Masjid Darussalam, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Minggu (20/09/2026)
Selepas Ashar, suasana Masjid Darussalam, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, tampak ramai. Anak-anak mulai berdatangan, begitu pula para relawan yang sudah bersiap untuk mengikuti kegiatan edukasi literasi.
Hari itu, Indonesia Aksi Relawan (IAR) mengadakan kegiatan edukasi bersama anak-anak. Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik adalah hadirnya tim Rumah Baca Zhaffa (RBZ) untuk berbagi materi tentang literasi.
Yudy Hartanto dan Neli Siswanti, pendiri Rumah Baca Zhaffa, hadir bersama Kayla, salah satu relawan yang aktif berkegiatan di Rumah Baca Zhaffa.
Suasana kegiatan terasa akrab sejak awal. Para relawan IAR membuka kegiatan dengan ice breaking yang membuat anak-anak lebih bersemangat. Setelah itu, anak-anak diajak berkenalan satu sama lain sebelum memasuki sesi materi.
Laptop kemudian disambungkan ke layar proyektor. Saat semua sudah siap, sesi Rumah Baca Zhaffa pun dimulai.
Mengenal Rumah Baca Zhaffa
Bunda Neli membuka sesi dengan memperkenalkan Rumah Baca Zhaffa kepada anak-anak.
Bukan hanya tentang nama, anak-anak juga diajak mengenal apa yang dilakukan Rumah Baca Zhaffa, di mana lokasinya, serta berbagai kegiatan yang selama ini dilakukan bersama anak-anak dan masyarakat.
Setelah perkenalan singkat, tibalah saatnya membahas satu kata yang mungkin sering mereka dengar, tetapi belum tentu mereka pahami secara utuh:
Literasi.
Literasi Itu Apa, Sih?
Karena peserta yang hadir berusia sekitar 6 hingga 13 tahun, materi sengaja dibuat sederhana, ringan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi waktu yang tersedia cukup terbatas. Karena itu, kami tidak ingin anak-anak hanya duduk mendengarkan penjelasan. Kami ingin mereka berpikir, bermain, bertanya, menemukan jawaban, dan berani menyampaikan pendapat.
Yudy kemudian mencoba menjelaskan literasi dengan kalimat sederhana:
“Literasi adalah memahami, berpikir, dan melakukan tindakan untuk digunakan dalam kehidupan.”
Literasi ternyata ada di mana-mana. Tidak selalu harus berhubungan dengan buku. Anak-anak kemudian diajak melihat contoh sederhana yang ada di sekitar mereka.
Misalnya terdapat tulisan:
“Dilarang membuang sampah di lingkungan!”
Apa yang dilakukan ketika melihat tulisan tersebut?
Pertama, kita membaca dan memahami apa yang tertulis.
Kemudian kita berpikir. Mengapa kita dilarang membuang sampah sembarangan? Karena jika sampah dibuang sembarangan, lingkungan menjadi kotor dan dapat menimbulkan berbagai masalah.
Lalu kita bertindak. Setelah memahami pesan tersebut, kita memilih untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Sesederhana itu.
Itulah salah satu contoh literasi dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi adalah kemampuan untuk memahami informasi, berpikir terhadap informasi tersebut, kemudian mengambil tindakan yang tepat.
Saatnya Menjadi Detektif Literasi!
Agar semakin menarik, anak-anak kemudian diajak bermain sebuah permainan. Hari itu mereka bukan sekadar peserta kegiatan. Mereka menjadi detektif. Anak-anak diberikan sebuah cerita tentang hilangnya sebuah buku. Tugas mereka adalah mencari tahu:
Siapa saja yang diduga terlibat?
Apa saja petunjuk yang ditemukan?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Siapa yang kemungkinan menghilangkan buku tersebut?
Dan yang paling penting, apa buktinya?
Anak-anak membaca cerita yang diberikan, kemudian mulai berdiskusi. Dari permainan tersebut, mereka diajak memahami bahwa menjadi seorang detektif tidak cukup hanya dengan menebak. Seorang detektif harus membaca dengan teliti, mencari informasi, mengajukan pertanyaan, memperhatikan petunjuk, kemudian membuat kesimpulan berdasarkan fakta.
Begitu pula dengan literasi. Ketika kita membaca sesuatu, kita tidak boleh langsung percaya atau asal menyimpulkan. Kita perlu memahami informasi yang kita baca, melihat fakta atau referensi yang tersedia, kemudian mengambil kesimpulan.
