“Hallo Kak, saya Vera yang kemarin sempat ikut kegiatan jalan-jalan di Manggarai. Saya juga gabung di komunitas Goodreads Indonesia. Saya mau mengajak Kakak untuk siaran di Radio Pelita Kasih. Temanya Hari Kunjung Perpustakaan. Apakah Kakak bersedia?”
Pesan itu tiba beberapa waktu setelah kegiatan Jejak Cerita Manggarai yang diselenggarakan Rumah Baca Zhaffa bersama Komunitas TripTis.
Sederhana. Hanya sebuah pesan singkat. Tetapi dari pesan itulah sebuah cerita baru dimulai. Saya kemudian baru menyadari bahwa salah satu peserta Jejak Cerita Manggarai merupakan bagian dari komunitas Goodreads Indonesia. Sebuah pertemuan yang awalnya terjadi ketika menyusuri gang-gang Manggarai ternyata berlanjut ke ruang yang sama sekali berbeda: ruang siaran radio.
Ketika Jalan-Jalan Menjadi Awal Sebuah Pertemuan
Jejak Cerita Manggarai memang sejak awal bukan sekadar kegiatan jalan-jalan. Kami mengajak orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal untuk bersama-sama menyusuri gang-gang kecil di Manggarai, melihat sudut-sudut rumah warga, mengenal bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda, sekaligus menyelami kehidupan masyarakat melalui interaksi secara langsung.
Setiap peserta kemudian membawa pulang cerita yang berbeda. Ada yang tertarik mengabadikan kehidupan masyarakat melalui kamera. Ada yang lebih tertarik memotret bangunan-bangunan tua. Ada pula yang membuat vlog tentang gang-gang sempit yang ternyata masih menyimpan banyak kehidupan.
Di ruang yang terbatas, warga masih bisa merawat tanaman. Masih ada kucing yang berkeliaran, ayam yang dipelihara, bahkan burung-burung merpati yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Tempat yang sama ternyata bisa menghadirkan cerita yang berbeda, tergantung dari mata siapa yang melihatnya. Dan salah satu mata yang melihat Manggarai hari itu adalah mata Vera. Kami mungkin hanya bertemu dalam satu kegiatan. Tetapi ternyata pertemuan itu belum benar-benar selesai.
Dari Gang Manggarai ke Studio Radio
Beberapa waktu kemudian, pesan dari Vera masuk. Ia memperkenalkan dirinya kembali dan mengingatkan bahwa kami pernah bertemu dalam kegiatan Jejak Cerita Manggarai. Ia juga bercerita bahwa dirinya bergabung dengan komunitas Goodreads Indonesia. Lalu datanglah ajakan itu. Mengisi siaran di Radio Pelita Kasih atau RPK FM, dengan tema Hari Kunjung Perpustakaan. Tentu saja saya bersedia. Ada sesuatu yang menarik dari undangan tersebut. Perbincangannya bukan hanya tentang Rumah Baca Zhaffa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang literasi kecil di tengah masyarakat dapat terus hidup dan memberikan manfaat.
Sabtu, 12 September 2026, pukul 10.00–11.00 WIB, akhirnya tiba waktunya saya untuk on air. Seharusnya saya hadir langsung di studio. Namun pada waktu yang bersamaan, Rumah Baca Zhaffa juga sedang melaksanakan kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan bersama pegiat TBM Jakarta dan Deputi I Perpustakaan Nasional. Akhirnya, siaran dilakukan melalui Zoom. Tidak berada di studio bukan berarti mengurangi makna pertemuan. Justru dari layar kecil itu, cerita tentang Rumah Baca Zhaffa bisa kembali berjalan lebih jauh.
Pertanyaan yang Membawa Kembali ke Tahun 2008
Salah satu pertanyaan awal yang muncul adalah:
“Mengapa Rumah Baca Zhaffa didirikan?”
Pertanyaan sederhana yang selalu membawa saya kembali kepada awal perjalanan. Rumah Baca Zhaffa hadir karena kami ingin menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak dan masyarakat untuk belajar, membaca, bermain, berinteraksi, dan mendapatkan pengalaman baru. Sejak awal, kami tidak ingin rumah baca hanya menjadi tempat buku dikumpulkan. Kami ingin ada kehidupan di dalamnya.
Ada anak-anak yang datang.
Ada kegiatan.
Ada percakapan.
Ada orang-orang yang berbagi pengetahuan.
Ada komunitas yang masuk dan ikut menghidupkan ruang.
Namun perjalanan mempertahankan Rumah Baca Zhaffa tentu tidak selalu mudah.
