Tidak hanya menjadi tempat membaca buku, Rumah Baca Zhaffa juga menjadi ruang belajar bersama, tempat gagasan diuji, metode kegiatan dirancang, dan kolaborasi sosial dipraktikkan secara langsung.
Berulang kali, Rumah Baca Zhaffa menerima kunjungan mahasiswa dari berbagai kampus dan komunitas yang ingin belajar sekaligus melakukan praktik kegiatan sosial bersama anak-anak dampingan. Bagi kami, kunjungan ini bukan sekadar agenda silaturahmi atau kegiatan berbagi kebahagiaan dengan adik-adik. Lebih dari itu, Rumah Baca Zhaffa menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa dan relawan untuk memahami persoalan masyarakat, merancang program, mencoba metode pembelajaran, dan mengevaluasi dampak dari kegiatan yang mereka lakukan.
Dua kegiatan pada Jumat, 23 Oktober 2026, dan Sabtu, 24 Oktober 2026, menjadi contoh bagaimana kolaborasi tersebut tumbuh menjadi proses belajar bersama yang bermakna.
Dari Ide Menjadi Program: Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UNJ dan Jejak Cerita
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, Rumah Baca Zhaffa kedatangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester 3. Kedatangan mereka merupakan bagian dari proses praktik untuk menggali ide dan gagasan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak dampingan.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, kami berdiskusi mengenai kebutuhan dan program yang dapat dikembangkan bersama. Rumah Baca Zhaffa memiliki gagasan program bernama **Jejak Cerita**, yaitu sebuah program literasi yang mengajak anak-anak mendokumentasikan cerita dan pengalaman tentang perjalanan, kehidupan, serta lingkungan tempat mereka tumbuh.
Dari diskusi tersebut, mahasiswa akhirnya sepakat untuk mengembangkan program Jejak Cerita sebagai kegiatan praktik mereka.
![]() |
| Anak menuliskan cerita |
Pada pertemuan pertama, anak-anak diajak mengingat pengalaman ketika bermain permainan tradisional bersama teman-temannya. Mereka diminta menceritakan kembali pengalaman tersebut, menggali hal-hal yang mereka rasakan dan pelajari, serta menemukan nilai-nilai yang muncul dari permainan bersama.
Setelah itu, anak-anak menuliskan cerita mereka di atas kertas. Cerita tersebut kemudian dipresentasikan di depan teman-temannya. Proses ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar menyusun gagasan, mengungkapkan pendapat, dan melatih keberanian berbicara di depan orang lain.
Tahap berikutnya adalah memindahkan cerita yang telah ditulis ke dalam laptop menggunakan Microsoft Word. Anak-anak tidak hanya belajar menggunakan perangkat digital, tetapi juga belajar mengolah pengalaman menjadi sebuah tulisan yang lebih terstruktur.
Pada pertemuan kedua, tulisan-tulisan tersebut direncanakan mulai dirancang menjadi sebuah buku. Dengan demikian, anak-anak dapat melihat bahwa pengalaman sederhana yang mereka miliki ternyata bisa menjadi cerita yang berharga dan layak dibagikan kepada orang lain.
Bagi Rumah Baca Zhaffa, proses ini penting. Anak-anak tidak selalu harus memulai literasi dari buku yang sudah tersedia. Mereka juga bisa belajar dari kehidupan sehari-hari, pengalaman bermain, interaksi dengan teman, dan lingkungan tempat mereka tinggal. Dari sanalah cerita tumbuh dan pengetahuan dibangun. (wonk)
Bersambung...







0 comments:
Posting Komentar