Bukan sekadar dugaan. Bukan asal menebak.
Seperti seorang detektif yang mencari kebenaran berdasarkan petunjuk, orang yang literat juga belajar mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dipahaminya.
Berani Membaca, Berani Menjawab
Setelah permainan selesai, anak-anak diajak menjelaskan kembali apa yang mereka pahami tentang literasi. Beberapa anak dengan berani maju ke depan untuk menjawab. Menariknya, keberanian mereka untuk tampil juga mendapatkan apresiasi. Rumah Baca Zhaffa memberikan buku cerita kepada anak-anak yang berani maju dan berbagi jawaban. Bukan semata-mata karena jawabannya benar. Tetapi karena keberanian untuk berbicara, mencoba, dan menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya adalah bagian penting dari proses belajar.
Tiga Kata, Satu Cerita
Permainan berikutnya tidak kalah menarik. Anak-anak diminta membuat cerita singkat berdasarkan tiga kata:
Hujan – Kucing – Kotak Misteri.
Mereka kemudian berdiskusi dalam kelompok. Tiga kata sederhana tersebut ternyata bisa melahirkan begitu banyak cerita. Ada yang membuat cerita penuh misteri. Ada yang lucu. Ada pula yang membuat kisah tentang seekor kucing yang menemukan sesuatu di dalam sebuah kotak saat hujan turun. Anak-anak bebas menggunakan imajinasi mereka.
Satu per satu tangan mulai terangkat.
Mereka ingin maju dan menceritakan hasil cerita kelompoknya.
Di sinilah kami melihat bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca tulisan, tetapi juga bagaimana anak mampu mengolah informasi, berpikir, berimajinasi, menyusun gagasan, dan menyampaikannya kepada orang lain.
Literasi Ada di Sekitar Kita
Kegiatan sore itu mungkin hanya berlangsung singkat. Namun dari sebuah permainan sederhana, anak-anak belajar banyak hal. Mereka belajar bahwa untuk menjadi seseorang yang literat, kita perlu:
Membaca.
Memahami.
Bertanya.
Berpikir.
Mencari fakta.
Menyimpulkan.
Dan berani menyampaikan apa yang kita pahami.
Seperti seorang detektif.
Seorang detektif tidak asal menunjuk siapa yang bersalah. Ia mencari petunjuk, membaca informasi, menghubungkan fakta, kemudian mengambil kesimpulan. Begitu pula dengan kehidupan sehari-hari. Ketika mendapatkan sebuah informasi, jangan langsung percaya.
Baca. Pahami. Pikirkan. Periksa. Kemudian bertindak.
Itulah literasi.
Dan ternyata, belajar literasi bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Bisa melalui cerita.
Bisa melalui permainan.
Bisa melalui diskusi.
Bisa melalui imajinasi.
Bahkan bisa dengan bermain menjadi detektif.
Menanamkan Literasi Sejak Dini
Melihat antusiasme anak-anak sore itu, kami kembali diingatkan bahwa menanamkan budaya literasi tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang serius dan kaku. Anak-anak membutuhkan ruang untuk bermain sekaligus belajar. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bertanya. Mereka membutuhkan kesempatan untuk salah dan mencoba kembali. Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan orang-orang dewasa yang mau mendengarkan gagasan mereka.
Semoga kegiatan sederhana bersama Indonesia Aksi Relawan ini dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dan meninggalkan satu pesan kecil bagi anak-anak:
Bahwa membaca bukan sekadar mengeja kata.
Literasi bukan sekadar membaca buku.
Literasi adalah bagaimana kita memahami dunia, berpikir dengan kritis, dan mengambil tindakan dalam kehidupan.
Terima kasih Indonesia Aksi Relawan atas kesempatan bagi Rumah Baca Zhaffa untuk berbagi.
Semoga semakin banyak ruang belajar yang tumbuh, semakin banyak anak yang berani bertanya, berani membaca, berani berpikir, dan berani menyampaikan gagasannya.
Karena dari ruang-ruang kecil seperti inilah, mimpi-mimpi besar bisa tumbuh.
Rumah Baca Zhaffa
Ruang kecil, mimpi besar.
(wonkzhaffa)







0 comments:
Posting Komentar