Minggu, 13 September 2026

Spesial Hari Kunjung Perpustakaan: Literasi Hadir di Sudut Gang

"Kegemaran membaca anak Indonesia dibilang rendah, apakah jargon itu benar dan nyata? Tak usah kita risau untuk menjawabnya."


Penggalan puisi itu terdengar dari suara Paman Har, sapaan yang baru saja kami sematkan kepada Suharyanto, Deputi I Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi

Sabtu pagi, 12 September 2026, tarian Sirih Kuning dari Sanggar Zhaffa menjadi pembuka hari yang istimewa bagi Rumah Baca Zhaffa. Bukan karena kami menggelar acara besar dengan panggung megah atau seremoni yang penuh protokoler. Justru sebaliknya.

Hari Kunjung Perpustakaan tahun ini kami rayakan di sebuah sudut gang, di tengah padatnya permukiman Manggarai. Rumah Baca Zhaffa berkesempatan bekerja sama dengan Deputi I Perpustakaan Nasional untuk menghadirkan sebuah perayaan yang sederhana, tetapi bagi kami memiliki makna yang begitu besar. Sebab selama ini, ketika kita berbicara tentang perpustakaan dan literasi, bayangan kita sering kali tertuju pada gedung-gedung besar, rak buku yang tertata rapi, ruang yang luas, dan berbagai kegiatan resmi. Padahal, denyut nadi gerakan literasi juga hidup di tempat-tempat yang jauh lebih sederhana.


Ia hidup di sudut gang padat penduduk, di ujung desa, di teras rumah, di taman, di ruang kecil yang dibuka oleh warga, dan di taman-taman bacaan masyarakat yang terus bergerak meski dengan segala keterbatasannya. Tempat-tempat kecil itulah yang setiap hari berusaha mendekatkan buku kepada anak-anak. 

Bukan Sekadar Berkunjung, tetapi Hadir dan Terlibat. 

Kehadiran Paman Har di Rumah Baca Zhaffa bukan sekadar kunjungan. Beliau tidak datang hanya untuk menikmati sajian acara, memberikan sambutan, lalu kembali ke kantor. Beliau masuk ke dalam ruang kecil kami dan ikut menjadi bagian dari perayaan.

Ada sesuatu yang terasa hangat ketika seorang pejabat negara duduk bersama anak-anak di taman baca masyarakat, membaca puisi, bercanda, dan berinteraksi dalam suasana yang begitu cair. Hari itu, kami berbagi peran. Paman Har membacakan puisi. Edi Dimyati (Kampung Buku) menghibur anak-anak dengan permainan sulap. Kak Ning Nong (Bukit DUri Bercerita) mengajak anak-anak berkreativitas.  Sementara Kak Nila (Rumah Baca FWE) membacakan buku untuk mereka.


Tidak ada sekat yang terasa. Tidak ada jarak antara pejabat, pegiat literasi, relawan, dan anak-anak.  Semuanya melebur dalam satu hal: kegembiraan membaca dan belajar. Kolaborasi itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kami, justru di situlah kekuatannya.



Gerakan literasi tidak selalu membutuhkan acara besar. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah satu buku, satu anak, satu orang yang mau membacakan cerita, dan satu ruang kecil yang bersedia membuka pintunya. 

Kami Juga Butuh Kehadiran

Selama bertahun-tahun mengelola Rumah Baca Zhaffa, kami belajar bahwa menjadi pegiat taman baca bukanlah pekerjaan yang selalu mudah.

Ada hari-hari ketika anak-anak datang dengan penuh semangat. Ada pula hari ketika kami harus memikirkan bagaimana kegiatan tetap berjalan, bagaimana buku bertambah, bagaimana kebutuhan operasional terpenuhi, dan bagaimana relawan tetap memiliki energi untuk terus bergerak.

Sebagian besar taman baca masyarakat tumbuh dari semangat swadaya. Bukan karena memiliki sumber daya yang berlimpah, tetapi karena ada orang-orang yang percaya bahwa anak-anak di lingkungan mereka berhak memiliki ruang untuk membaca, belajar, bermain, dan bermimpi.

Karena itu, kami tidak hanya membutuhkan bantuan.
Kami juga membutuhkan kehadiran.
Kami butuh dilihat.
Kami butuh didengar.
Kami butuh didukung.

Dan yang tidak kalah penting, kami membutuhkan teladan dari mereka yang memiliki kewenangan dan kesempatan lebih besar untuk ikut hadir di tengah gerakan literasi masyarakat.

Kehadiran Paman Har hari itu memberikan energi baru bagi kami. Rasanya seperti ada pesan yang mengatakan:

"Apa yang kalian lakukan di ruang kecil ini berarti."

Kalimat itu mungkin tidak terucapkan secara langsung. Tetapi kehadiran beliau sudah cukup untuk membuat kami kembali percaya bahwa perjuangan kecil di gang ini tidak berjalan sendirian.

Membuat Anak Percaya bahwa Buku Itu Menyenangkan

Pada akhirnya, yang ingin kami tanamkan bukan sekadar kemampuan membaca. Kami ingin anak-anak memiliki pengalaman bahwa datang ke taman baca itu menyenangkan. Bahwa perpustakaan bukan tempat yang membosankan. Bahwa buku bukan sesuatu yang harus dipaksakan.Bahwa membaca bisa membuat kita tertawa, berimajinasi, bertanya, mengenal dunia, bahkan menumbuhkan optimisme.