Ada masa jatuh bangun. Ada saat ketika kami harus kembali menguatkan niat, mencari cara agar kegiatan tetap berjalan, dan mengajak anak-anak untuk terus terlibat secara aktif. Pelan-pelan, kami kemudian melihat perubahan. Kemampuan membaca dan menulis anak-anak mulai berkembang. Kepercayaan diri mereka tumbuh. Mereka semakin berani tampil, berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Yang tidak kalah penting, kami melihat tumbuhnya karakter baik dalam diri mereka. Semua itu tentu bukan semata-mata hasil kerja Rumah Baca Zhaffa.
Ada komunitas-komunitas yang hadir di akhir pekan. Ada mahasiswa yang datang melalui kegiatan KKN dan berbagi pengetahuan. Ada relawan. Ada pegiat literasi. Ada pula berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap gerakan literasi di masyarakat. Mereka semua menjadi bagian dari perjalanan Rumah Baca Zhaffa.
Hari Kunjung Perpustakaan dan Napas bagi Taman Bacaan
Dalam siaran tersebut, kami juga berbicara tentang makna Hari Kunjung Perpustakaan. Bagi saya, peringatan ini sangat penting, terutama bagi taman bacaan masyarakat yang tumbuh dan bertahan secara swadaya. Ketika anak-anak datang, ketika komunitas berkunjung, ketika para pegiat literasi hadir dan berinteraksi, ada semangat baru yang terasa. Kehadiran mereka seperti menambah napas bagi perjuangan kami. Dukungan terhadap taman bacaan tidak selalu harus berupa bantuan buku, dana, atau fasilitas. Datang dan melihat langsung aktivitas kami juga merupakan sebuah dukungan. Berinteraksi dengan anak-anak juga merupakan dukungan. Membuat kegiatan bersama juga merupakan dukungan.
Karena dari kehadiran itulah kami merasa bahwa perjuangan menghidupkan literasi tidak dilakukan sendirian. Dan ketika semakin banyak orang datang, semakin beragam pula kegiatan yang dapat dilakukan.
Buku Tidak Harus Diam di Rak
Ada satu hal yang terus kami percaya: Buku tidak seharusnya hanya diam di rak. Buku bisa menjadi awal sebuah percakapan. Buku bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal orang lain. Buku bisa melahirkan diskusi. Buku bisa memunculkan kegiatan kreatif. Dan dari pengetahuan yang dibagikan melalui buku, bisa lahir berbagai gagasan dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Karena itulah taman bacaan masyarakat tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat untuk membaca. TBM adalah ruang yang hidup. Di dalamnya ada anak-anak yang belajar. Ada orang-orang yang bertemu. Ada komunitas yang berkolaborasi. Ada mahasiswa yang berbagi pengetahuan. Ada relawan yang menyumbangkan waktu. Ada diskusi. Ada kreativitas.Ada tawa. Bahkan ada persoalan-persoalan masyarakat yang bisa dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama.
Sebuah Pesan yang Membawa Cerita Lebih Jauh
Jika dipikir kembali, menarik bagaimana sebuah pesan singkat dari Vera bisa membawa perjalanan cerita ini begitu jauh. Semuanya bermula dari sebuah kegiatan jalan-jalan di Manggarai. Dari orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Dari gang-gang kecil, rumah warga, bangunan tua, tanaman, kucing, ayam, dan burung merpati. Lalu pertemuan itu berlanjut menjadi sebuah pesan. Pesan itu membawa kami ke ruang siaran RPK FM.
Dan di sana, kami kembali berbicara tentang Rumah Baca Zhaffa, tentang anak-anak, tentang taman bacaan, tentang buku, dan tentang perjuangan menghidupkan literasi di tengah masyarakat. Mungkin emang seperti itulah literasi bekerja. Ia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia dimulai dari sebuah buku. Dari sebuah percakapan. Dari sebuah pertemuan. Bahkan mungkin dari langkah kaki menyusuri sebuah gang. Lalu cerita itu berpindah dari satu orang kepada orang lainnya. Dan tanpa kita sadari, sebuah pertemuan kecil bisa membuka pintu menuju pertemuan-pertemuan berikutnya.
Terima kasih, Ka Vera.
Sebuah perjalanan di gang-gang Manggarai ternyata tidak berhenti ketika langkah kaki kita sampai di garis akhir. Ia terus berjalan. Kali ini melalui gelombang radio. Dan membawa satu pesan sederhana: Mari terus menghidupkan ruang-ruang literasi. Karena ketika ruang itu hidup, anak-anak dan masyarakat memiliki tempat untuk tumbuh bersama.
Rumah Baca Zhaffa — Ruang kecil, mimpi besar.
(wonkyudy)






0 comments:
Posting Komentar