memang sejak awal bukan sekadar kegiatan jalan-jalan. Kami mengajak orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal untuk bersama-sama menyusuri gang-gang kecil di Manggarai, melihat sudut-sudut rumah warga, mengenal bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda, sekaligus menyelami kehidupan masyarakat melalui interaksi secara langsung.

Setiap peserta kemudian membawa pulang cerita yang berbeda. Ada yang tertarik mengabadikan kehidupan masyarakat melalui kamera. Ada yang lebih tertarik memotret bangunan-bangunan tua. Ada pula yang membuat vlog tentang gang-gang sempit yang ternyata masih menyimpan banyak kehidupan.

Di ruang yang terbatas, warga masih bisa merawat tanaman. Masih ada kucing yang berkeliaran, ayam yang dipelihara, bahkan burung-burung merpati yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat.  Tempat yang sama ternyata bisa menghadirkan cerita yang berbeda, tergantung dari mata siapa yang melihatnya. Dan salah satu mata yang melihat Manggarai hari itu adalah mata Vera. Kami mungkin hanya bertemu dalam satu kegiatan. Tetapi ternyata pertemuan itu belum benar-benar selesai.

Dari Gang Manggarai ke Studio Radio

Beberapa waktu kemudian, pesan dari Vera masuk. Ia memperkenalkan dirinya kembali dan mengingatkan bahwa kami pernah bertemu dalam kegiatan Jejak Cerita Manggarai. Ia juga bercerita bahwa dirinya bergabung dengan komunitas Goodreads Indonesia. Lalu datanglah ajakan itu. Mengisi siaran di Radio Pelita Kasih atau RPK FM, dengan tema Hari Kunjung Perpustakaan. Tentu saja saya bersedia. Ada sesuatu yang menarik dari undangan tersebut. Perbincangannya bukan hanya tentang Rumah Baca Zhaffa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang literasi kecil di tengah masyarakat dapat terus hidup dan memberikan manfaat.

Sabtu, 12 September 2026, pukul 10.00–11.00 WIB, akhirnya tiba waktunya saya untuk on air.  Seharusnya saya hadir langsung di studio. Namun pada waktu yang bersamaan, Rumah Baca Zhaffa juga sedang melaksanakan kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan bersama pegiat TBM Jakarta dan Deputi I Perpustakaan Nasional. Akhirnya, siaran dilakukan melalui Zoom. Tidak berada di studio bukan berarti mengurangi makna pertemuan. Justru dari layar kecil itu, cerita tentang Rumah Baca Zhaffa bisa kembali berjalan lebih jauh.

Pertanyaan yang Membawa Kembali ke Tahun 2008

Salah satu pertanyaan awal yang muncul adalah:
“Mengapa Rumah Baca Zhaffa didirikan?”

Pertanyaan sederhana yang selalu membawa saya kembali kepada awal perjalanan. Rumah Baca Zhaffa hadir karena kami ingin menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak dan masyarakat untuk belajar, membaca, bermain, berinteraksi, dan mendapatkan pengalaman baru.  Sejak awal, kami tidak ingin rumah baca hanya menjadi tempat buku dikumpulkan. Kami ingin ada kehidupan di dalamnya.
Ada anak-anak yang datang.
Ada kegiatan.
Ada percakapan.
Ada orang-orang yang berbagi pengetahuan.
Ada komunitas yang masuk dan ikut menghidupkan ruang.
Namun perjalanan mempertahankan Rumah Baca Zhaffa tentu tidak selalu mudah.

Ada masa jatuh bangun. Ada saat ketika kami harus kembali menguatkan niat, mencari cara agar kegiatan tetap berjalan, dan mengajak anak-anak untuk terus terlibat secara aktif.  Pelan-pelan, kami kemudian melihat perubahan. Kemampuan membaca dan menulis anak-anak mulai berkembang. Kepercayaan diri mereka tumbuh. Mereka semakin berani tampil, berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Yang tidak kalah penting, kami melihat tumbuhnya karakter baik dalam diri mereka. Semua itu tentu bukan semata-mata hasil kerja Rumah Baca Zhaffa.

Ada komunitas-komunitas yang hadir di akhir pekan. Ada mahasiswa yang datang melalui kegiatan KKN dan berbagi pengetahuan. Ada relawan. Ada pegiat literasi. Ada pula berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap gerakan literasi di masyarakat. Mereka semua menjadi bagian dari perjalanan Rumah Baca Zhaffa.

Hari Kunjung Perpustakaan dan Napas bagi Taman Bacaan

Dalam siaran tersebut, kami juga berbicara tentang makna Hari Kunjung Perpustakaan. Bagi saya, peringatan ini sangat penting, terutama bagi taman bacaan masyarakat yang tumbuh dan bertahan secara swadaya. Ketika anak-anak datang, ketika komunitas berkunjung, ketika para pegiat literasi hadir dan berinteraksi, ada semangat baru yang terasa. Kehadiran mereka seperti menambah napas bagi perjuangan kami. Dukungan terhadap taman bacaan tidak selalu harus berupa bantuan buku, dana, atau fasilitas.  Datang dan melihat langsung aktivitas kami juga merupakan sebuah dukungan. Berinteraksi dengan anak-anak juga merupakan dukungan. Membuat kegiatan bersama juga merupakan dukungan.