Ketika seorang anak melihat orang dewasa membaca buku dengan gembira, mendengarkan cerita, bermain, membuat karya, dan menikmati perpustakaan, maka perlahan akan tumbuh sebuah pengalaman positif.

Mungkin hari ini ia hanya datang karena ingin bermain.
Besok ia mengambil satu buku.
Lusa ia mulai membaca.
Dan suatu hari nanti, bisa jadi ia akan menjadi orang yang membuka ruang baca untuk anak-anak lainnya.

Begitulah literasi tumbuh. Pelan-pelan. Dari satu anak ke anak lainnya. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari satu taman baca ke taman baca lainnya.

Terima Kasih untuk Mereka yang Terus Mendukung

Perayaan Hari Kunjung Perpustakaan di Rumah Baca Zhaffa juga semakin lengkap dengan hadirnya dukungan dari para sahabat yang percaya pada gerakan kecil ini.

Terima kasih bingkisan dari Pak Deputi 1 Peprusnas, donasi buku dari Majalah CIA dan donasi mainan dari Sedekah Mainan.

Bagi sebagian orang, mungkin buku dan mainan hanyalah benda.
Namun bagi kami, setiap buku yang datang adalah jendela baru bagi anak-anak. Setiap mainan yang diberikan adalah kesempatan bagi mereka untuk belajar sambil bermain.

Dan setiap bentuk dukungan yang datang adalah pengingat bahwa masih banyak orang yang percaya bahwa pendidikan dan literasi layak diperjuangkan.

Dari Ruang Kecil, untuk Mimpi yang Besar

Hari Kunjung Perpustakaan tahun ini kembali mengingatkan kami pada satu hal. Gerakan literasi tidak harus selalu dimulai dari tempat yang besar. Ia bisa dimulai dari ruang kecil.

Dari rumah.
Dari teras.
Dari gang.
Dari taman baca yang mungkin bahkan tidak banyak dikenal orang.

Tetapi selama masih ada orang yang mau membuka pintu, menyalakan lampu, menyusun buku, menemani anak membaca, dan terus percaya pada masa depan mereka, maka gerakan itu akan tetap hidup.

Rumah Baca Zhaffa hanyalah salah satu dari begitu banyak ruang kecil yang sedang berjuang menjaga nyala itu.
Dan kami percaya, ruang kecil bisa melahirkan mimpi yang besar.
Karena itu, untuk seluruh pegiat taman baca masyarakat di mana pun berada:
Jangan merasa kecil.
Jangan merasa apa yang kita lakukan tidak berarti hanya karena kita tidak memiliki gedung besar, anggaran besar, atau fasilitas yang lengkap.

Sebab mungkin, di ruang kecil yang kita jaga hari ini, ada seorang anak yang sedang menemukan alasan untuk bermimpi.

Dan mungkin, sebuah buku yang kita berikan hari ini sedang mengubah arah hidup seseorang di masa depan.

Selamat Hari Kunjung Perpustakaan.
Mari terus hadir.
Mari terus membuka pintu.
Mari terus menyalakan cahaya.

Untuk anak-anak. Untuk buku. Untuk masa depan.

Rumah Baca Zhaffa
Ruang kecil, mimpi besar. (wonkyudy)


Dok. Istimewa

0 comments:

Saatnya Kita Peduli

Mimpi Kita Tentang Ruang Publik JAKARTA, yang Mendukung Kehidupan yang Berkualitas di tumbuhkan dari Sejengkal RUMAH TINGGAL, itulah kami Rumah Baca Zhaffa.

Donasi Untuk kami.
Agar Rumah Baca Zhaffa bisa berkembang dan jumlah buku bisa bertambah serta sarana lebih lengkap, kami mengajak anda para pembaca, donatur. Baik secara individu, organisasi maupun korporat, jangan sungkan-sungkan membantu dan bergabung bersama kami. Kami sangat terbuka untuk kemajuan pendidikan, dukungan anda sangat berarti bagi pendidikan anak Indonesia.
Silahkan kirimkan apa saja, baik baru maupun bekas pakai (tapi masih layak) berupa buku, majalah, buletin, tabloid, mainan edukatif, laptop, infocus, speaker atau dana ke Rumah Baca Zhaffa.

Anda bisa mendongeng, sulap, melukis, tari, operet,teater ataupun apa saja yang bisa meramaikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, kami mengundang anda untuk bergabung menjadi relawan Rumah Baca Zhaffa.
Silahkan kontak kami.

jika ada perusahaan/lembaga yang ingin menyalurkan CSR-nya kami berikan kompensasi , logo perusahaan akan kami sertakan di setiap liflet/poster/spanduk kegiatan. Juga di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com/ dan di lokasi Rumah Baca Zhaffa. Jika ada yang ingin urun rembuk mengatasi dana operasional, berapa saja, dengan senang hati dan bahagia kami menerimanya.
alamat Rb Zhaffa Jl. Menara Air VII NO. 30A RT. 07/011 Manggarai – Jakarta,
Telp 081905098709



Donasi Untuk Rumah Baca Zhaffa.
1. Bank BSI, No Rek:79-9999-4045, A/N RUMAH BACA ZHAFFA, Cabang Sudirman, Jakarta.

Jika anda mentransfer donasi , informasikan kembali kepada kami melalui rumahbacazhaffa@gmail.com atau wonkyudyzhaffa@yahoo.com atau 081905098709 (yudy)