Belajar Waspada dan Melindungi Diri Bersama Anak-Anak Rumah Baca Zhaffa
Sabtu pagi, 19 September 2026, Rumah Baca Zhaffa kembali dipenuhi suara anak-anak.
Ada yang tertawa, ada yang bernyanyi, ada yang sibuk menjawab pertanyaan, dan ada pula yang sesekali masih malu-malu mengangkat tangan. Sekilas, pagi itu seperti kegiatan belajar biasa di Rumah Baca Zhaffa. Namun kali ini ada satu hal penting yang ingin kami titipkan kepada mereka:
Bagaimana cara menjaga diri ketika berada dalam situasi yang tidak aman?
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi bagi kami, jawabannya sangat penting.
Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu kapan seorang anak akan berhadapan dengan situasi yang membuatnya takut, bingung, atau tidak nyaman.
Dan ketika saat itu datang, kita berharap mereka tidak hanya diam.
Kita berharap mereka tahu bahwa mereka boleh berkata "tidak", boleh menjauh, boleh berteriak meminta pertolongan, dan yang paling penting, boleh bercerita kepada orang yang mereka percaya.
Belajar Melindungi Diri Bersama Hijau Foundation
Kegiatan edukasi kali ini merupakan kolaborasi Rumah Baca Zhaffa bersama Hijau Foundation.
Materi diawali oleh Kak Alexa dari Hijau Foundation, yang mengajak anak-anak mengenal pentingnya menjaga diri dan memahami bahwa tubuh mereka adalah sesuatu yang berharga.
Pembahasan disampaikan dengan bahasa sederhana dan dekat dengan keseharian anak.
Anak-anak diajak memahami bahwa mereka memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Ada bagian tubuh yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain.
Pesan tersebut kemudian dikembangkan menjadi pembicaraan mengenai bagaimana anak mengenali situasi yang membuat mereka tidak nyaman, bagaimana menolak, serta bagaimana mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.
Bagi kami, materi ini penting karena perlindungan anak tidak cukup hanya dibicarakan kepada orang dewasa. Anak juga perlu dibekali pengetahuan agar mengenali, memahami, dan berani melindungi dirinya.
Bukan untuk Membuat Anak Takut
Berbicara kepada anak tentang kekerasan seksual dan perlindungan diri tentu bukan perkara mudah. Ada kekhawatiran bahwa materi seperti ini justru membuat anak takut terhadap lingkungan sekitarnya. Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini bukan menakut-nakuti. Anak-anak diajak memahami bahwa dunia di sekitar mereka memang perlu dikenali, tetapi mereka juga memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, Tim Rumah Baca Zhaffa bersama Hijau Foundation terlebih dahulu melakukan diskusi secara daring. Kami membicarakan bagaimana materi ini bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana, sesuai usia anak, tetapi tetap memiliki pesan yang kuat. Kami sepakat bahwa anak tidak cukup hanya diberi tahu. Mereka harus diajak berbicara, bermain, berpikir, dan mencoba mengambil keputusan.
Dimulai dengan Tertawa dan Bernyanyi
Maka pagi itu kami tidak langsung berbicara mengenai hal-hal yang berat. Kami memulainya dengan icebreaking. Bernyanyi bersama. Bermain. Bertanya jawab. Anak-anak dibuat senyaman mungkin. Sebab kami percaya, sebelum anak menerima sebuah pesan penting, mereka harus merasa bahwa ruang tempat mereka belajar adalah ruang yang aman. Dari suasana yang menyenangkan itu, perlahan pembahasan mengenai perlindungan diri mulai diperkenalkan.
"Tubuhku adalah Milikku"
Setelah materi awal disampaikan oleh Kak Alexa, anak-anak kemudian diajak memahami kembali pesan tersebut melalui sebuah dongeng. Kali ini, Ka Winda dan Kayla, relawan Rumah Baca Zhaffa, membawakan cerita tentang seorang anak bernama Rara. Rara sedang mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas.
Hari itu, Bu Guru mengajarkan sebuah materi penting:
"Tubuhku adalah Milikku."
Dalam dongeng tersebut, Rara belajar bahwa tubuhnya sangat berharga dan harus dijaga. Ia mulai memahami bahwa tidak semua orang boleh menyentuh tubuhnya sembarangan. Kemudian Rara mengajukan sebuah pertanyaan kepada Bu Guru.
"Kalau ada orang yang kita tidak kenal, bagaimana, Bu Guru?"
Pertanyaan Rara menjadi pintu masuk untuk membahas situasi yang mungkin ditemui anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Bu Guru kemudian menjelaskan kepada Rara bahwa ia harus selalu berhati-hati dan memahami batasan tubuhnya.
Tubuh kita berharga.