Karena dari kehadiran itulah kami merasa bahwa perjuangan menghidupkan literasi tidak dilakukan sendirian. Dan ketika semakin banyak orang datang, semakin beragam pula kegiatan yang dapat dilakukan.

Buku Tidak Harus Diam di Rak

Ada satu hal yang terus kami percaya: Buku tidak seharusnya hanya diam di rak.  Buku bisa menjadi awal sebuah percakapan. Buku bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal orang lain. Buku bisa melahirkan diskusi. Buku bisa memunculkan kegiatan kreatif. Dan dari pengetahuan yang dibagikan melalui buku, bisa lahir berbagai gagasan dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Karena itulah taman bacaan masyarakat tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat untuk membaca. TBM adalah ruang yang hidup. Di dalamnya ada anak-anak yang belajar. Ada orang-orang yang bertemu.  Ada komunitas yang berkolaborasi. Ada mahasiswa yang berbagi pengetahuan. Ada relawan yang menyumbangkan waktu. Ada diskusi. Ada kreativitas.Ada tawa. Bahkan ada persoalan-persoalan masyarakat yang bisa dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama.

Sebuah Pesan yang Membawa Cerita Lebih Jauh

Jika dipikir kembali, menarik bagaimana sebuah pesan singkat dari Vera bisa membawa perjalanan cerita ini begitu jauh. Semuanya bermula dari sebuah kegiatan jalan-jalan di Manggarai. Dari orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Dari gang-gang kecil, rumah warga, bangunan tua, tanaman, kucing, ayam, dan burung merpati. Lalu pertemuan itu berlanjut menjadi sebuah pesan. Pesan itu membawa kami ke ruang siaran RPK FM.

Dan di sana, kami kembali berbicara tentang Rumah Baca Zhaffa, tentang anak-anak, tentang taman bacaan, tentang buku, dan tentang perjuangan menghidupkan literasi di tengah masyarakat. Mungkin  emang seperti itulah literasi bekerja. Ia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia dimulai dari sebuah buku. Dari sebuah percakapan. Dari sebuah pertemuan. Bahkan mungkin dari langkah kaki menyusuri sebuah gang. Lalu cerita itu berpindah dari satu orang kepada orang lainnya. Dan tanpa kita sadari, sebuah pertemuan kecil bisa membuka pintu menuju pertemuan-pertemuan berikutnya.

Terima kasih, Ka Vera.

Sebuah perjalanan di gang-gang Manggarai ternyata tidak berhenti ketika langkah kaki kita sampai di garis akhir. Ia terus berjalan. Kali ini melalui gelombang radio. Dan membawa satu pesan sederhana:  Mari terus menghidupkan ruang-ruang literasi. Karena ketika ruang itu hidup, anak-anak dan masyarakat memiliki tempat untuk tumbuh bersama.

Rumah Baca Zhaffa — Ruang kecil, mimpi besar.
(wonkyudy)

Selasa, 01 Mei 2018

LIPUTAN INTV HARI BUKU SEDUNIA

Hari Buku Sedunia, dikenal dengan nama Hari Buku Internasional merupakan perayaan tahunan yang jatuh pada tanggal 23 April yang diadakan oleh UNESCO untuk mempromosikan peran pembaca, penerbit dan hak cipta. 

 Berkenaan dengan peringatan Hari Buku Internasional salah satu televisi swasta INtv mengangkat tema tersebut dalam program acaranya " Seputar Kita Fokus" Hari Buku Internasional. 



INtv menyoroti kenapa Indonesia masih menjadi urutan bawah dalam hal minat baca, apa peran pemerintah, swasta dan masyarakat? Siapa aja pelaku pegiat literasi yang ada di Jakarta.



Salah satu komunitas literasi yang mendapat kesempatan diliput untuk membahas Hari Buku Internasional adalah Rumah Baca Zhaffa. Kegiatan liputan berlangsung pada hari Rabu (25/04). Hasil liputan tayang pada hari Sabtu (28/04) pada pukul 12.00 siang. 



Semoga keberadaan Rumah Baca Zhaffa dapat memberikan oase ditengah masyarakat yang haus dengan bahan bacaan. (wonk/rbz)

Rabu, 21 Maret 2018

Foto-Foto Liputan Net TV di Rumah Baca Zhaffa

Jumat (16/3) stasiun televisi nasional Net TV melakukan liputan di Rumah Baca Zhaffa untuk program Saliha. Beberapa kegiatan yang diambil gambarnya adalah ketika bimbingan belajar Bahasa Inggirs yang dipandu oleh Relawan kita yaitu Kak Fitri. Sedangkan membuat kolase dari biji-bijian di temani oleh para mahasiswi dari Universitas Atmajaya dan dongeng oleh Kak Ryan Hamzah. Berikut beberapa foto-foto kegiatan liputan di Rumah Baca Zhaffa. 








Minggu, 18 Maret 2018

Motor Pustaka Hadir Di Festival Danau SUnter


TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Taman Baca Masyarakat (TBM) hadirkan perpustakaan gratis di acara Festival Danau Sunter di Tanjung Priok Jakarta Utara, Minggu (25/2/2018).

Kehadiran TBM yang bertemakan Jakarta Membaca menarik antusiasme anak-anak yang merupakan pelajar untuk membaca koleksi buku dari TBM.

Buku - buku yang ada di perpustakaan berjalan ini ditempatkan disebuah motor yang dimodifikasi menjadi sebuah perpustakaan mini.

