MENEMUKAN
BRUNEI MELALUI SANG PROFESOR
Oleh:
Yudy Hartanto
Namun sebuah perjalanan ternyata tidak hanya tentang tempat-tempat yang bisa diabadikan untuk mengisi unggahan media sosial. Dalam perjalanan itu, saya justru menemukan Brunei melalui pertemuan dengan seseorang yang sebelumnya tidak pernah saya kenal. Melalui dirinya, saya melihat sisi lain dari Brunei: kesederhanaan dan keramahan masyarakatnya.
Pertemuan itu terjadi ketika kami pertama kali menginjakkan kaki di kampus Universiti Brunei Darussalam (UBD), tempat berlangsungnya Festival Sastera yang kami ikuti. Sejak turun dari kendaraan hingga menaiki anak tangga menuju area pameran festival, kami disambut dengan hangat oleh para mahasiswa UBD. Mereka membantu mengarahkan kami menuju tempat pameran dan memastikan kami merasa nyaman.
Di sela-sela menjaga meja pameran dan menyapa para pengunjung yang datang, kami didampingi oleh seorang mahasiswa bernama Awang. Dialah yang kemudian memperkenalkan kami kepada seorang dosen yang menjadi pengampu kegiatan Festival Sastera tersebut. Perawakannya sangat sederhana namun bersahaja. Ia mengenakan peci hitam khas Melayu dan memiliki kumis tipis. Dari cara mahasiswa-mahasiswanya menyapa, terlihat jelas bahwa ia adalah dosen yang sangat disukai oleh para mahasiswanya.
Namanya Profesor Zefri Arif.
Seorang dosen sastra di Universiti Brunei Darussalam yang kemudian menjadi sosok penting yang membantu kami mengenal Brunei lebih dekat. Kesan pertama saya terhadap Profesor Zefri adalah sosok dosen yang sangat mudah akrab dengan siapa pun. Ketika saya bercerita bahwa kami datang dari Jakarta, ia langsung menanggapi dengan antusias. Ia bahkan mengatakan bahwa dua minggu sebelumnya ia baru saja berada di Jakarta dan bertemu dengan Kepala Dinas Perpustakaan Jakarta, Bapak Nasrudin Djoko.
Percakapan itu langsung membawa kami pada diskusi yang lebih luas tentang gerakan literasi di masing-masing negara, khususnya mengenai misi literasi yang kami bawa dari Jakarta.
Di kesempatan lain, Profesor Zefri juga memperkenalkan kami kepada berbagai tokoh penting yang hadir dalam festival tersebut. Salah satunya adalah Pemangku Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, Yang Mulia Awang Suip bin Haji Abdul Wahab.
Tidak lama kemudian, stan kami juga dikunjungi oleh Dekan UBD, Dr. Hajah Asiah Azzahrah binti Abdullah Kumproh. Pada sesi penutup acara, beliau bahkan mengundang kami untuk makan bersama di ruang makan khusus dan secara langsung menyampaikan terima kasih atas kehadiran kami dalam Festival Sastera tersebut.
Pertemuan-pertemuan ini terasa sangat berarti karena semakin mempererat hubungan budaya antara dua negara yang sama-sama memiliki akar Melayu.
Perjalanan literasi ke Brunei bagi kami akhirnya bukan sekadar memenuhi undangan Festival Sastera. Perjalanan ini berubah menjadi perjalanan budaya yang membuka banyak pengalaman baru. Dan di negeri yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi ini, justru seorang profesor menjadi teman perjalanan yang paling bersahaja.
Sebagai seorang dosen, Profesor Zefri tidak pernah menampilkan dirinya sebagai sosok yang merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalam perjalanan kami bersama, saya bahkan baru mengetahui bahwa ia juga merupakan Duta Bahasa Brunei. Mengetahui hal itu membuat saya semakin kagum terhadap upayanya dalam mengangkat dan menjaga bahasa Melayu agar tetap digunakan dengan baik dan benar serta tetap lestari.
Dalam dunia sastra Melayu, perannya tidak hanya terbatas pada bagaimana membuat mahasiswa mencintai sastra. Ia juga aktif membawa sastra Melayu keluar dari lingkungan kampus. Dosen yang juga menjabat sebagai Ketua Program Kesusastraan Melayu di Fakultas Sastera dan Sains Sosial UBD ini bahkan pernah melakukan aktivitas sastra di salah satu kampus terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia.
Ia adalah sosok akademisi yang tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga aktif di ruang budaya dan komunitas. Hal itu terlihat dari keterlibatannya sebagai ketua sekaligus salah satu pendiri komunitas budaya Kumpulan Putra Seni. Komunitas ini aktif mengajak berbagai kalangan masyarakat untuk melestarikan budaya Melayu melalui seni teater. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum seperti tukang dan mekanik ikut bergabung di dalamnya.
Dalam pendampingannya kepada kami setelah kegiatan Festival Sastera, ternyata Profesor Zefri juga telah menyusun berbagai agenda kunjungan. Salah satunya adalah kunjungan ke kantor Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei. Di sana kami diterima oleh Puan Hajah Hareini Haji Awang Damit selaku Pemangku Timbalan Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, bersama beberapa staf lainnya.