Tidak boleh sembarang orang menyentuhnya. Dan ketika ada tindakan yang membuat kita tidak nyaman, kita memiliki hak untuk menolak dan mencari pertolongan. Pesan dalam dongeng tersebut juga mengajak anak memahami bahwa kewaspadaan tidak hanya diperlukan ketika berada di luar rumah. Bahkan orang dewasa yang berada di lingkungan dekat anak pun tetap harus menghormati batasan tubuh anak. Karena itu, anak perlu memahami bahwa kedekatan seseorang bukan berarti ia otomatis boleh melakukan apa saja terhadap tubuh anak.
Ketika Dongeng Menjadi Ruang Belajar
Cara penyampaian melalui dongeng membuat suasana belajar menjadi berbeda. Anak-anak tidak merasa sedang mendengarkan ceramah. Mereka sedang mengikuti cerita. Ada Rara. Ada Bu Guru. Ada pertanyaan. Ada situasi yang harus dijawab. Dan tanpa disadari, mereka sedang belajar mengenai perlindungan diri. Inilah salah satu kekuatan mendongeng.
Pesan yang terkadang sulit disampaikan secara langsung dapat masuk melalui sebuah cerita yang sederhana dan mudah dipahami anak. Ka Winda dan Kayla tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga mengajak anak-anak merespons situasi yang dialami Rara.
"Kalau kamu menjadi Rara, apa yang akan kamu lakukan?"
Pertanyaan seperti itu membuat anak-anak mulai berpikir.
Mereka belajar bahwa dalam situasi tertentu, mereka dapat berkata tidak, menjauh, berteriak meminta bantuan, dan menceritakan kejadian tersebut kepada orang yang dipercaya.
"Kalau Tidak Bisa Cerita kepada Ayah dan Ibu, Cerita kepada Siapa?"
Setelah cerita selesai, anak-anak kemudian diajak berdiskusi.
Kami bertanya:
"Kalau kalian punya masalah, biasanya cerita kepada siapa?"
Jawaban anak-anak beragam.
Ada yang menjawab ayah.
Ada yang menjawab ibu.
Ada yang menyebut kakak.
Ada yang mengatakan paman atau tante.
Ada pula yang menyebut guru.
Salah satu jawaban anak membuat kami berhenti sejenak.
Ketika ditanya siapa orang yang paling dipercaya, ada anak yang menyebut kakek.
Bukan ayah.
Bukan ibu.
Kakek.
Kami tentu tidak ingin buru-buru menyimpulkan apa pun. Sebab kita tidak pernah tahu cerita lengkap di balik sebuah jawaban anak. Mungkin ia memang tinggal bersama kakek. Mungkin kakek adalah orang yang paling dekat dengannya. Atau mungkin ada cerita lain yang belum pernah ia sampaikan. Dan di situlah kami kembali diingatkan:
Setiap anak memiliki cerita yang berbeda.
Tidak semua anak tumbuh dalam kondisi keluarga yang sama.
Karena itu, ketika kita berbicara mengenai perlindungan anak, kita tidak cukup hanya mengatakan:
"Kalau ada apa-apa, cerita kepada orang tua."
Kita perlu memperluasnya.
"Carilah orang dewasa yang kamu percaya."
Bisa ayah.
Bisa ibu.
Bisa kakek atau nenek.
Bisa guru.
Bisa orang dewasa lain yang memang dapat memberikan perlindungan.
Yang terpenting, anak tahu bahwa ketika sesuatu terjadi, ia tidak sendirian.
Tubuh Kita, Batas Kita
Materi kemudian masuk pada pembahasan mengenai tubuh dan batas pribadi. Anak-anak dikenalkan bahwa ada bagian tubuh yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain. Tetapi kami tidak ingin materi berhenti sebagai hafalan. Maka anak-anak diajak bermain. Kami menggunakan kartu berwarna dan kartu situasi. Salah satu pertanyaannya kurang lebih seperti ini:
"Kalau ada seseorang menyentuh bagian pribadi tubuhmu, apakah boleh?"
Anak-anak harus memilih.
Merah berarti tidak boleh.
Hijau berarti boleh.
Namun permainan tidak berhenti pada pilihan warna.
Ketika ada jawaban yang berbeda, anak tidak langsung disalahkan.
Kami bertanya:
"Kenapa kamu memilih jawaban itu?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi pintu untuk berdiskusi. Anak memiliki kesempatan untuk menjelaskan pemikirannya, sementara fasilitator membantu meluruskan pemahaman dengan bahasa yang mudah mereka mengerti.
Bagaimana Kalau Ada yang Mengajak Pergi?
Kartu berikutnya memberikan situasi lain. Misalnya, ada seseorang yang mengajak anak pergi ke tempat sepi hanya berdua.
Apakah boleh ikut?
Jika tidak, lalu apa yang harus dilakukan?
Anak-anak diajak mencari jawabannya.
Menolak.
Menjauh.
Berteriak meminta bantuan.
Mencari orang dewasa yang dipercaya.
Dan menceritakan apa yang terjadi.
Di sini kami ingin menanamkan satu hal sederhana: Anak tidak harus selalu menurut ketika sesuatu membuat mereka merasa tidak aman.
Anak boleh mengatakan tidak.