Edi Dimyati selaku Ketua Peningkatan Kapasitas TBM mengatakan adanya forum TBM ini merupakan sebuah kesadaran dari beberapa individu yang ingin meningkatkan daya tarik anak - anak untuk mau membaca buku.

"Kami sebagai pegiat literasi ingin mengajak anak anak Indonesia untuk gemar membaca dengan buku buku yang kami sediakan," ujar Edi Dimyati di Festival Danau Sunter Jakarta Utara, Minggu (25/2/2018).

Buku - buku yang disediakan di perpustakaan berjalan TBM ini beragam mulai dari buku pengetahuan, buku cerita, ensiklopedi dan buku dongeng.

Tak hanya anak - anak dan pelajar, ada pula para ibu yang membacakan buku untuk buah hatinya yang belum bisa membaca.

Untuk membaca buku - buku dari TBM ini disediakan sebuah tenda untuk duduk dan beristirahat seraya berteduh dibawah teriknya matahari.

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Taman Baca Masyarakat Hadirkan Buku Bacaan Gratis untuk Pengunjung Festival Danau Sunter, http://jakarta.tribunnews.com/2018/02/25/taman-baca-masyarakat-hadirkan-buku-bacaan-gratis-untuk-pengunjung-festival-danau-sunter.
Penulis: Anisa Kurniasih
Editor: Kurniawati Hasjanah

sumber berita : http://jakarta.tribunnews.com/2018/02/25/taman-baca-masyarakat-hadirkan-buku-bacaan-gratis-untuk-pengunjung-festival-danau-sunter






Minggu, 05 Juni 2016

LIPUTAN CNN INDONESIA DI RUMAH BACA ZHAFFA

Liputan TV terbaru di tempat kami oleh  CNN Indonesia (2/6). Kali ini mengangkat tema tentang "Minat Baca Anak-anak". 



Senin, 19 Oktober 2015

Di Sini Mereka Lindungi Diri (3)

Jadi Tumpuan
Keberadaan taman baca di wilayah mereka itu disambut baik warga. Mereka menilai, taman baca bisa menjadi alternatif bagi anak-anak untuk menghabiskan waktu sepulang sekolah.

Kasiyono (39) misalnya. Ayah Raditya ini mengatakan, anaknya sering menghabiskan waktu di RB Zhaffa. Anaknya sudah menjadi pelanggan Zhaffa sejak taman baca itu berdiri. Dalam sepekan, anaknya bisa tiap hari ke Zhaffa.

Karyawan swasta ini mengaku terbantu dengan keberadaan Zhaffa. Menurut dia, keberadaan taman baca tersebut membuat ia tenang, meski ia dan istrinya sibuk bekerja. Ia mengaku, taman baca itu sangat membantu pertumbuhan anaknya.

“Anak bisa berinteraksi dengan teman sebaya, tak hanya di rumah atau teman sekolahnya saja. Perkembangannya lebih bagus,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Selasa, 13 Oktober 2015.

Nenti Anggraini (39) juga menyampaikan pendapat serupa. Anaknya yang bernama Fitri, juga rajin pergi ke taman baca. Fitri tak hanya datang ke taman baca saat libur, namun juga pada hari biasa. Sebab, anaknya yang masih duduk di kelas dua SD tersebut tak hanya membaca, namun juga bermain bersama teman-teman sebayanya.

Ia mengaku terbantu dengan adanya taman baca Kampung Buku. Karena, anak-anak di wilayahnya bisa belajar dan membaca. “Anak-anak bisa baca, meski belum sekolah. Bisa menggambar, menulis, baca-baca. Di sana kan diajarin,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 14 Oktober 2015.

Selain ke taman baca, Fitri hanya di rumah atau main ke lapangan. Sebab, tak ada ruang bermain di RW 005 Cibubur, Jakarta Timur tersebut.

Hal itu diakui Ketua RW 005, Suprayitno (65). Ia mengatakan, di wilayahnya memang belum ada tempat bermain untuk anak-anak. Menurut dia, tak ada program tersebut di wilayahnya, meski Pemerintah Provinsi DKI sudah mencanangkan agar di setiap RW ada taman bermain. Ia mengaku, ruang bermain untuk anak itu sangat dibutuhkan.

“Memang perlu. Kesempatan untuk anak-anak bermain itu. Sekarang anak-anak bermain hanya di lapangan,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 14 Oktober 2015.

Untuk itu, ia sangat mengapresiasi keberadaan Kampung Buku. Menurut dia, taman baca itu berdiri sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Menurut dia, Kampung Buku bisa mengantisipasi pengaruh-pengaruh negatif bagi anak.

“Apalagi sekarang timbul kekerasan, ada pihak-pihak tertentu yang mencari kesempatan,” ujarnya.

Senada dengan yang lain, Suprayitno mengatakan, taman baca bisa mencegah dan melindungi anak-anak dari kekerasan dan kejahatan. Ia mendukung penuh keberadaan Kampung Buku. Menurut dia, apa yang dilakukan Edi dan kawan-kawannya merupakan sesuatu yang bagus.

“Itu luar biasa. Kreatif sekali, patut kita beri apresiasi.”

Nenti dan Kasiyono meminta, pemerintah bersikap tegas terkait kasus-kasus kekerasan anak. Menurut mereka, para pelaku kekerasan anak harus dihukum berat agar bisa menimbulkan efek jera. Juga agar kasus yang sama tidak kembali terjadi.