Dalam pertemuan tersebut kami berbagi cerita tentang berbagai kegiatan literasi yang kami lakukan di Jakarta. Mulai dari kegiatan membaca di gang kecil, festival literasi, hingga perpustakaan bergerak yang dijalankan oleh para pegiat literasi. Pihak Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei juga menceritakan salah satu program mereka, yaitu kegiatan pustaka di atas air di kawasan Kampung Ayer yang dijalankan oleh para pustakawan mereka. Saya menyadari bahwa bahasa telah menjadi jembatan persaudaraan Melayu, meskipun kami berasal dari negara yang berbeda.
Perhatian Profesor Zefri selama kami berada di Brunei terasa seperti perhatian seorang saudara jauh yang baru saja kami temui. Bahkan ia sering bertindak seperti seorang tour guide bagi kami. Dengan mengendarai kendaraan elf putih berkapasitas sepuluh orang, ia menjemput kami di hotel sejak pagi hari.
Suatu hari dalam perjalanan menuju komunitas Putra Seni, Profesor Zefri berkata bahwa ia harus menjemput anaknya terlebih dahulu yang baru pulang sekolah. Kami pun ikut menyaksikan momen kecil itu. Ia memperkenalkan anaknya kepada kami dengan penuh kasih sayang. Nama anaknya Wani.
Gadis kecil yang masih duduk di bangku prasekolah itu terlihat sangat ramah. Tidak butuh waktu lama baginya untuk akrab dengan kami. Ia bahkan langsung bermain tebak-tebakan dan bercerita tentang kegiatan sekolahnya.
Dari situ kami melihat sisi lain dari Profesor Zefri: sebagai seorang ayah yang penuh perhatian kepada keluarganya meskipun memiliki banyak kesibukan.
Di kesempatan lain, Profesor Zefri juga mengajak kami mengunjungi sekretariat komunitas Putra Seni yang berada di sebuah kompleks perumahan. Sekretariat tersebut memiliki halaman luas dengan gerbang putih yang sederhana. Di beberapa sudut halaman terdapat kedai kecil yang menjual makanan ringan. Bangunan sekretariatnya sendiri berdinding kayu dengan cat hijau muda yang sedikit memudar di beberapa bagian.
Ketika pintu kaca dibuka, kami disambut hangat oleh para anggota Putra Seni yang sudah menunggu di dalam.
Di dalam ruangan, berbagai properti pertunjukan teater tersusun rapi: replika perahu, properti pohon, berbagai kostum teater, serta alat-alat musik. Profesor Zefri menjelaskan bahwa komunitas ini sering bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka dalam berbagai pertunjukan seni dan teater.
Kami kemudian berdiskusi di sebuah meja panjang yang telah disiapkan. Percakapan berlangsung hangat tentang perkembangan sastra Melayu dan aktivitas seni teater yang mereka jalankan. Kami juga disuguhi berbagai makanan ringan dan minuman.
Yang paling menarik adalah ketika mereka menampilkan sebuah pembacaan puisi dengan konsep teater kecil. Seorang anggota duduk di kursi kayu sebagai seorang lelaki tua yang memegang tongkat sambil melamun. Puisi itu bercerita tentang perjuangan seorang ayah yang telah renta dalam merenungi perjalanan hidupnya.
Karena sambutan itu disiapkan secara spontan, kami pun secara spontan membalasnya dengan membacakan puisi dan berbagi cerita rakyat dari Indonesia.
Di ruangan sastra itu saya merasa bahwa jarak antara dua negara seakan menghilang. Kami sudah menyatu dalam aktivitas yang kami pahami bersama. Dipenghujung pertemuan hari itu tersingkap secara bersama adanya keinginan untuk kita dapat saling terhubung antar penggiat literasi sesame Negara ASEAN. Semoga saja hal ini dapat terwujud kelak
Pada suatu malam, telepon seluler saya menerima pesan dari Profesor Zefri. Sebuah agenda perjalanan telah ia susun dengan rapi lengkap dengan waktu dan lokasi kunjungan. Ia ingin menjamu kami untuk menikmati Brunei Darussalam. Sekali lagi, ia seperti menjadi tour guide bagi kami. Agenda itu mencakup kunjungan ke tempat makan di atas air, museum negara, Kampung Ayer, serta berbagai masjid indah di Brunei. Melalui cara itulah ia memperkenalkan Brunei dengan penuh kebanggaan.
Saya melihat bagaimana kehidupan masyarakat Brunei benar-benar diperhatikan oleh negaranya sehingg membuat nyaman dalam beraktivitas.
Profesor Zefri bukan sekadar pemandu jalan, tetapi pemandu yang benar-benar memahami negerinya. Perjalanan ke Brunei bagi saya akhirnya bukan hanya perjalanan menghadiri Festival Sastera. Perjalanan ini adalah perjalanan yang mempertemukan kami dengan orang-orang baru yang membuat pengalaman tersebut layak untuk dikenang.
Profesor Zefri, meskipun seorang profesor, tidak pernah menunjukkan jarak ketika berbicara dengan siapa pun. Ia tidak melihat jabatan atau status seseorang. Di Brunei saya belajar bahwa seorang profesor ternyata bisa menjadi teman seperjalanan, pemandu kota, bahkan sahabat dalam perjalanan. Dan dari Profesor Zefri, kami menepis cerita yang sebelumnya kami dengar tentang Brunei. Melalui dirinya, kami menemukan Brunei yang lain. (@wonkyudy)





0 comments:
Posting Komentar