Anak boleh pergi.
Anak boleh meminta bantuan.
Anak boleh bercerita.
Kadang Anak Tidak Tahu Bahwa Ia Sedang Berada dalam Bahaya
Ancaman terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk seseorang yang terlihat menakutkan.
Kadang justru datang dalam bentuk bujukan.
"Ikut saya, nanti saya kasih sesuatu."
"Jangan bilang siapa-siapa."
"Kita cuma sebentar."
Atau bahkan ancaman:
"Kalau kamu cerita, nanti kamu akan dimarahi."
Karena itu, kemampuan anak untuk mengenali situasi menjadi penting. Bukan supaya mereka menjadi takut kepada semua orang. Tetapi supaya mereka memiliki alarm kewaspadaan di dalam dirinya. Ketika sesuatu terasa tidak nyaman, anak perlu tahu bahwa perasaan tersebut boleh disampaikan.
Literasi Tidak Hanya tentang Membaca Buku
Bagi Rumah Baca Zhaffa, kegiatan seperti ini juga mengingatkan kami bahwa makna literasi jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan untuk memahami informasi. Mengenali lingkungan. Membaca situasi. Mengambil keputusan. Dan mengetahui kapan harus meminta bantuan. Anak yang mampu membaca buku tentu penting. Tetapi anak yang mampu "membaca keadaan" juga tidak kalah penting.
Ketika seorang anak mampu mengatakan:
"Saya tidak nyaman."
"Saya tidak mau."
"Saya akan pergi."
"Saya akan mencari bantuan."
dan
"Saya akan menceritakan apa yang terjadi."
maka sesungguhnya ia sedang belajar sebuah bentuk literasi yang sangat penting: literasi perlindungan diri.
Sebuah Pesan untuk Orang Dewasa
Ada satu hal yang juga perlu kita renungkan sebagai orang dewasa. Sering kali kita meminta anak untuk bercerita. Tetapi apakah kita benar-benar siap mendengarkan? Ketika anak mengatakan sesuatu yang membuat kita terkejut, apakah kita akan langsung menyalahkan?
Apakah kita akan mengatakan:
"Kok kamu tidak melawan?"
"Kenapa kamu mau ikut?"
"Kenapa baru cerita sekarang?"
Atau kita akan mengatakan:
"Terima kasih sudah mau cerita kepada saya."
Mungkin kalimat kedua jauh lebih dibutuhkan oleh seorang anak. Sebab keberanian seorang anak untuk bercerita adalah sesuatu yang harus dijaga. Jangan sampai ketika akhirnya ia berani membuka cerita, respons orang dewasa justru membuatnya memilih diam.
Dari Manggarai, Sebuah Pesan Kecil untuk Kita Semua
Kegiatan pada Sabtu pagi, 19 September 2026, mungkin hanya berlangsung selama dua jam. Anak-anak bermain. Bernyanyi. Mendengarkan materi dari Kak Alexa dari Hijau Foundation. Mengikuti dongeng Rara yang dibawakan oleh Ka Winda dan Kayla. Menjawab pertanyaan. Mengangkat kartu merah dan hijau. Tertawa bersama. Namun kami berharap ada satu pesan yang tetap mereka bawa pulang:
Tubuh mereka berharga.
Tubuh mereka adalah milik mereka.
Mereka memiliki batas.
Mereka boleh berkata tidak.
Mereka boleh menjauh dari situasi yang membuat mereka tidak nyaman.
Dan ketika sesuatu terjadi, mereka harus mencari orang yang dipercaya dan berani bercerita. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan mereka hadapi di luar sana. Tetapi kita bisa mempersiapkan mereka.
Bukan dengan ketakutan.
Melainkan dengan pengetahuan, keberanian, dan rasa percaya bahwa selalu ada orang yang akan mendengarkan dan membantu. Dari Rumah Baca Zhaffa, kami percaya bahwa menjaga anak bukan hanya tugas satu orang. Ia adalah tanggung jawab kita bersama. Dan mungkin, pendidikan perlindungan diri bisa dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana:
"Kalau suatu hari kamu mengalami sesuatu yang membuatmu takut atau tidak nyaman, kepada siapa kamu akan bercerita?"
Semoga setiap anak memiliki jawabannya.
Dan semoga, ketika hari itu benar-benar datang, mereka cukup berani untuk mengatakannya.
Terima kasih kepada Hijau Foundation, Kak Alexa, Ka Winda, Kayla, para relawan, dan seluruh anak-anak Rumah Baca Zhaffa yang telah menjadikan pagi itu sebagai ruang belajar bersama.
Karena di balik sebuah cerita, permainan, dan tawa anak-anak, selalu ada harapan: semoga mereka tumbuh menjadi anak yang tahu cara menjaga dirinya, berani bersuara, dan tahu bahwa mereka tidak pernah sendirian.
Rumah Baca Zhaffa
Ruang kecil, mimpi besar.
(wonkzhaffa)






0 comments:
Posting Komentar