“Buat pelaku, pelakunya dihukum mati, dimatiin aja. Bunuh aja kalau gitu mah, biar kapok,” ujar Nenti.

Hari beranjak malam. Namun, anak-anak ini masih bertahan di RB Zhaffa. Alih-alih pulang, mereka malah berlarian dan main kejar-kejaran, di tengah kendaraan yang lalu lalang di dalam gang. Mereka mungkin tak ingin bermain di sana. Tapi, mereka terpaksa. Karena, hanya itu ruang kosong yang tersisa. 

sumber : http://sorot.news.viva.co.id/news/read/688035-di-sini-mereka-lindungi-diri/3

Di Sini Mereka Lindungi Diri (2)

Ruang Belajar dan Bermain
Pendiri RB Zhaffa Yudy Hartanto mengatakan, ia sengaja mendirikan taman baca karena prihatin dengan kondisi anak-anak di lingkungannya. Sebab, tak ada ruang bermain atau sanggar yang bisa digunakan untuk menyalurkan kreativitas anak-anak. Akibatnya, anak-anak bermain di jalanan atau berlarian di sela-sela gang di depan rumah mereka.

Menurut dia, kondisi itu sangat mencemaskan. Karena, kekerasan dan kejahatan bisa mengancam mereka kapan saja. “Anak butuh ruang untuk bermain agar mereka merasa nyaman,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Selasa, 13 Oktober 2015.

Yudy yakin, taman baca yang ia dirikan bisa menjadi ruang bagi anak-anak untuk bermain dan menyalurkan bakat dan minat. Selain itu, ia berharap, Zhaffa bisa melindungi anak-anak dari ancaman tindak kejahatan atau kekerasan.

Anak-anak membutuhkan sarana untuk mengekspresikan diri. Menurut dia, hal itu ampuh untuk menangkal ancaman kekerasan dan kejahatan terhadap mereka.

“Dengan adanya sarana aktivitas, anak akan terbiasa melakukan kegiatan positif dan merasa ada yang mendampingi mereka,” dia menambahkan.

Sayangnya, fasilitas kreativitas anak di DKI sangat kurang, terutama yang dapat dinikmati anak-anak secara bebas dan gratis. “Sanggar kreativitas dan taman bacaan bisa menjadi solusi mencegah kekerasan anak,” ujarnya yakin.

Ia ingin menciptakan taman baca yang bukan sekadar buku, tapi menjadi komunitas yang ramah anak. Upaya itu dilakukan dengan menampung apa pun kegiatan yang mendukung tumbuh kembang anak.

“Beberapa aktivitas yang kami lakukan adalah bimbingan belajar gratis, camping, wisata edukasi, menulis, belajar komputer, story telling, membuat kreativitas dari barang bekas, bedah buku dan lain-lain,” tuturnya.

koleksu buku di kampung buku
Taman baca bisa menjadi solusi untuk memproteksi anak-anak dari ancaman kekerasan dan kejahatan. 

Hal senada disampaikan Edi Dimyati. Pendiri taman baca Kampung Buku ini mengatakan, di tengah minimnya ruang bermain anak, taman baca bisa menjadi solusi untuk memproteksi anak-anak dari ancaman kekerasan dan kejahatan. Menurut dia, ruang bermain dan sarana kreativitas anak memiliki fungsi sebagai media tempat anak berkreasi.

“Generasi yang kreatif akan menghilangkan budaya negatif seperti kekerasan, seks menyimpang, dan kasus-kasus lainnya,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 14 Oktober 2015.

Menurut dia, taman baca, sanggar, dan komunitas ampuh untuk menangkal ancaman kekerasan serta kejahatan terhadap anak-anak. Meski tak luas, peran taman baca menjadi penting karena bisa menjadi salah satu ruang anak untuk beraktivitas.

Ia mengatakan, selain menyediakan bahan bacaan, taman baca yang beralamat di Jalan Abdul Rahman, Rt. 15, Rw. 005 Cibubur, Jakarta Timur ini juga menggelar sanggar tari, kelas Bahasa Inggris, kelas menggambar, dance, yoyo, dan sejumlah aktivitas lain.

http://sorot.news.viva.co.id/news/read/688035-di-sini-mereka-lindungi-diri/2

Di Sini Mereka Lindungi Diri (1)

VIVA.co.id - Azan Isya baru saja berkumandang. Namun, keramaian sudah terdengar dari salah satu rumah di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Sejumlah anak beragam usia tampak bercanda dengan temannya.

Sementara itu, yang lain terlihat sibuk dengan buku di pangkuan. Mereka meriung di lantai, tanpa kursi dan meja. Hanya karpet plastik yang menjadi alas duduk mereka.

Mereka terlihat asyik, mengeja buku atau sekadar bermain ular tangga. Sesekali, tawa mereka pecah menyemarakkan suasana. Tak lama, mereka kembali menekuri buku cerita di tangannya.

Bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang dan keramaian ibu kota seolah tak mengganggu konsentrasi anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama ini. Televisi yang ada di samping mereka juga tak membuat anak-anak ini tergoda.
anak-anak membaca di taman zhaffa
Sejumlah anak-anak tampak asyik membaca di Rumah Baca Zhaffa.
Anak-anak ini merupakan pengunjung tetap Rumah Baca (RB) Zhaffa. Taman baca yang terletak di tengah permukiman padat penduduk ini memang ramai dikunjungi sejak berdiri. Tak ada yang istimewa dari "perpustakaan" yang didirikan pada Agustus 2008 ini.
Sejauh mata memandang, hanya ada buku dan bahan bacaan yang tertata di rak atau tergeletak di sembarang tempat. Ratusan buku menumpuk dalam rak yang menempel di dinding ruangan. Sementara itu, sisanya diletakkan di teras rumah karena keterbatasan ruang.

“Saya sudah sering ke sini mas,” ujar Khoiriyah Dea Lesmana, saat VIVA.co.id berkunjung ke taman baca ini, Selasa, 13 Oktober 2015.

Siswi kelas satu SMP ini mengatakan, ia sudah menjadi "pelanggan" tetap RB Zhaffa sejak masih duduk di taman kanak-kanak (TK). Ia mengaku betah di rumah baca ini. Di Zhaffa, ia tak hanya membaca, namun juga bisa bermain dengan teman sebaya. Tak hanya itu, taman baca ini juga sering mengajak mereka jalan-jalan dan berwisata. “Setiap hari saya ke sini.”

Lontaran senada disampaikan Raditya. Siswa kelas empat SD ini mengaku sudah ke Zhaffa sejak kecil. Awalnya, ia diajak saudaranya. Namun, lama kelamaan dia merasa kerasan. Selain membaca dan belajar, ia bisa bermain di tempat ini. “Saya biasa main congklak, puzzle, kereta-keretaan,” ujarnya.

Ia mengatakan, sepulang sekolah, waktunya memang banyak dihabiskan di Zhaffa. Karena, tak ada taman bermain di dekat rumahnya. Hanya ada tanah lapang yang sering digunakan untuk bermain bola oleh anak-anak yang lebih tua darinya.

Sumber : http://sorot.news.viva.co.id/news/read/688035-di-sini-mereka-lindungi-diri

STOP KEKERASAN PADA ANAK !


EDISI SOROT 366. VIVACO.ID

Minggu ini SOROT viva.co.id edisi 366  mengambil tema "Ruang Tak Ramah Anak".
Ada tiga bagian tulisan pada edisi ini. Ketiga bagian menyoal maraknya kekerasan terhadap anak. Bagian pertama membahas mengenai hilangnya nyawa gadis belia Putri di daerah Rawalele, Jakarta Barat. Putri sebelumnya dikabarkan hilang tetapi belakangan diketahui ternyata putri dibunuh dan mayatnya di masukkan didalam kardus. Putri bergaul dan bermain tidak dengan teman-teman sebayanya saja tetapi juga dengan orang dewasa yang justru membuatnya pergi untuk selama-lamanya.

Daerah Rawalele, merupakan kawasan padat penduduk dan nyaris tidak ada tempat untuk anak-anak bermain. Begitu sempitnya ruang gerak dan bermain anak sehingga seorang Putri pun harus bermain dan berbaur dengan orang dewasa. Sehingga anak sudah percaya dan kenal dengan pelaku. Kondisi inilah yang dapat menimbulkan atau pemicu terjadinya kekerasan dan kejahatan seksual pada anak.
Bagian kedua menyorot mengenai bagaimana cara melindungi anak dari para pemuas nafsu seks/ para predator seks yang mencari mangsa anak-anak.

Pada bagian ketiga mencoba memberi salah satu contoh solusi ruang melindungi anak. Rumah Baca solusi ampuh untuk menjadi ruang bermain anak. Tidak dipungkiri saat ini bahwa ruang bermain ramah anak terutama di DKI masih sangat kurang. Memang banyak tempat bermain futsal, belajar, kolam renang, les kreatifitas, tapi semuanya itu membutuhkan biaya dan tidak dapat dinikmati semua anak.

Anak membutuhkan sarana untuk mengekspresikan diri dan juga untuk melindungi dirinya dari kekerasan. Hadirnya rumah baca dengan beragam kegiatan positifnya dapat menghindari anak bermain dan berbaur dengan orang dewasa yang mereka tidak kenal. Di rumah baca anak akan bermain dengan teman-teman sebayanya. Mereka juga dapat mengikuti kegiatan secara bebas dan gratis sehingga tumbuh kembang anak akan tersalurkan.

Semoga rumah baca dapat hadir di setiap jengkal wilayah dan dapat menjadi ruang yang nyaman untuk anak bermain dan berekspresi.

selengkapnya bisa dibaca:
http://sorot.news.viva.co.id/news/read/688035-di-sini-mereka-lindungi-diri

STOP KEKERASAN PADA ANAK !

Jumat, 30 Januari 2015

Zhaffa di Net TV


 
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=XUfNLSg-dIQ

Rabu, 24 Desember 2014

RB Zhaffa di Viva.co.id "Tersuruk karena Minat Baca Buruk "

VIVAnews - Rak warna biru itu tak baru lagi. Ratusan buku berjejal, berebut tempat. Sejumlah buku tampak tercecer. Tak lagi muat tersusun di empat rak di teras rumah itu.

Di samping rak, berdiri kotak kayu warna orange. Satu sisinya bertuliskan Free Library. Laiknya celengan, kotak itu berfungsi menampung donasi untuk pengadaan buku.

Teras itu kini semakin penuh dengan coretan di kertas plano, yang menempel di dinding rumah bagian depan. “Buku Jendela Dunia”, “Saya senang bermain sambil belajar,” dan “Membaca buku membuat kita pintar” merupakan sebagian dari tulisan yang menempel di kertas warna buram itu.


lanjut bacanya dari sumbernya di http://news.viva.co.id/news/read/570376

Jumat, 12 Desember 2014

Zhaffa di liput Kompas TV


Rabu (10/12) sore cukup cerah di Rumah Baca Zhaffa (RBZ). Terlihat ada volunteers dan pendiri RBZ, Yudy Hartanto, serta berkumpul juga anak-anak RBZ untuk menunggu dan mengenalkan RBZ pada pemirsa Kompas TV.  

Hari itu, stasiun televisi Kompas TV akan meliput keberadaan kami untuk di tayangkan pada acara Megapolitan. Sebuah kebanggan untuk kami bisa mendapatkan kesempatan mengenalkan dan memberikan inspirasi singkat tentang rumah baca kepada masyarakat Indonesia melalui saluran tv.

Ini bukan yang pertama kali, sebelumnya sudah banyak beberapa stasiun TV yang meliput kami. Semoga kedepannya kami dapat mengkampanyekan kegiatan kami ini secara luas sehingga masyarakat Indonesia dapat terinspirasi dan peduli tentang Rumah Baca Zhaffa.

Kami dan crew TV selalu berusaha menjalin hubungan baik agar bisa berbagi dan bertukar informasi. Bahkan kami masih berhubungan dengan salah satu crew tv dan melakukan kegiatan bersama.

Kegiatan yang diliput pertama adalah ketika anak-anak membaca buku. Dilanjutkan dengan volunteer memberikan pengajaran. Ketika anak-anak bermain ular tangga juga menjadi bahan liputan.

Berikutnya anak-anak di wawancara tentang alasan berkunjung ke Zhaffa, kegiatan apa saja yang diikuti dan bagaimana perasaannya bergabung di Zhaffa. Sebagai pendiri Rumah Baca Zhaffa, Yudy Hartanto mendapat kesempatan untuk menceritakan awal berdirinya Rumah Baca Zhaffa dan hal yang melatar belakanginya serta harapannya.

Semoga liputan ini dapat membantu kami juga menyebarkan tentang Rumah Baca Zhaffa serta kegiatannya serta semakin banyak juga yang peduli dan membantu keberadaan kami.

Perubahan bisa dimulai dari hal yang kecil dan saling bergandengan tangan. (wonk/RBZ)

Senin, 05 Agustus 2013

Rumah Baca Zhaffa di Majalah Intisari


Cerita di balik awal berdiri Rumah Baca Zhaffa dan Kampung Buku Cibubur ada di Majalah Intisari, Edisi Agustus 2013.

Semoga dapat menginspirasi.

Selasa, 28 Mei 2013

Dolanan Anak Manggarai

Wilayah Ibukota Jakarta yang padat dan minim ruang terbuka tak membuat anak-anak yang tinggal di Manggarai, Jakarta Selatan larut dalam kepenatan. 

Mereka justru kreatif untuk memanfaatkan apapun di sekitarnya sebagai alat belajar dan bermain. Seperti yang dijalanai Qori dan teman-temannya. 

Setiap akhir pekan mereka belajar teater di Rumah Baca Zhaffa. Dengan belajar teater banyak hal yang dapat diperoleh Qori dan teman-temannya, seperti belajar mengenal karakter dalam seni peran, dan menambah wawasan. 

Usai belajar teater, Qori pun berkeliling gang di sekitar rumah dengan mengendarai sepeda. Di gang-gang kecil ini mereka ceria sambil menggowes sepeda hingga akhirnya tiba di bangunan menara air. 

Namun sayang bangunan peninggalan Belanda ini tak terawat. Nah di sini mereka terbersit untuk menaklukkan menara dengan memanjatnya. Selain berolahraga memanjat tebing di menara air, Qori dan teman-teman kembali berjalan dan menemukan sebuah taman kecil.

Di sinilah mereka menghabiskan waktu untuk bermain seperti pedang-pedangan, bermain ular tangga, bola gebok, dll. Mereka pun tak melewatkan suasana senja di Stasiun Manggarai sambil menikmati kereta-kereta yang melintas.

Tayang Minggu, 26 Mei 2013, pukul 07:00 WIB 

(sumber: http://news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=33647&Itemid=43)

Senin, 29 Oktober 2012

Pagelaran Teater Anti Korupsi

JAKARTA, Berita HUKUM - 

Maraknya berbagai kasus korupsi di Indonesia yang menjadikan bangsa ini makin terpuruk, warga mudah marah dengan aksi maling-maling kecil hingga langsung saja dihakimi dengan memukul, menendang bahkan membakar pelaku. Para pekerja seni yang tergabung dalam Komunitas Teater Anti Korupsi melalui pagelaran "Montage of Corruptor" yang mereka adakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) di jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, mencoba menuangkan berbagai ketimpangan dari ulah para koruptor melalui pertunjukan seni. Sabtu (27/10) malam.

Pagelaran yang diselenggarakan oleh Komunitas Teater Anti Korupsi tersebut, bertujuan untuk melawan para koruptor di Indonesia ini agar dapat enyah selama-lamanya.

Berikut beberapa penampilan yang digelorakan oleh Komunitas Teater Anti Korupsi:

1. Nyanyian Anti korupsi

Nyanyian anti korupsi ini mereka suarakan sebagaimana keadaan korupsi yang semakin merajalela di Indonesia ini. Lantunan dari lagu tersebut sangat menyentuh hati para penonton yang menyaksikannya. Karena melalui lagu tersebut, mereka mengajak masyarakat untuk bersama berjuang memberantas korupsi di negeri ini.

2. Lukisan Koruptor di Indonesia

Lukisan Anti Korupsi ini digambar oleh anak-anak Tim Pelukis Cilik Jakarta Timur, melalui karya seni mereka menggambarkan kebobrokkan para koruptor di Indonesia ini, seperti tikus yang sedang membawa uang, seorang pengendara mobil yang memberikan uang, serta masih banyak lagi yang lainnya.

3. Drama yang Diperankan oleh para Seniman Teater

Drama yang dilakoni para Seniman Teater ini, berjalan dengan penuh penjiwaan dan intonasi nada-nada yang menarik pendengar yang menyaksikan, terkadang nada mengalun tinggi, lucu dan syahdu, mengikuti alur, membuat kesan yang mendalam bagi yang menyaksikannya. Selain itu drama tersebut juga dapat memupuk tali persudaraan antara seniman dan masyarakat agar sama-sama berjuang melawan korupsi.

Sutradara Komonitas Teater Anti Korupsi, Ryan Hamzah saat dikonfirmasi pewarta BeritaHUKUM.com mengatakan, "Pagelaran ini dilakukan untuk melawan para koruptor, tetapi perlawanan kami ini kami suarakan melalui seni, seperti menggambar, nyanyian anti korupsi dan drama dari para seniman teater," ujarnya.

Ryan juga menilai kalau korupsi di Indonesia ini tidak saja dilakukan oleh para koruptor tapi juga telah oleh anak-anak sekolah.

"Ya, kan dapat kita lihat sendiri anak-anak yang masih sekolah aja udah mulai korupsi, misalnya bayar buku 5000 rupiah dibilang 10.000. Dan hal semacam ini yang seharusnya kita hilangkan. Dan untuk itu, mari kita didik anak-anak kita dari usia dini, agar ia dapat berlaku jujur dan tidak korupsi/curang," pungkasnya.

Ditambahkannya kegiatan yang diselenggarakan, nantinya dapat bermanfaat bagi kita dan semua orang. Serta supaya kita dapat melawan dan menjauhi perbuatan korupsi, karena para koruptor takkan selamanya selamat di muka bumi ini.

Sebelum mengakhiri pagelaran teaternya, seorang Kru teater berpesan agar jangan sampai melakukan korupsi, ''Karena korupsi itu bukan membangun masjid tapi membangun neraka!." Tegasnya.(bhc/opn)


Sumber: http://www.beritahukum.com/detail_berita.php?judul=Pagelaran+Teater+Anti+Korupsi

Selasa, 28 Agustus 2012

OBROLIN BUKU YUK ! Bareng Media Anak Media Indonesia

 
Hasil anak-anak RB Zhaffa mengikuti acara Obrolin Buku Yuk ! (OBY) Media Anak Media Indonesia yang dimuat di Harian Media Indonesia,MInggu (26/08).

Selasa, 14 Agustus 2012

SUARA ANAK

Suara Anak Mengisi Kemerdekaan.
Balqis mewakili suara anak Rumah Baca Zhaffa coba bersuar adi Media Anak Media Indonesia, Minggu (12/08)




Sumber : Media Indonesia, Minggu (12/08)

Senin, 09 Juli 2012

"Obrolin Buku Yuk" bersama Media Anak Media Indonesia


SEBULAN sekali Dunia Buku Media Anak mengadakan acara bertajuk Obrolin Buku Yuk! (OBY).Pada Sabtu (30/6) kami membahas Takeshita Demons, Ada yang Mengikutimu dari Belakang. Mau tahu bagaimana serunya diskusi OBY bersama teman-teman dari Rumah Baca Zaffa, Jakarta, kali ini? Berikut petikannya. 

Serial Takeshita Demons yang pertama ini menceritakan petualangan Miku dan Cait berburu hantu di sekolah mereka. Miku yang berasal dari Jepang dan bersekolah di Inggris memercayai ada hantu dari rumahnya dulu yang mengikutinya. Masalah mulai dirasakan Miku saat ada tamu yang mengetuk pintu rumahnya. Tamu tersebut mengaku sebagai petugas palang merah. Ketika pintu dibuka, enggak ada siapa-siapa! Setelah itu, berbagai peristiwa mencurigakan pun terjadi di sekitarnya. 

Miku memercayai itu semua kerjaan hantu yang berniat mengganggunya. Seperti saat kelas Miku kedatangan guru baru. Secara tak sengaja Miku melihat tanda merah di leher gurunya. Itu tanda Nukekubi! Hantu pemakan daging yang memangsa anak-anak di malam hari. Saat Cait, teman sekelas Miku menginap di rumahnya, kejadian aneh tak berhenti begitu saja. Keadaan tambah kacau ketika Kazu, adik Miku, tiba-tiba menghilang. 

Miku dan Cait pun berpetualang ke sekolah mereka untuk mencari Kazu, dan berniat membasmi Nukekubi yang diduga menculik Kazu.Menurut obrolan teman-teman Rumah Baca Zaffa, novel horor terjemahan karya Cristy Burne ini cukup menarik dan membuat penasaran pembaca. 

Sayangnya ceritanya kurang seram. “Ceritanya enggak begitu seram, bahkan untuk aku yang penakut,” ujar Bunga Raihanisa Putri. Teman-teman kita juga agak kecewa dengan ilustrasi sampul yang tidak sesuai. “Hantu utamanya kan Nukekubi, eh kovernya gambar Nure-Onna. Kepalanya aja yang Nukekubi,” kata Hilda Luthfia. Selama diskusi, peserta OBY menceritakan pengalaman horor masing-masing dan menyebutkan pesan moral yang bisa diambil dari buku ini. Di antara pesan moralnya, kita harus menolong teman, tidak ceroboh, jangan jadi penakut, dan pantang menyerah sebelum mencapai tujuan baik.(*/M-6)



sumber :

Kamis, 15 Maret 2012

:: Ayahbunda :: Artikel :: Tambah Pintar di Taman Bacaan ::

:: Ayahbunda :: Artikel :: Tambah Pintar di Taman Bacaan ::


sumber : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Travelling/Balita/tambah.pintar.di.taman.bacaan/001/002/59/3/3
Tambah Pintar di Taman Bacaan
Buat bulan bahasa kali ini lebih berkesan semarak dengan mengajak balita berkunjung dan melihat koleksi taman bacaan.

KAMPUNG BUKU
Namanya tampaknya disesuaikan dengan lokasi didirikan –karena meski berada di wilayah kota Jakarta, lokasi Kampung Buku di lingkungan Cibubur yang masih dihiasi dengan sawah dan sungai kecil.  Tempat membaca ini berbentuk saung. Anak-anak yang membaca di sana dapat duduk lesehan sambil menikmati udara segar. Semua orang bebas masuk dan meminjam buku selama 24 jam, asalkan tidak mengotori, merusak dan membawa pulang buku. Tidak ada petugas tetap yang berperan menjaga, pengelola menempatkan pembaca sebagi petugas yang  mengamankan Kampung Buku. Maka anak-anak pun senang diberi tanggung jawab dan berusaha keras menjaga buku-buku koleksi. Selain menjadi tempat membaca dan berkumpul, Kampung Buku juga bertujuan sebagai sarana berkreasi. Maka kegiatan seperti belajar menari tarian daerah, belajar ketrampilan flanel atau bedah buku juga diadakan.

Koleksi buku: buku cerita anak, buku dongeng rakyat, ensiklopedia dan kamus untuk anak-anak, komik dan majalah anak.


TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM)
Terobosan baru: taman baca di dalam kawasan mall! Taman Bacaan Masyarakat yang cukup mudah ditemukan ini mustinya bisa menjadi tempat orangtua menitipkan anaknya di mall. Daripada melulu di tempat bermain, pilihan lain adalah dengan membiarkan si kecil duduk manis sambil membaca buku atau melakukan kegiatan menggambar atau mencocokkan warna. Staf penjaga TBM cukup asertif membantu si kecil bila dia mengalami kesulitan. Serunya lagi, orangtua pun disediakan pilihan-pilihan buku untuk dibaca karena TBM ini memang untuk segala usia.

Koleksi buku : buku cerita bergambar, buku dongeng, buku sejarah, buku aktivitas, novel, buku panduan orangtua, buku tentang hobi.

RUMAH BACA ZHAFFA
Garasi di depan rumah tidak lagi terpakai, maka seorang ayah memanfaatkannya menjadi perpustakaan mini. Bekerja sama dengan Komunitas 1001 Buku yang memasok buku secara berkala, Rumah Baca Zhaffa pun menjadi rumah baca favorit anak-anak yang tinggal di sekitar Manggarai, Jakarta Selatan. Meski ruangan tidak terlalu besar, ruangan begitu nyaman dipakai untuk dibaca. RB Zhaffa buka sejak jam 09.00 hingga 21.00, dan sore hari biasanya diisi dengan kegiatan belajar bersama, mendongeng, atau membaca bersama.

Koleksi buku : Buku aktivitas anak, buku cerita anak, buku komik, buku pelajaran TK dan SD, buku esiklopedia, buku latihan belajar.

RUMAH BACA ASMA NADIA
Tidak heran kalau penulis buku Asma Nadia cinta dengan dunia buku. Bentuk cintanya itu dengan pula membuka rumah baca di tengah perumahan agar bisa dikunjungi banyak anak. Ruangan yang sangat besar menambah kenyamanan anak-anak untuk membaca. RB Asma Nadia juga dilengkapi dengan permainan puzzle dan lego untuk sarana bermain bila anak-anak mulai bosan. Berhubung Asma Nadia, suami dan kedua anaknya juga penulis, maka kegiatan belajar menulis atau membedah buku sering diadakan di sini. Memang banyak cara untuk membuat anak cinta dengan buku.

Koleksi buku: Buku cerita anak, ensiklopedia, buku pelajaran, buku berkreasi, majalah anak, buku novel, majalah dewasa untuk orang tua.

Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah serta sarana lebih lengkap, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, mainan edukatif, laptop, infocus, speaker atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.

Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 30A RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank BSI, No Rek:79-9999-4045, A/N RUMAH BACA ZHAFFA, Cabang Sudirman, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonkyudyzhaffa@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)